AES050 Uji Nyali
yulitjahyadi
Wednesday October 13 2021, 10:06 PM
AES050 Uji Nyali

Aku baru saja selesai membeli beberapa barang titipan teman dari sebuah supermarket dan mendapat ide untuk menulis sesuatu dari sana.  

Sudah lama rasanya ga 'uji nyali' di supermarket besar. Kami suka bercanda begitu karena memang lorong-lorongnya penuh dengan godaan. Produk-produk yang dijual memang sengaja ditata sedemikian rupa untuk menggugah minat berbelanja. Produk mana yang diletakkan di rak yang paling depan, mana yang di rak bagian mana, bagian mana yang dekat bagian mana dan lain sebagainya, semuanya pasti ada studinya mengapa jadi begitu pengaturannya.

Setidaknya itu yang aku rasakan selama berkutat dengan urusan menata barang di toko. Tatanan tertentu pasti dievaluasi efeknya terhadap penjualan, dan memang tatanan yang menarik minat pasar itu cukup signifikan pengaruhnya terhadap daya jual barangnya. Jadi barang yang bagus, tanpa penataan yang bagus pun belum tentu berdaya jual tinggi jika tidak tampi apik.

Satu barang juga tidak bisa berdiri sendiri dan perlu ditata bersama barang lainnya agar saling menunjang dalam penampilan tatanan dan menambah daya jualnya satu sama lain.

Tatanan selalu berkaitan pula dengan lokasi dan jalur sirkulasi. Dua hal ini penting juga karena menyangkut 'traffic'. Lalu lalang orang akan mempengaruhi  tingkat kemungkinan barang itu dilihat dan dibeli orang. Oleh karena itu di supermarket ada tarif tersendiri bagi suplier barang untuk rak-rak display yang spesial, misalnya rak dengan ketinggian tepat di pandangan mata, rak yang ada di awalan lorong, dan rak di dekat kasir. Lalu juga area pajang dekat pintu masuk dan area pajang lain yang tingkat potensi daya jualnya lebih tinggi dibandingkan yang lain. Semua itu adalah lahan basah dengan   daya jual barang yang tinggi.

Sebetulnya esai ini bukan tentang pajangannya saja tapi juga soal ketahanan mental yang dibutuhkan saat belanja di supermarket. Setidaknya menurut pengalamanku, menyusuri lorong demi lorong supermarket itu seperti bertarung melawan godaan keinginan, apalagi jika tanpa daftar belanja yang jelas. 

Dulu waktu pertama kali berniat mengurangi jajan produk kemasan, setiap kali tergoda untuk membeli, aku pegang barangnya, baca tulisan di kemasannya yang menjelaskan kandungan isinya, lalu berkata pada diri sendiri, 'Ga usah', kadang sekilas teringat rasa dari produk itu, sesudahnya dikembalikan ke rak dan berlalu. Setiap kali berhasil menahan diri rasanya seperti berhasil melepaskan sesuatu.

Memang bukan sesuatu yang mudah. Sampai sekarang pun masih suka jajan ke minimarket atau supermarket, meski dibatasi frekuensi dan jumlah barang yang dibelinya. Lebih sering mengingatkan diri sendiri kalau itu sifatnya hanya hiburan sehingga sengaja tidak berkunjung kecuali memang ada keperluannya. 

Jadi pandemi ini sebetulnya sangat membantu, secara otomatis jarang pergi ke sana dan lebih sering belanja melalui aplikasi yang sesuai kebutuhan saja. Camilan kemasan sekarang pun sudah jarang dibeli. Sebagai gantinya ditambahkan waktu di dapur untuk bikin kudapan.

Repot sedikit tak apa lah.. demi...

You May Also Like