-
Posting TerkiniSubuh-subuh aku sudah terbangun jam 5 pagi, dan rasa cape bekas latihan dance semalam masih sangat terasa. Tapi, aku harus tetap memaksakan diri demi tujuan utamaku hari ini, yang sampai membuatku izin pulang duluan dari kegiatan penjelajahan....Comments 1 LikesSetelah kelas dance selesai, aku langsung membuka hp dan melihat ada notifikasi masuk dari Kak Gina. Ternyata Kak Gina berubah pikiran untuk pergi ke Solo. Menurutnya, ongkos tiket pergi ke sana agak kurang worth it jika dibandingkan dengan waktu...Comments 2 LikesDay 17, 21 Mei Hari yang kuhindari akhirnya telah tiba, hari kepulangan huhuhu padahal aku udh betah bgt disini. Syukurnya kemarin malam kami ke rumah pak muh dan istrinya kasih tau kami kalau hr ini jam setengah 6 pagi ada acara sapu” bersihin...Comments 1 LikesPagi hari berjalan seperti biasa, kami membuka kelas dan memulai aktivitas sesuai jadwal. Lalu tiba-tiba, sekitar jam 11 siang sebelum waktu makan siang tiba, Mba Ika dan Mas Ahmad datang ke rumah kami. Kedatangan mereka ternyata untuk...Comments LikesKami sudah menentukan dalam seminggu sekali, kami memiliki satu hari libur, dan kami memilih hari Senin sebagai hari libur tersebut. Maksud dari hari libur ini adalah kebebasan dari rutinitas yang biasa kami jalani di hari lainnya. Jadi, kalau ada...Comments LikesHari yang ditunggu-tunggu telah tiba! Akhirnya hari gelaran Pasar Papringan datang juga, yeeeyy! Kami sudah bangun sekitar jam 05.00 pagi karena pasarnya sendiri dibuka tepat jam 06.00. Jadi, kami harus sudah sampai di sana sebelum jam segitu....Comments 1 Likesmaaf aku lupa untuk menceritakan keberangkatan di aes, jadi inilah keberangkatan versiku.Hari keberangkatan yang dinanti akhirnya tiba juga. Hari itu, orang tuaku mengabarkan informasi dari grup bahwa seluruh peserta penjelajahan diputuskan untuk...Comments Likes
-
Posting TerfavoritSungguh tidak terasa, Siang tadi adalah slametan terakhirku sebagai murid di Semi Palar. Lima belas slametan, namun tahun ini menjadi puncak slametan dari semua slametan. Tidak seperti biasanya, tahun ini acara slametan dilaksanakan di Smipa....5 Comments 30 Likes"How Sweet The Sound" Lantunan lirik dari sepenggal lagu itu selalu bergema di hati saya sepanjang perjalanan musik sore hari ini. Ini memang kali pertama saya mengikuti musik sore, tak ada gambaran seperti apa yang akan muncul. Satu yang saya...4 Comments 26 LikesHari ini, hari ketika tulisan ini dibuat, Kelompok Sampiung Kelas 7 SMP Semi Palar baru saja selesai menghelat proyek bertajuk Kesenian Keluarga. Tepatnya, proyek ini dihelat pada tanggal 2 sampai 3 Oktober 2024. Kesenian Keluarga merupakan proyek...Comments 25 LikesHari ini saya kembali diundang jadi panelis debat Caketos (Calon Ketua OSIS). Saya punya perhatian khusus tentang OSIS - sejak awal mula OSIS digagas karena OSIS di SMP Smipa dirancang dengan sudut pandang yang berbeda. Di SMP Smipa, bisa...Comments 25 Likes_ "Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya S.Pd. mengelak, akhirnya akan mengajar juga." _ Satu tahun penuh, akhirnya saya menuntaskan peran sebagai "fasilitator" di Kelas 7 SMP Semi Palar, tepatnya...10 Comments 22 Likes
-
Posting Acak
By Andy Sutioso, 2025-03-08
Belakangan saya lagi gundah sama kata di atas ini: Triliun. Buset dah (punten). Kenapa gundah? Beberapa tahun silam, kata ini, yang mendefinisikan sebuah angka, menggambarkan jumlah yang sangat besar. Sepuluh pangkat dua belas. Nulisnya aja cape.
