AES#70 Dealing With Trauma
Natasha Setyamukti
Wednesday September 15 2021, 8:14 AM
AES#70 Dealing With Trauma

Belakangan ini rasanya banyak berita yang kurang menyenangkan ya? Beberapa di antaranya justru membuat pembaca merasa nggak nyaman karena topiknya yang sensitif, terutama bagi yang memiliki trauma berkaitan dengan topik-topik tersebut. So, let’s talk about Trauma and How To Deal With It. 

Trauma adalah respon seseorang terhadap suatu kejadian buruk. Beberapa bentuknya dapat berupa:

  • Kebingungan atau linglung
  • Marah
  • Kecemasan
  • Perasaan bersalah
  • Kesulitan tidur
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Sakit kepala
  • Detak jantung yang cepat

Normalnya, respon tersebut dapat muncul hingga kurang lebih sebulan setelah kejadian. Jika kemunculan respon sudah melebihi satu bulan dan kamu merasa terganggu, segera konsultasikan kepada psikolog atau konselor yaa.

Berdasarkan penyebabnya, trauma bisa dibagi menjadi:

  • Acute trauma: Disebabkan oleh satu kejadian buruk.
  • Chronic trauma: Disebabkan oleh kejadian buruk yang berulang.
  • Complex trauma: Disebabkan oleh beberapa kejadian buruk.

Kejadian traumatis itu sendiri dapat berasal dari kejadian yang menyerang fisik maupun psikologis korban, seperti…

Fisik 

Psikologis

Kekerasan fisik 

Kematian orang yang dicintai 

Bencana alam 

Bullying 

Penyakit parah 

Pasangan yang selingkuh 

Pelecehan seksual 

Pengabaian dari keluarga dan lingkungan dekat 

How To Handle Your Trauma: 

  • Fokus pada saat ini.

Meskipun tidak mudah untuk dilakukan, berusaha untuk meresapi hal baik yang terjadi saat ini dapat membantumu merasa lebih tenang. Dengan memfokuskan diri pada saat ini, perlahan kamu dapat terlepas dari perangkap masa lalu.

  • Kembali ke rutinitas.

Mengonsumsi makanan yang sehat, cukup tidur, dan berolahraga secara teratur dapat membantumu kembali ke rutinitas. Selain itu, kamu juga bisa mulai melakukan hal-hal yang kamu sukai, untuk meredakan stres.

  • Coba untuk menerima diri.

Rasa bersalah, malu, marah, kecewa, dan sedih memang wajar dialami saat trauma. Namun, seringkali kita malu untuk mengakuinya. Dengan berusaha menerima perasaan-perasaan tersebut, kamu juga akan mempermudah proses pemulihan diri. 

  • Cari bantuan.

Mencari bantuan di masa sulit bukanlah hal yang memalukan. Bercerita kepada orang terdekatmu dapat membantu mengurangi perasaan sendiri dan/atau kesepian. Selain orang terdekat, kamu juga bisa berkonsultasi kepada tenaga profesional.

Sedihnya, memang masih banyak orang yang berpikir bahwa pergi ke psikolog berarti “gila”. Padahal, sama halnya dengan saat pergi ke dokter, kamu tidak perlu mengalami “sakit” berat untuk berkonsultasi dengan psikolog. 

Jadi, jangan menganggapnya sebagai aib, ya! Alih-alih menjadi seorang yang lemah, mencari bantuan ke tenaga profesional justru menandakan bahwa kamu siap untuk menjadi dirimu yang lebih baik.

You May Also Like