-
Posting TerkiniHalo teman-teman yang budiman, pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita sedikit soal musik. Saya rasa, sebagai remaja, musik sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di perjalanan, di kamar, di sela...Comments LikesKadang hubungan terasa jauh bukan karena kehilangan rasa sayang, tapi karena kehilangan rasa ingin tahu tentang satu sama lain. Merasa sudah mengenal pasangan bertahun-tahun bisa membuat kita berhenti bertanya. Percakapan pun perlahan hanya...Comments 2 LikesWednesday September 9 2026, 11:58 AM Atsanti Youth Camp #5 2026 adalah kegiatan mempelajari alam dan budaya dengan cara yang menyenangkan untuk peserta loh guys.
Foto Sebagian dari Peserta AYC #5 (Sumber: Dokumentasi Pribadi Maria Teresa Benedicta) Pada tanggal 3 - 6 September 2026Yayasan Atma Nuvantara Jati (ATSANTI Foundation) menggelar sebuah kegiatan yaitu AYC #5, di Bhumi Atsanti, Magelang,...1 Comments 4 LikesAES 009 "Physical Capital" Kita sering bilang : "jangan menilai orang dari luarnya saja" Tapi kenyataannya berbeda. Sebelum kita tahu siapa seseorang, kita membaca tubuhnya terlebih dahulu. Semua itu menunjukan seseorang menjalani hidupnya....Comments 3 LikesAES 008 "Pause" Akhir pekan sering kali menjadi waktu untuk bisa berhenti sejenak dari ritme hidup yang begitu cepat. Setelah hari-hari dipenuhi tanggung jawab, target dan berbagai hal yang perlu dipikirkan, semoga ada ruang untuk kembali...Comments 2 LikesAES 007 "Apakah ini pernikahan yang kita impikan?" Ketika dulu percakapan: - "sudah makan belum?" - "hari ini cape ga?" Dan sekarang menjadi: - "tagihan ini sudah dibayar?" - "jangan lupa urus ini/urus itu!" Dulu mencari alasan untuk...Comments 2 LikesHalo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya,...Comments 1 LikesDalam sebuah wawancara, Ibu Reda Gaudiamo mengatakan bahwa "Buku membantu kita lebih tenang, seperti kopi yang memberi waktu kepada ampasnya turun." Kemudian saya menyadari, hal ini pun berkaitan dengan ritme kota, atau bahkan ritme kehidupan...2 Comments 3 Likes -
Posting TerfavoritSungguh tidak terasa, Siang tadi adalah slametan terakhirku sebagai murid di Semi Palar. Lima belas slametan, namun tahun ini menjadi puncak slametan dari semua slametan. Tidak seperti biasanya, tahun ini acara slametan dilaksanakan di Smipa....5 Comments 30 Likes"How Sweet The Sound" Lantunan lirik dari sepenggal lagu itu selalu bergema di hati saya sepanjang perjalanan musik sore hari ini. Ini memang kali pertama saya mengikuti musik sore, tak ada gambaran seperti apa yang akan muncul. Satu yang saya...4 Comments 26 LikesHari ini, hari ketika tulisan ini dibuat, Kelompok Sampiung Kelas 7 SMP Semi Palar baru saja selesai menghelat proyek bertajuk Kesenian Keluarga. Tepatnya, proyek ini dihelat pada tanggal 2 sampai 3 Oktober 2024. Kesenian Keluarga merupakan proyek...Comments 25 LikesHari ini saya kembali diundang jadi panelis debat Caketos (Calon Ketua OSIS). Saya punya perhatian khusus tentang OSIS - sejak awal mula OSIS digagas karena OSIS di SMP Smipa dirancang dengan sudut pandang yang berbeda. Di SMP Smipa, bisa...Comments 25 Likes_ "Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya S.Pd. mengelak, akhirnya akan mengajar juga." _ Satu tahun penuh, akhirnya saya menuntaskan peran sebagai "fasilitator" di Kelas 7 SMP Semi Palar, tepatnya...10 Comments 22 Likes
-
Posting AcakBy haegenquinston, 2021-09-30
Setiap kali kita melakukan sesuatu di depan orang-orang, pasti ada impresi mereka terhadap apapun yang kita kerjakan, misalnya adalah presentasi. Sering sekali kita melakukan presentasi. Berdasarkan riset, hanya 50% orang dari audiens presentasi, yang benar-benar fokus memperhatikan materi. Sisanya, mungkin tidak benar-benar memaknai kegiatan presentasi (terkadang hanya sebagai formalitas). Ada pula, yang hanya hadir dalam presentasi tetapi tidak memperhatikan presentasi, karena distraksi lain. Sehingga, orang yang bisa disebut, memiliki impresi yang baik terhadap yang kita kerjakan, adalah yang tidak asal-asalan dalam memberi respon asumtif, dan benar-benar fokus awal hingga akhir supaya responnya ideal.