Kalau nanya sama Meta AI, buat menambah perspektif, Triliun ini begini katanya:
A trillion is a massive number:
1 trillion = 1,000,000,000,000 (10^12)
To put that into perspective:
- 1 trillion seconds is equivalent to approximately 31,709 years.
- The estimated number of stars in the Milky Way galaxy is between 200-400 billion, so a trillion is several times more than that.The term "trillion" is often used in finance, economics, and science to describe enormous quantities or values.
Lalu kenapa gundah? Karena beberapa waktu lalu, media banyak bicara korupsi dalam besaran miliar. Hari hari ini, media memberitakan korupsi triliunan sebagai hal yang biasa. Ini mengerikan. Mengerikan banget. Terakhir, bahkan muncul lagi besaran baru yang disebut : kuadriliun. Sederhananya korupsi yang pada dasarnya sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan sudah mencapai skala yang begitu besarnya. Mengambil sesuatu yang bukan haknya tentunya sebuah kejahatan. Melihat jumlahnya, kejahatan semacam ini sudah melampaui nalar - yang sekaligus menandakan bahwa nurani pelakunya bukan hanya nihil, tapi juga minus... Duh mengerikan. Mengerikan karena ini dilakukan oleh sesama bangsa Indonesia. Dan bagi saya, ujung-ujungnya hal ini jadi bahan refleksi bagi Semi Palar yang bergerak di ranah pendidikan. Inilah yang menjadi sumber kegundahan bagi saya - dan kemudian memantik munculnya tulisan ini...
Secara matematis ini juga mengkhawatirkan dalam konteks persepsi masyarakat. Kalau dulu kita bicara angka miliaran, angka jutaan adalah receh - angka yang nilainya tidak seberapa, kecil nilainya. Saat ini, saat masyarakat (dan tentunya juga birokrat) terbiasa berhadapan dengan angka triliunan, angka miliar jadinya sesuatu yang nilainya receh. Masyarakat dan birokrat - bisa mempersepsi bahwa korupsi miliaran adalah hal yang receh. Ini juga tidak kalah mengerikan.
Ini tulisan pendek yang jadi catatan saya di akhir minggu ini. Semoga jadi bahan pemantik kesadaran bagi yang sempat membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Salam bahagia untuk semua.
By Santi Indra Astuti, 2021-08-24
Belakangan ini hadir tontonan yang tidak bermutu di tengah kita: emak-emak ngegas. Perilaku tersebut bukan saja ‘tak biasa’. Tetapi juga tak pantas. Emak-emak ngegas memperlihatkan kekasaran verbal maupun non verbal, disertai tindak-tanduk atau gesture yang emosional. Kekasaran tidak saja mewujud dalam intonasi keras, namun sampai bawa-bawa nama hewan sebagai bahan makian. Yang mengherankan, insiden ini tampaknya jadi tren di kalangan emak-emak. Tinggal soal waktu saja pelakunya tertangkap kamera, lantas viral, dan akhirnya menyisakan jejak digital yang tak bakal terhapus lewat video pengakuan dosa dan permintaan maaf.
KAREN, EMAK-EMAK MASA KINI
Situasi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di media digital, video emak-emak ngegas juga bertebaran dalam berbagai situasi di luar negeri. Ada yang marah-marah karena merasa tidak dilayani. Atau, bikin perkara karena menolak antri di depan kasir. Ada yang parkir sembarangan menutupi jalur orang lain. Atau, menolak bermasker di ruang publik. Hal yang sebenarnya sederhana saja, seperti antri, memperbaiki posisi parkir, atau pakai masker sesuai prokes, tidak mau dilaksanakan. Alasannya macam-macam, mulai dari daruratlah, hak konsumen-lah, sampai bawa-bawa hak asasi manusia untuk membenarkan perilakunya. Ngeselin, kan?
