AES 13 - Pro-Duduk-tivitas
Jeremia Manurung
Wednesday August 11 2021, 10:35 PM
AES 13 - Pro-Duduk-tivitas


Kemarin saya dan tiga orang teman berbincang tentang produktivitas. Uniknya perbincangan itu terjadi dalam setting online. Tidak terbayang bahwa pertemuan yang awalnya direncanakan hanya untuk bertemu teman lama dan saling cerita perkembangan kehidupan, bisa melangkah ke arah yang cukup serius.

Sebagaimana perbincangan update atau catch up kehidupan, 10% pembicaraan adalah seputar siapa pasangan saat ini, pekerjaan, proyek, bisnis, dan rencana-rencana ke depan. Sisa 90% membicarakan memori indah dan ngomongin orang alias teman-teman seangkatan lainnya haha. Dari perbincangan tentang pekerjaan inilah kemudian berkembang perbincangan seputar produktivitas.

Awalnya salah satu dari kami (selanjutnya disebut si sibuk) bercerita bahwa akhir-akhir ini dia sulit menemukan waktu istirahat. Meskipun demikian, dia mengaku senang menjalaninya dan tidak merasa tertekan. Teman yang lain (sebut saja Broto) kemudian menanggapi dengan bertanya apakah dia mengalami hidup yang seimbang atau tidak. Si sibuk sendiri pun bingung karena menurutnya secara mental dia merasa senang dan tidak tertekan namun secara fisik, dia mengaku kelelahan. Di situlah percakapan dimulai.

Teman yang lain lagi (sebut saja Bowo) berkata bahwa si sibuk ini hebat sekali karena dia sangat produktif. Namun Broto menanggapi bahwa hati-hati mendefinisikan produktivitas. Bagi Broto, produktivitas itu bukan hanya tentang seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan. Produktivitas adalah tentang seberapa banyak yang kita hasilkan. Baginya istirahat dan rekreasi adalah produktivitas. Kegiatan ini menghasilkan kesenangan dan jeda recovery bagi tubuh.

Saya tidak setuju dengan Broto. Saya menyempitkan arti produktivitas sebagai barang atau jasa yang bisa kita hasilkan. Produktivitas harus bisa divalidasi dan dideteksi bukan hanya oleh diri kita tapi juga orang lain. Saya memilih membedakan aktivitas produksi dengan aktivitas rekreasi. Saya sepakat bahwa hidup harus seimbang namun tidak sepakat bahwa istirahat dimasukkan ke dalam kategori produktif. Buat saya itu sesat pikir. Justru kalau istirahat dimasukkan ke dalam kategori produktif, jadi terkesan bahwa produktivitas itu mencakup semua aktivitas kita. Seolah-olah, semua aktivitas jadi berada dalam naungan definisi produktif.

Dari sana percakapan berkembang tentang bagaimana mengelola tidur, rutin baik yang perlu dibiasakan, olahraga, dan seterusnya. Akhirnya kami sepakat bahwa yang paling penting sebenarnya keseimbangan berbagai aspek. Kalau pendidikan holistik mengenal perkembangan kepala, tangan, hati, kehidupan juga perlu menjaga keseimbangan ketiga hal tersebut. Meskipun hati senang, tapi tangan bekerja terus tentu tidak sehat bagi tubuh. Diperlukan waktu jeda bukan hanya untuk beristirahat. Tapi untuk tetap hidup utuh sebagai manusia. Manusia tidak pernah benar-benar diam dalam istirahatnya. Jeda itu penting untuk memeriksa kembali diri kita dan kehidupan kita. Penting juga untuk bisa melakukan istirahat yang murni. Istirahat yang tidak ada embel-embel “supaya nanti bisa lebih produktif”. Di situ bedanya kita dan mesin. Diam dan istirahatnya mesin adalah tentang menjaga produktivitas. Diam dan istirahatnya manusia adalah tentang refleksi dan mengevaluasi baik secara sadar atau tidak. Lebih baik kalau bisa secara sadar siiih....