Respon yang diberikan, bisa jadi positif maupun negatif. Tetapi, itu tidak menentukan segalanya. Negatif bukan berarti suram, positif bukan berarti bahagia. Misalnya, memberikan kritik dengan cara yang lebih sopan dan dengan mood yang baik. Sama halnya dengan impresi yang positif, bisa dikatakan dan disampaikan dalam cara yang agak negatif. Kalau perspeksi kita tidak baik dan negatif, hal yang positif pun diabaikan dan tidak terlalu disyukuri. Misalnya, kita dipuji atas perkembangan kita sendiri selama satu semester berproyek, namun kita sendiri malah pesimis karena merasa tidak memenuhi ekspektasi kita yang sebenarnya, yang lebih tinggi daripada itu.
kalau kita diberi suatu kritik, yang maksudnya adalah mengkritisi ketidakmampuan kita dalam suatu proses, kita jangan me-nembal. Kita jangan cepat merasa kecewa. Kritik memang sangat bisa membuat kita merasa tidak nyaman, tetapi memang itu adalah kenyataan yang perlu dihadapi. Karena itu, kita bisa disadarkan atas kenyataan, dan kita bisa benar-benar menerima apa adanya. Jangankan selama ini kita melihat diri kita lebih baik daripada orang lain, kalau semua orang lain berkata seperti itu pula artinya tidak ada yang terbaik dong? Realita selalu berbeda dengan ekspektasi, itu sebabnya kita perlu mengetahui kritik dari sudut pandang orang lain. Meskipun tidak mudah menerimanya, dengan persepsi yang benar, kita bisa menganggapnya 'bukan beban'.
Komunikasi juga sangatlah penting dalam perihal kritik. Kalau kritiknya dilontarkan melalui chat, sudah pasti kesannya seperti kesal saja, apalahgi terkait kata-kata yang digunakan rada kritis. Itu berdasarkan pengalamanku sendiri, karena melalui chat ada yang memang maksudnya tidak terlalu kasar dalam menyampaikannya. Namun, seringkali apa yang diterima (kritik) itu dengan tegang, tidak mau jawab apa, dan juga merasa tidak mampu, dan ada penyadaran.
Coba saja persepsi yang kita terima tidak begitu. Kita jangan berasumsi, bahwa hal yang dihadapi sangat sangat critical sehingga kita malah overthinking. Tetapi, jangan juga lalai dan tidak menganggapnya serius. Miskomunikasi memang terjadi, tetapi kita bisa memahami apa yang orang lain maksud, dari pandangan mereka dengan bertanya, tanpa asumsi.
By joefelus, 2022-03-02
Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk menghormati orang lain, tidak pandang bulu, baik orang besar maupun orang sederhana, pendeknya semua orang. Ayah mertua bahkan memberi contoh banyak ngobrol dengan segala macam orang bahkan di pasar tradisional, maupun tukang becak. Ayah saya selalu berkata bahwa orang-orang yang sederhana justru lebih membutuhkan perhatian daripada penguasa atau orang-orang mampu yang berdara di kelas sosial yang tinggi. Kebiasaan saya ngobrol dengan siapa saja tidak pernah pupus hingga sekarang.
Kenapa saya senang ngobrol dengan siapa saja, karena saya selalu berpendapat bahwa hidup itu sangat menarik. Ngobrol dengan berbagai kalangan bisa menyerap pengalaman mereka, mendengar cerita kehidupan mereka, bahkan belajar dari pengalaman mereka. Ini bagi saya adalah cara belajar yang paling murah dan paling menarik.
