-
Posting TerkiniKalau pernah nonton filem Finding Forrester (saya baru menonton ulang filemnya kemarin malam), kita akan menemukan satu yang scene yang menarik. Filemnya sendiri keren - mengenai anak muda berkulit hitam yang jago maen basket - sekaligus juga jago...Comments LikesKata-kata Olah Rasa sudah kerap kita dengar di lingkungan Rumah Belajar Semi Palar. Walaupun demikian yang perlu kita sadari adalah bahwa kita belum tentu paham sepenuhnya apa yang dimaksudkan sebagai Olah Rasa. Proses perjalanan Semi Palar...Comments Likes"Kak, kenapa upacara bendera di Smipa hanya setiap tanggal 17?", 3 orang teman yang baru beranjak menginjak jenjang SMP di kelas 7 bertanya kepada saya. Pertanyaan saya kembalikan kepada mereka. Menurut kamu kenapa? Felno bilang, "Iya kan kak...Comments LikesLumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan,...1 Comments 1 LikesTerlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf...Comments LikesMenemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara,...1 Comments 4 LikesBeberapa waktu lalu, seorang rekan tukar pikiran terkait forum NgoBrAS, @gunawan-muhtar membagikan info tentang kegiatan upacara adat yang akan diselenggarakan. Dari judul kegiatannya saja, upacara adat adalah sesuatu yang sudah sangat langka di...Comments LikesEntah kenapa kata Udunan ini sedang kerap sekali muncul dalam pikiranku, akhir-akhir ini. Dan ya siang tadi sempat berbincang dengan beberapa rekan tentang Udunan ini. Semakin didalami, konsep Udunan ini semakin memikat hati. Lebih jauh, Udunan...1 Comments Likes
-
Posting TerfavoritSungguh tidak terasa, Siang tadi adalah slametan terakhirku sebagai murid di Semi Palar. Lima belas slametan, namun tahun ini menjadi puncak slametan dari semua slametan. Tidak seperti biasanya, tahun ini acara slametan dilaksanakan di Smipa....5 Comments 30 Likes"How Sweet The Sound" Lantunan lirik dari sepenggal lagu itu selalu bergema di hati saya sepanjang perjalanan musik sore hari ini. Ini memang kali pertama saya mengikuti musik sore, tak ada gambaran seperti apa yang akan muncul. Satu yang saya...4 Comments 26 LikesHari ini, hari ketika tulisan ini dibuat, Kelompok Sampiung Kelas 7 SMP Semi Palar baru saja selesai menghelat proyek bertajuk Kesenian Keluarga. Tepatnya, proyek ini dihelat pada tanggal 2 sampai 3 Oktober 2024. Kesenian Keluarga merupakan proyek...Comments 25 LikesHari ini saya kembali diundang jadi panelis debat Caketos (Calon Ketua OSIS). Saya punya perhatian khusus tentang OSIS - sejak awal mula OSIS digagas karena OSIS di SMP Smipa dirancang dengan sudut pandang yang berbeda. Di SMP Smipa, bisa...Comments 25 Likes_ "Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya S.Pd. mengelak, akhirnya akan mengajar juga." _ Satu tahun penuh, akhirnya saya menuntaskan peran sebagai "fasilitator" di Kelas 7 SMP Semi Palar, tepatnya...10 Comments 22 Likes
-
Posting Acak
By reginamirdan, 2021-09-21
“Berikan saya ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan untuk tahu perbedaaan antara keduanya” – Reinhold Nieburh
Kutipan diatas adalah salah satu kutipan yang selaras dengan konsep stoicism. Menurutku kunci dari stoicism ini adalah pengusaan diri, dan sebenarnya kita sebagai manusia diberikan kendali penuh untuk diri kita itulah yang membedakan kita dengan hewan. Seekor harimau yang dibesarkan disebuah kandang sejak bayi bisa saja melukai pawangnya, padahal mungkin harimau itu hanya sedang bermain tapi dia tidak bisa mengolah emosi dan energinya untuk tidak menyakiti sang pawang. Berbeda dengan manusia kita bisa mengendalikan penuh emosi, tenaga dan pikiran kita.
Ada hal-hal yang bisa kita usahakan ada yang diluar kendali kendali kita, dimana kita berusaha sekuat apapun belum tentu bisa menubah keadannya. Nah stoicism ini mengajarkan kita untuk memberikan batas mana yang bisa kita ubah mana yang tidak, yang bisa kita kendalikan secara penuh adalah pikiran dan tubuh kita.