‘Keukeuh’nya emak-emak ngegas menuai konsekuensi besar. Yang menjajah lokasi parkir, akhirnya ‘dikerjai’ mobilnya, seperti ditempeli stiker seluruh body-nya, atau ganti dihalangi lajur parkirnya. Yang tidak mau antri, dikeluarkan karena bikin rusuh di tengah pelanggan yang berdisiplin. Bagaimana dengan yang menolak bermasker? Tidak dilayani, disuruh keluar toko, dipanggilkan sekuriti. Yang bikin ulah semacam ini di pesawat, diturunkan dengan semua bagasinya karena beresiko bagi keselamatan seluruh penumpang. Sekuriti bandara bahkan bergeming ketika akhirnya emak-emak ngegas itu mau bermasker. Apes, rugi bandar.
Perempuan-perempuan ini dilabeli ‘Karen’. Ini bukan nama orang, melainkan sekelompok perempuan tengah baya, dengan ciri psikologis maupun demografis serupa. Yaitu, berasal dari kelas menengah ke atas, terhubung dengan alat komunikasi, dan bermedia sosial secara aktif. Umumnya berkeluarga, talkative alias doyan ngomong dan suka berdebat. Mereka mengikuti berita, update dengan tren terkini, tegas dan mandiri. Kualitas terakhir ini sebenarnya kepribadian yang bagus. Tapi, ketika kadarnya berlebihan, begitulah jadinya. Ciri khas Karen lainnya, ‘kalau merasa nggak sesuai dengan maunya, langsung minta ketemu sama manager toko’.
Menurut pakar, Karen-Karen ini cenderung punya mindset individualistik, tidak suka diberitahu apa yang selayaknya dilakukan, serta ‘entitlement’. Entitlement itu merasa punya hak dan bisa menuntut ini-itu, tentu saja dari perspektifnya sendiri tanpa menimbang kepentingan orang lain.
Karen adalah emak-emak ngegas kita. Tipikalnya sama. Tingkat ekonominya lumayan, terkoneksi dengan media digital secara intens. Tahu cara kerja media daring, karena kerap sengaja menantang untuk diviralkan, bahkan setelah diingatkan baik-baik. Secara psikologis merasa punya power, apakah karena kedudukannya di tengah keluarga, mengisi posisi tertentu di ruang publik (aktivis RT juga posisi yang signifikan!), atau karena eksis di media sosial. Busana yang dipakai memperlihatkan bahwa Karen domestik ini memahami batas-batas ruang privat dan ruang publik. Selain itu, ‘tidak kuper’ alias ‘gaul’.
MENGEMBALIKAN NORMA SOSIAL
Kelakuan emak-emak ngegas ini awalnya viral karena mengejutkan. Selanjutnya, jadi bahan cemoohan dan bully-an netijen. Eh, belakangan malah dikemas jadi aksi lucu-lucuan seperti meme, video, stiker, GIF, dan entah apa lagi. Tentu saja, semua ini tidak ada positifnya sama sekali. Minta maaf lewat video? Bukannya jadi ajang memaafkan, malah jadi ruang penghakiman dan perisakan lanjutan. Demikianlah nasib emak-emak ngegas, yang jejak digitalnya tersimpan selamanya. Reputasi pribadi, bahkan keluarga, ternoda seumur-umur.
Mengatasi hal ini tidak cukup dengan video permintaan maaf, atau materai 6 ribu. Literasi digital kepada emak-emak menjadi sangat urgen, dan perlu diwujudkan dalam tips praktis sehari-hari. Apa yang bisa dilakukan oleh publik? Warga di lingkar terdekat sepatutnya menjadi pendamping, pendidik, penjaga ‘moralitas digital’ dan pemelihara norma-norma sosial. Warga jangan cuma bisa nge-share sambil menertawakan, lantas rame-rame menghakimi. Yang terpenting adalah saling mengingatkan, agar kejadian seperti ini tidak muncul di lingkungan terdekat.
Viralnya video emak-emak ngegas bukan hanya tren negatif. Lebih dari itu, terlihat gejala naturalisasi atau mengalamiahkan perilaku tersebut menjadi sesuatu yang sehari-hari, wajar-wajar saja, dan tanpa sadar akhirnya diterima menjadi norma baru. Ini mencemaskan, dan harus kita lawan bersama-sama!