Setiap orang punya cerita! Setiap orang punya pengalaman hidup. Saya belajar banyak dari berbagai kalangan dalam masyarakat. Saya bisa mempelajari karakter banyak orang hanya dari berbagai percakapan. Disamping saya belajar, orang-orang yang saya ajak ngobrol juga mendapat banyak perhatian dan apresiasi. Saya mendapat sesuatu, mereka juga mendapat sesuatu. namanya komunikasi selalu mempunyai efek timbal balik. Bukan begitu?
"How was your new year's eve? had a good time?" Tanya saja pada seorang ibu-ibu tua yang ada di portal tempat parkir hotel, sambil menyodorkan tiket parkir kepadanya.
"Oh yes! I had a great time. Good party! I am still hanging right now!"
Saya melanjutkan mengemudi sesudah ngobrol beberapa saat dengan si ibu tua ini. Setidak-tidaknya si ibu sudah 60 tahun usianya. Bahasa Inggrisnya memang agak terbatas, saya yakin dia berasal dari Filipina karena aksesnya saya sangat familiar. Saya senyum-senyum sambil menahan tawa ketika meninggalkan lokasi parkir dan akan menjemput Nina dan Kano yang menunggu di pintu depan hotel. Si ibu itu mungkin maksudnya "I'm still having a hangover" yang maksudnya kondisi yang diakibatkan karena banyak mengkonsumsi minuman beralkohol. Itu salah satu obrolan ringan saya ketika liburan kemarin dan saya ingat betul karena si ibu parkir yang lucu.
Ngobrol dengan dengan orang lain secara random tidak susah. terus terang bahkan tidak sesulit jika saya harus ngobrol dengan anak remaja. Saya butuh banyak waktu untuk mempersiapkan diri, membaca rambu-rambu, mencari topik dan sebagainya untuk bisa berbicara dari hati ke hati dengan Kano. Itupun tidak selalu berhasil. Dengan orang asing saya justru tidak banyak masalah, selama saya tetap jeli dengan tanda-tanda. Maskudnya tanda apa? ya kita bisa melihat jestur orang tertarik atau tidak diajak ngobrol dengan membaca gerakan badan atau raut muka. Jika ada tanda yang mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak suka diganggu ya berhenti saja sampai situ sebab tidak akan ada banyak manfaat yang bisa diambil dari percakapan itu.
Yang penting harus diingat adalah, ketika orang lain atau ketika kita mendengarkan orang lain berbicara, secara langsung kita mengapresiasi orang tersebut. Kita didengarkan juga merupakan apresiasi orang lain terhadap kita. Tidak perlu selalu harus setuju dengan pendapat orang lain, tapi kita menghargai perspektifnya, itu jauh lebih penting!
Pemilihan kata juga sangat penting. Kata-kata yang kita gunakan untuk mendorong semangat orang lain akan sangat berguna dan memberikan semacam afirmasi terhadap orang-orang yang sedang menghadapi masalah.
Seperti saya katakan di atas, ngobrol dengan orang lain itu salah satu bentuk cara belajar. Ngobrol dapat membuka dan menemukan ide baru atau bahkan mendorong untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah lama mengendap. Bentuk oboral bisa menjadi sebuah katalis penyelesaian masalah di samping itu kita juga bisa bertanya, meminta pendapat dan mengeksplor banyak hal yang kita belum ketahui. ya, ngobrol itu sangat powerful. Gara-gara ngobrol kita bisa tiba-tiba menemukan ide untuk sebuah proyek atau kalau kasus saya dulu, saya jadi punya ide untuk penyusunan skripsi saya sehingga 3 bulan kemudian saya bisa selesai dan diwisuda hehehe!***
Foto: en.m.wikipedia.org
By joefelus, 2021-12-02
Ini sebetulnya saya tulis 2 tahun yang lalu di akhir bulan Nopember menjelang thanksgiving sebelum Covid 19 merajalela. Karena hari ini saya begitu lelah dan tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk mengumpulkan ide menulis, jadi saya titip ini saja:
"How are you doing? can I have double Maker's Mark on the rock, please?" tanya saya sambil memberikan ID dan kartu kredit yang tadi aku pegang.
"Absolutely!" jawab bartender sesudah melihat kartu pengenal saya lalu menaruh sehelai bar napkin dihadapan saya lalu berbalik meraih gelas diisi es batu dan menjangkau sebuah botol di rak minuman.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Club ini tidak terlihat banyak pengunjung, mungkin karena di luar sudah mulai turun salju yang katanya akan menjadi badai salju terburuk di musim gugur ini. Diperkirakan salju akan menumpuk hingga diatas 60 cm.