Seorang stoicism tidak akan membuang energinya untuk memikirkan hal-hal yang diluar kendalinya, misalkan ada hate speech yang menyebar luas di media sosial saat ini atau orang julid yang menjelek-jelekan kita di lingkungan terdekat kita, seorang stoicism tidak akan memikirkan masalah itu, karna yang bisa kita lakukan adalah bersikap baik, orang suka atau tidak dengan kita itu diluar kendali kita.
Rasa sakit karna perkataan buruk orang lain adalah rasa sakit yang kita pilih, bila digambarkan hate speech adalah sebuah panah yang mengarah ke jantung kita tapi panah itu akan berhenti tepat 5cm didepan kita. Kita memang melihat (mendengar) hate speech itu tapi dia tidak menyakiti, yang dilakukan kebanyakan orang adalah mengambil panah itu dan menusukannya sendiri hingga hate speech itu terasa sakit. Dengan prinsip stoicism ini menurutku kita diberikan pilihan untuk tidak menancapkan panah itu cukup melihat dan mendengarnya saja, dijadikan pembelajaran dan tidak usah mengambil rasa sakitnya.
Photo by Gioele Fazzeri on Unsplash
By diki muhammad noor, 2023-03-14
Di rumah, kebetulan kami mencoba teknis mengompos baru, yakni komposter anaerob, proses pengomposan dengan cara tertutup. Karena sebelumnya kami mengompos hanya dikubur saja dilahan kosong samping rumah yang kebetulan saat ini sudah berdiri sebuah bangunan. Ember bekas cat yang diminta dari tentangga lah yang kami manfaatkan untuk komposter tersebut. Berangkat dari beberapa postingan Mbak Dk. Wardhani, saya coba belajar satu persatu tahapan yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk mulai melakukan pengomposan.
Kurang lebih enam bulanan berjalan, tentu tidak mudah untuk menggulirkan sebuah gerakan dalam lingkup komunitas terkecil, yakni keluarga. Perlu bergerak bersama dan menyamakan pemahaman tentang pentingnya melakukan tersebut. Dari sisi pemahaman sudah centang, tinggal bagaimana menjadi sebuah kebiasaan yang terus dijaga konsistensinya. Ya meskipun, teknisnya di rumah masih bagi-bagi tugas. Istri saya tentu lebih memilih ngumpulin sampah organiknya saja. Pokonya bagi dia asal disediaan wadah khusus untuk menampung sampah. Memang kadang sih masih suka nyempil-nyempil dikit sampah anorganik. Tapi tidak apa-apa biar saya yang misahin, dari pada diprotes, terus jadi pundung kan bahaya. Bisa hilang satu personil kunci nih, hehe. Karena kita ketahui, dapur biasanya adalah penyumbang sampah organik terbesar dalam satu keluarga. Saya biasanya bertugas memotong-motong sampah agar ukurannya lebih kecil, sehingga lebih cepat terurai. Mengaduk, menambahkan unsur coklat, dan fungsi kontroling juga. Yaa tugasnya memang banyak, tapi itung-itung sebagai konsekuensi penggagas utama. Tapi tidak apa-apa, yang penting demi kebaikan bumi tercinta yang Tuhan amanahkan kepada kita sebagai manusia. Sedangkan anak saya yang baru kelas 1, tugasnya sederhana, bantuin saya numpahin sampah yang udah dicacah, untuk kemudian bantu mengaduk menggunakan bambu. Pokonya kalau dia, gimana caranya biar dia merasa senang aja melakukannya.
Setelah enam bulanan berjalan, tibalah pada situasi yang tidak saya duga. Sepertinya mikroorganisme di dalam komposnya mati. Hal ini berdasarkan beberapa indikator yang terlihat, seperti sampah yang lama terurai, serta suhu yang turun. Situasi ini berawal dari kami sekeluarga pergi ke luar kota selama satu minggu penuh. Biasanya saya rutin untuk memasukkan sampah dan mengaduk kompos, maksimal 2 hari sekali. Mungkin selama satu minggu ditinggal pergi, mikroorganismenya kehilangan makanan dan kehilangan perhatian, hehe. Beberapa magot juga sudah berubah menjadi lalat. Sampai saat ini masih mencari bagaimana caranya agar sisa sampah yang sudah terurai, kurang lebih ¾ ember masih bisa dihidupkan lagi mikroorganismenya, dan proses penguraian bisa berjalan kembali. Ada yang tau?
By Andy Sutioso, 2022-10-27
Tulisan ini terinspirasi saat teman-teman K7 kembali dari Perjalanan Kecil beberapa waktu lalu. Dua buah angkot warna biru yang kita sewa masuk area parkir dan menurunkan anak-anak sekembali dari perjalanan tersebut.