So, kurangi peredaran video semacam ini. Hentikan konsumsi materi emak-emak ngegas di berbagai platform digital. Tontonan seperti ini bukan saja tidak lucu, tapi juga tidak bermutu. Yuk, mari sama-sama bantu tertibkan emak-emak ngegas!
Sumber gambar: https://www.amazon.com/KAREN-Created-Funny-Pullover-Hoodie/dp/B081KGFT3B
By leoamurist, 2021-08-06
Mars pada tengah dada, menjaga kesadaran dengan menyadarinya; kemenyadaran. Batasnya ada pada kesabaran, empat fase dengan tiga subfasenya masing-masing yang setiapnya perlu melalui tiga transformasi.
Pemahaman adalah hasil keterlibatan, mengerti sendiri untuk memahami yang lain. Penguasaan penuh terhadap diri memancar dari dalam keluar, meluas, melibatkan, dan menjadikan semuanya sebagai dirinya. Sirkulasi simultan satu adalah semua dan semua adalah satu.
Berjagalah pada kehilangan. Kepedihan akan kehilangan yang terlalu dangkal pada kepemilikan dan penguasaan. Kesedihan karena gagal memiliki dan menguasai. Abai pada diri, bebal pada yang lain
-
Atomic Essay Smipa
Klik di sini untuk Panduan Atomic Essay
Jumlah Esai yang terkumpul sampai saat ini :
bloggers klik di sini untuk Input Data Posting
dan
UPDATE COUNTER
-
Catatan-catatan Kakak SmipaSaat tau bahwa proses magang ini akan di tempatkan di kelas Domikado, yang dirasa saat itu masih biasa saja. Karena sebelumnya saat observasi di tempatkan di kelas Domikado juga, jadi saat dilanjutkan magang ada beberapa teman-teman yang masih...Comments 11 LikesBerbagi cerita, berbagi hidup! Lagi-lagi, untuk pertama kalinya bagi saya duduk bersama semua Kakak untuk bertukar cerita sembari bersyukur akan hal-hal yang sudah dilalui bersama. Jika berbagi cerita sama halnya dengan berbagi hidup, maka hari...1 Comments 9 LikesTahun ini adalah tahun pertamaku membersamai proses belajar teman-teman SD kecil di Semipalar. Mulai dari membangun rutin yang berbeda dari biasanya hingga mencari sumber belajar baru bagiku agar selaras dalam proses di setiap harinya. Dulu aku...1 Comments 6 Likes"Awal adalah akhir, akhir adalah awal" kalimat yang mengawali video Musik Sore 2021 Rumah Belajar Semi Palar yang digelar secara virtual. Menurut saya, Musik Sore yang disuguhkan penuh dengan kesederhanaan yang memunculkan kekhasan anak-anak. Bisa...Comments 2 LikesMundur ke sekitar tujuh belas tahun yang lalu, ke momen di mana angan-angan mewujudkan sebuah sekolah menjadi kenyataan... Waktu itu Semi Palar belum berlokasi di tempat sekarang ini, kami mengontrak di Jalan Terusan Karang Tineung, tidak jauh...1 Comments 9 Likes
-
Konsep-konsep Semi PalarIni tulisan lainnya tentang Literasi. Literasi yang dimaknai luas bukan sekedar baca tulis tapi mengamati apa yang ada di sekitar kita. Kebetulan saya menemukan peristiwa yang menggambarkan soal ini. Kebetulan juga saya mengamati hal ini, jadi ini...Comments 2 LikesBeberapa minggu menjelang akhir semester, kakak-kakak Smipa sudah fokus menyusun berbagai komponen yang akan jadi bagian dari Buku Cahaya Bintangku, buku catatan perkembangan yang disusun oleh tim Smipa yang memfasilitasi proses belajar anak-anak...Comments 12 LikesDalam perjalanan Semi Palar mengeksplorasi Pembelajaran yang Holistik dan multi dimensi, salah satu tantangan terbesar bagi para kakak adalah membuat 'batasan'. Sejauh mana eksplorasi pembelajaran