Liburan pendek yang istri saya rencanakan hampir batal karena salah melihat jadwal. Kano ternyata belum libur. Hotel sudah dipesan jauh-jauh hari dan tidak dapat dibatalkan. Memang kota yang kami tuju hanya 1.5 jam perjalanan jauhnya, tapi meninggalkan Kano sendirian di rumah, karena dia menolak untuk pergi bersama kami dan lebih memilih tinggal sendiri di rumah dengan game kesayangannya, bukanlah perkara mudah karena banyak pertimbangan yang harus kami pikirkan saat meninggalkan si gondrong ini sendirian karena faktor keamanan dan masalah aturan. Saya harus yakin juga secara hukum bahwa meninggalkan anak seorang diri pada usia tertentu tidak melanggar aturan, sebab kalau terjadi sesuatu bisa berabe. Memang ini bisa menjadi sesuatu yang baik juga untuk mengajarkan kemandirian dalam mengurus diri sendiri. Saya hanya menyiapkan makanan dan aku mengijinkan dia menggunakan air fryer untuk menggoreng french fries dan fish sticks misalnya. Saya juga menyiapkan makanan yang kemudian dapat dihangatkan dengan microwave.
"Do you want to keep the tab open?" Tanya Bartender tadi sambil memberikan segelas minuman yang saya pesan tadi.
"Yes, please. Thank you!" jawab saya sambil berjalan ke sudut dekat panggung dimana pemain musik jazz akan beraksi beberapa menit lagi.
Tadi pagi akhirnya kami mengantar K ke sekolah. Siangnya dia akan pulang sendiri karena sesudah mengantar kami langsung berangkat ke Denver. Agak terasa aneh juga berpergian berdua lagi karena selama ini bila ke luar kota kami selalu bertiga. Sesudah jadi remaja, anak saya mulai punya kesibukan sendiri.
Perjalanan ke Denver sangat lancar, walau kami mulai kelaparan karena tadi tidak sarapan. Rencananya kami akan brunch di Denver makan dim sum di restoran yang sudah agak lama tidak kami kunjungi.
Tujuan kami ke Denver sebetulnya hanya sekedar melepas lelah dan menjauhkan diri dari rutinitas. Saya sengaja mengambil libur menjelang hari raya Thanksgiving. Kampus tutup, para mahasiswa mudik dan tidak banyak kegiatan yang bisa saya kerjakan, nah kesempatan ini saya ambil untuk libur. Istri saya memang sudah merencanakan jauh jauh hari untuk bersantai menikmati street art. Ada 1 kompleks yang dinding-dindingnya penuh dengan lukisan. Dulunya daerah sini adalah daerah industri yang penuh pabrik, lalu kemudian bangkrut dan terbengkalai. Entah siapa pencetusnya, daerah itu dihidupkan kembali dengan membangun restoran-restoran lalu para seniman menyumbangkan karyanya dengan melukis dinding-dinding bangunan sehingga lokasi ini menjadi hidup kembali dan dijadikan salah satu tempat wisata, kuliner dan hiburan.



Flurries mulai turun, tidak terasa kami sudah cukup lama berjalan keliling-keliling menikmati karya-karya para seniman yang unik. Kami juga menyempatkan diri mampir sebentar untuk minum kopi di salah satu kedai yang katanya sangat terkenal karena udara mulai sangat dingin. Dari media sosial kami mengetahui bahwa Fort Collins sudah diguyur salju sangat lebat. Saya agak khawatir karena Kano harus pulang sendiri dari sekolah dengan berjalan kaki, jadi saya berusaha kontak dia. Ternyata dia pulang ikut mobil temannya yang tinggal satu kompleks dengan kami, jadi kekhawatiran saya ternyata tidak beralasan.
"Kamu mau minum apa?" tanya saya pada Nina.
"Ga tau, enaknya apa ya? Wine kali." jawabnya.
"Red or white?"
"Red."