Saya sempat memotret salah satu angkot seusai mengantarkan anak-anak di area parkir dan kembali ke jalanan kota Bandung. Entah kenapa saya teringat tahap-tahap awal kami merintis Semi Palar. Saat itu, sempat terpikirkan, punya keinginan dan cita-cita untuk menabung hingga suatu waktu bisa membeli / punya Bis Sekolah. Saat itu terpikirkan - seperti di sekolah-sekolah lain, bis sekolah ini bisa jadi salah satu kebanggaan sekolah, saat kesana kemari di jalanan kota Bandung.
Di sepanjang perjalanan, entah kenapa cita-cita itu menghilang - saat mengamati bahwa dari konteks pendidikan holistik, teman-teman Smipa bepergian dengan kendaraan umum justru jadi ruang pembelajaran yang juga baik adanya. Banyak hal dan pengalaman yang tidak bisa didapatkan saat anak-anak terus difasilitasi dengan bis sekolah, terpisah dari dinamika mobilitas masyarakat. Konsep-konsep pembelajaran terutama relasi sosial dan membangun kesadaran bisa lebih didapatkan anak-anak dengan bepergian menggunakan kendaraan umum. Itulah sebabnya, di perjalanan besar kelas 8, teman-teman berangkat ke tujuan dengan menggunakan kendaraan umum, apakah itu bis antar kota ataupun kereta ekonomi. Perjalanan juga adalah bagian dari proses pembelajaran holistik. Kami yakin, teman-teman mendapat banyak pelajaran dari pengalaman-pengalaman semacam itu.
Di atas ini foto Nisrina yang sedang duduk di KA Ekonomi dalam perjalanan ke Solo - saat Perjalanan Besar pertama - Menelusuri Jejak Mataram. Nisrina sedang berinteraksi dengan teman kecil, penumpang satu gerbong di perjalanannya - bagian dari tantangan yang diberikan kakak untuk berinteraksi dengan teman-teman seperjalanan.
Di sisi lain, sebagai alternatif, saat bepergian menggunakan kendaraan orangtua adalah juga bentuk keterlibatan orangtua. Satu situasi di mana anak-anak merasakan betul bagaimana orangtua ikut terlibat dan jadi bagian dari proses pembelajaran. Sebentuk koneksi bisa kita dapatkan lagi. Jadi ya begitulah cerita bagaimana Semi Palar menghilangkan cita-cita punya bis sekolah. Toh yang terpenting adalah proses dan pembelajarannya ya - bukan perangkatnya. Salam.
-
Atomic Essay Smipa
Klik di sini untuk Panduan Atomic Essay
Jumlah Esai yang terkumpul sampai saat ini :
bloggers klik di sini untuk Input Data Posting
dan
UPDATE COUNTER
-
Catatan-catatan Kakak SmipaMundur ke sekitar tujuh belas tahun yang lalu, ke momen di mana angan-angan mewujudkan sebuah sekolah menjadi kenyataan... Waktu itu Semi Palar belum berlokasi di tempat sekarang ini, kami mengontrak di Jalan Terusan Karang Tineung, tidak jauh...1 Comments 9 LikesJujur, pemikiran ini tiba-tiba lewat di kepalaku setelah aku selesai membaca ulang buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dan Laskar Pelangi. Aku ngerasa ada perbedaan perasaan yang lumayan kontras setelah membaca kedua buku itu. Di buku...2 Comments 2 LikesLagi-lagi sangat terkesan dengan kemampuan teman-teman Gatrik! Minggu lalu mereka mendapat tantangan untuk mempersiapkan Panggung Minat, namun lain dari hanya penampilan biasanya. Kali ini mereka harus berkomunikasi dengan keluarga untuk menggali...Comments 4 LikesProses magang di Smipa ku analogikan seperti menonton video, beberapa bagian video harus ku jeda untuk mengelaborasi lebih dalam maksud dan tujuannya. Selama proses magang seluruh aktivitas di smipa ku maknai lebih dalam, sehingga pertanyaan yang...1 Comments 9 LikesBerbagi cerita, berbagi hidup! Lagi-lagi, untuk pertama kalinya bagi saya duduk bersama semua Kakak untuk bertukar cerita sembari bersyukur akan hal-hal yang sudah dilalui bersama. Jika berbagi cerita sama halnya dengan berbagi hidup, maka hari...1 Comments 9 Likes
-
