AES014 Rindu Kampung Halaman (1)
ahkam
Monday May 31 2021, 11:30 PM
AES014 Rindu Kampung Halaman (1)

Anak-anak muda, merantaulah. Hanya dengan merantau kita bisa mengalami homesick. Suatu perasaan yang sungguh indah. Kerinduan pada sanak saudara dan handai tolan, kepada tanah dan udara, budaya, serta makanan khas kampung tercinta. Hal-hal biasa yang kita jumpai sehari-hari di kampung akan menjadi luar biasa setelah kita jauh darinya.

Lubuk Sikaping terletak di kabupaten Pasaman. Sebuah daerah di perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. (Secara administratif masuk ke dalam provinsi Sumatera Barat.) Pasaman adalah pertemuan dua budaya. Orang-orangnya ada yang bermarga Batak (seperti saya), ada yang bersuku Minangkabau. Kalau pernah mendengar nama belakang “Caniago”, itu adalah salah satu suku Minang. Kami di Pasaman umumnya bilingual, bisa bahasa Minang dan Mandailing.

Seratus meter dari rumah saya, mengalir sungai Batang Sumpu. Di sepanjang badan sungai terdalam tempat bermukim ikan-ikan besar, berlaku tradisi uduah. Ketika saya cek di KBBI ternyata kata uduah sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “uduh”. Lema di kamus: uduh n Mk ramuan obat yang dipakai sebagai penangkal (dipasang di kebun dan sebagainya supaya pencuri tidak dapat masuk).

Tapi cerita yang saya dapatkan waktu kecil berbeda dengan di KBBI itu. Uduah adalah kekuatan magis yang dibenamkan ke bagian sungai yang “terlarang”. Tetua sakti merapalkan mantra untuk menjaga ikan-ikan dari batas hulu hingga ke batas hilir yang ditetapkan. Orang tidak boleh mengambil ikan dari bagian sungai yang diuduh. Di luar batas uduh dibolehkan. Apabila melanggar, orang yang makan ikannya bakalan kualat. Perutnya buncit dan sakit.

Sekali setahun desa kami merayakan festival rakyat “Lapeh Larangan”. Uduh dicabut. Aji-aji cabar sehari. Warga kampung berkumpul di tepian sungai, menonton orang-orang menjala ikan sejak pagi hingga petang. Hasil tangkapan Lapeh Larangan kemudian dibeli para pengunjung. Sebelum menuliskan esai ini saya bertanya pada teman di kampung: ternyata tradisi uduah dan Lapeh Larangan masih bertahan sampai sekarang.

 

"A poem begins as a lump in the throat, a sense of wrong, a homesickness, a lovesickness."— Robert Frost

You May Also Like