perlu dibatasi karena paradigma bahwa segala...Comments 4 LikesTulisan ini dipicu salah satu chat WA saya dengan Ahkam - saya lupa persisnya kapan. Tapi intinya Ahkam bilang, ka Andy perlu suatu saat menulis buku tentang perjalanan Semi Palar. Wah sebetulnya ini sudah jadi cita-cita sejak lama. Tapi memang...Comments 7 Likes"Awal adalah akhir, akhir adalah awal" kalimat yang mengawali video Musik Sore 2021 Rumah Belajar Semi Palar yang digelar secara virtual. Menurut saya, Musik Sore yang disuguhkan penuh dengan kesederhanaan yang memunculkan kekhasan anak-anak. Bisa...Comments 2 Likes
-
Sejarah Semi PalarKali ini saya ingin coba menulis sedikit tentang kenapa Semi Palar sejak awal direncanakan sebagai sebuah sekolah kecil. Gagasan awalnya memang sudah begitu - sekedar karena membayangkan kelas yang lebih kecil akan lebih baik dalam proses...Comments 15 LikesNah ini masih nyambung lagi dengan sejarah Semi Palar - sebelum Rumah Belajar, sebelum Semi Palar diwujudkan sebagai sebuah sekolah. Di tahun 2004 saat gagasan tentang mendirikan sebuah sekolah muncul sebagai sebuah cita-cita, kami berpikir...Comments 9 LikesSetiap tahun, Semi Palar pasti menyelenggarakan Buka Puasa Bersama. Kita tahu di mana-mana BukBer seakan jadi sebuah keharusan. Sebuah trend di berbagai kelompok masyarakat. Walaupun sekilas apa yang dilaksanakan tampak sama, di bawah permukaan...Comments 1 LikesSehari setelah pertemuan dengan kang Wawan, saya kembali bikin janji bersama mas Imam untuk berkunjung ke kediaman kang Aat. Kalau kemarin saya berangkat ke arah Barat Bandung, kali ini saya melintas kota Bandung ke arah Timur menuju ke rumah kang...Comments 2 LikesHari ini hari jadi ayah saya, jadi tulisan hari ini saya dedikasikan untuk beliau. Semi Palar bisa terwujud dengan dukungan beliau kepada kami yang menggagas - mengungkapkan angan-angan tentang keinginan membuat sebuah sekolah, belasan tahun yang...2 Comments 10 Likes
-
Most CommentedBarusan saja saya membaca tulisan Kak Andy tentang Meninggalkan Catatan Perjalanan dan saya benar-benar setuju dengan semua yang kak Andy tulis bahkan menurut saya lebih dari itu. Saya ingat pertama kali menulis secara lebih rutin ketika diajak...7 Comments 21 LikesSambil kerja dari rumah, iseng-iseng saya coba download Radio.net di TV trus cari KLCBS. Tapi kemudian saya sadar saat ini di Bandung sudah lewat tengah malam, jadi tidak bisa buka. Akhirnya saya memilih lagu-lagu ringan yang mengingatkan masa...4 Comments 1 LikesSatu hal yang saya rasakan dalam usaha mentuntaskan kegiatan menulis setiap hari adalah berusaha untuk selalu jeli melihat segala sesuatu, melatih kepekaan, dan selalu berusaha terbuka menyerap banyak hal. Ini sama sekali tidak mudah! Sama...4 Comments 5 LikesBeberapa tahun silam, membaca tulisanLeo Babauta, pada websitenya; Zen Habits, tentang finding simplicity in the daily chaos of our lives. Terutama karena di rumah saja, tampak permukaan hari demi hari seolah berjalan baik. Mungkin karena chaos...4 Comments 8 LikesKehilangan sesuatu itu sangat manusiawi dan tidak dapat dihindari. Memang sangat menjengkelkan apalagi jika yang hilang itu benda yang sangat penting. Barusan saya masih mencari-cari barang penting yang sulit mencari gantinya. Token untuk online...9 Comments 5 Likes
-
Tag Cloud