Konsep-konsep Semi PalarIni tulisan lainnya tentang Literasi. Literasi yang dimaknai luas bukan sekedar baca tulis tapi mengamati apa yang ada di sekitar kita. Kebetulan saya menemukan peristiwa yang menggambarkan soal ini. Kebetulan juga saya mengamati hal ini, jadi ini...Comments 2 LikesHari ini saya mau menulis tentang pas foto, karena kebetulan di hari-hari ini para kakak juga sedang sibuk menuliskan catatan perkembangan, analisis dari proses belajar teman-teman di Semi Palar di semester pertama. Semester pertama - yang tidak...Comments LikesTulisan ini terinspirasi saat teman-teman K7 kembali dari Perjalanan Kecil beberapa waktu lalu. Dua buah angkot warna biru yang kita sewa masuk area parkir dan menurunkan anak-anak sekembali dari perjalanan tersebut. Saya sempat memotret salah...Comments 2 LikesSore kemarin kak @innocentiaine mengirim WA menanyakan kalau saya punya foto yang pas untuk dijadikan ilustrasi dari proses pembekalan kakak-kakak baru sore hari ini. Saya cari-cari dan entah kenapa ingatan saya selalu kembali ke foto di atas ini....Comments 1 Likes[repost dari Ning] Hari ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang pemahaman bahwa apa yang saat ini berjalan dari gerakan Atomic Essay Smipa ini jadi langkah penting bagi kita semua di Rumah Belajar di Semi Palar. Tulisan ini juga terkait...Comments 2 Likes
-
Sejarah Semi PalarSetiap tanggal 17 Rumah Belajar Semi Palar menyelenggarakan Upacara Bendera. Ritual penghormatan Sang Merah Putih dan pengkhidmatan terhadap kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang udaranya bisa kita hirup dalam-dalam setiap harinya saat ini. Pagi...Comments LikesKali ini saya ingin coba menulis sedikit tentang kenapa Semi Palar sejak awal direncanakan sebagai sebuah sekolah kecil. Gagasan awalnya memang sudah begitu - sekedar karena membayangkan kelas yang lebih kecil akan lebih baik dalam proses...Comments 15 Likes"Pak Andy, apa yang bapak sampaikan tadi mendalam sekali ya. Walaupun sederhana tapi sangat dalam". Di sesi penutupan DikLat yang lalu, seorang rekan Kepala Sekolah menghampiri saya dan menyampaikan hal ini. Iya pak, saya respon. Kenapa saya...Comments 7 LikesHari ini hari jadi ayah saya, jadi tulisan hari ini saya dedikasikan untuk beliau. Semi Palar bisa terwujud dengan dukungan beliau kepada kami yang menggagas - mengungkapkan angan-angan tentang keinginan membuat sebuah sekolah, belasan tahun yang...2 Comments 10 LikesSehari setelah pertemuan dengan kang Wawan, saya kembali bikin janji bersama mas Imam untuk berkunjung ke kediaman kang Aat. Kalau kemarin saya berangkat ke arah Barat Bandung, kali ini saya melintas kota Bandung ke arah Timur menuju ke rumah kang...Comments 2 Likes
-
Most CommentedBarusan saja saya membaca tulisan Kak Andy tentang Meninggalkan Catatan Perjalanan dan saya benar-benar setuju dengan semua yang kak Andy tulis bahkan menurut saya lebih dari itu. Saya ingat pertama kali menulis secara lebih rutin ketika diajak...7 Comments 21 LikesSambil kerja dari rumah, iseng-iseng saya coba download Radio.net di TV trus cari KLCBS. Tapi kemudian saya sadar saat ini di Bandung sudah lewat tengah malam, jadi tidak bisa buka. Akhirnya saya memilih lagu-lagu ringan yang mengingatkan masa...4 Comments 1 LikesSatu hal yang saya rasakan dalam usaha mentuntaskan kegiatan menulis setiap hari adalah berusaha untuk selalu jeli melihat segala sesuatu, melatih kepekaan, dan selalu berusaha terbuka menyerap banyak hal. Ini sama sekali tidak mudah! Sama...4 Comments 5 LikesBeberapa tahun silam, membaca tulisanLeo Babauta, pada websitenya; Zen Habits, tentang finding simplicity in the daily chaos of our lives. Terutama karena di rumah saja, tampak permukaan hari demi hari seolah berjalan baik. Mungkin karena chaos...4 Comments 8 LikesKehilangan sesuatu itu sangat manusiawi dan tidak dapat dihindari. Memang sangat menjengkelkan apalagi jika yang hilang itu benda yang sangat penting. Barusan saya masih mencari-cari barang penting yang sulit mencari gantinya. Token untuk online...9 Comments 5 Likes
-
Tag Cloud