Saya kembali berjalan ke bar dan memesan minuman untuk Nina. Malam ini kulihat hanya ada 2 pemain musik. Seseorang dengan memakai topi Fedora berwarna hitam menyiapkan organ dan seorang lainnya mengambil kursi dan membuka tas bawaannya serta mengeluarkan clarinet dan saxophone. Ini menarik pikir saya karena belum pernah menikmati seseorang bermain jazz dengan organ. Organnya malah terlihat kuno, dengan pedal-pedal bass di bagian bawah, persis seperti organ-organ yang ada di gereja. Saya sebetulnya jauh lebih mencintai permainan jazz dengan piano, tapi apa boleh buat, hari Senin malam tidak banyak jazz club yang buka, bahkan yang sebenarnya ingin kami datangi justru tutup setiap hari Senin.
Entah karena hari Senin atau karena di luar sudah turun salju maka di club ini tidak banyak pengunjungnya. Ada sekelompok orang mondar mandir membawa balon dan kue, sepertinya akan ada pesta ulang tahun atau apa. Tapi tetap saja kurang dari 10 orang yang ada di sini. Pemusik Jazz pun mulai memainkan lagu-lagunya. Warna musik jazz yang agak unik dan sepertinya belum pernah saya nikmati sebelumnya. Saya sungguh bingung ini jenis jazz apa. Selama ini saya selalu menikmati yang mainstream, bossa nova, cool jazz, smooth jazz dan sebagainya. Tapi yang ini walaupun enak untuk dinikmati tapi ada sesuatu yang tidak biasa. Mungkin karena selama ini belum pernah mendengar jazz menggunakan alat musik organ.

Sore tadi kami menyempatkan diri mengunjungi Chriskindl Market, semacam pasar malam yang hanya diadakan menjelang liburan Thanksgiving hingga menjelang Natal. Sayangnya ketika kami tiba di sana hujan es turun lumayan deras sehingga tempat ini sepi dari pengunjung bahkan banyak kios-kios yang tutup. Pasar ini sebetulnya seperti bazaar tapi ala bavarian karena yang disajikan adalah makanan minuman, karya seni serta pertunjukan yang berbau Jerman. Kalau mau mencoba Spiced Wine yang namanya Glühwein atau bir yang disebut bavarian bier, Pretzels, keju dan sosis Jerman silahkan mampir ke sini. Kami juga menemukan sebuah toko buku retro. Saya sebut retro karena ketika saya masuk ke toko ini seperti berada di dalam perpustakaan kuno dari generasi sebelum saya lahir. Lantai dan pintu serta rak-rak bukunya dari kayu tua, bahkan baunya pun seperti bau di jaman dahulu, namanya Tattered Cover Bookstore. Sudah menjadi kebiasaan saya jika mengunjungi sesuatu tempat, saya mampir untuk membeli sebuah buku. Di kemudian hari ketika saya membaca ulang buku itu, saya akan merasa seperti memegang sebuah bukti sejarah dari suatu persitiwa yang pernah aku alami. Misalnya 20 tahun yang lalu aku membeli sebuah buku di kota New York yang hingga sekarang buku itu menjadi salah satu favorit saya yang sudah dibaca berulang-ulang, Tuesdays with Morrie karangan Mitch Albom. Di setiap buku yang saya beli, selalu ada goreskan tanggal dan tempat dimana memperoleh buku itu. Nah kebetulan sekali di toko ini saya menemukan sebuah buku kesekian dari pengarang yang sama. Ketika menuliskan tanggal dan tempat, saya merasa seolah-olah memahat huruf-huruf di sebuah prasasti yang kemudian akan dilestarikan untuk dijadikan sebuah bukti sejarah yang nanti akan saya lihat kembali di masa yang lain.
Hari semakin malam, musik terus mengalun diiringi tepuk tangan ala kadarnya di akhir setiap lagu karena setelah hampir 1 jam belum ada juga pengunjung lain yang masuk, bahkan kelompok yang sudah ada ketika kami masuk club ini sibuk ngobrol sendiri dan tidak peduli dengan penampilan duet pemusik jazz unik ini. Kasihan juga sebetulnya karena hanya saya dan istri saja yang seringkali bertepuk tangan. Pemain jazz yang ada didepan kami akhirnya beristirahat sebelum sesi kedua dimulai lagi. Musiknya lumayan menyenangkan, tapi kami sebetulnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Setelah berpergian ke berbagai tempat dan menikmati banyak pertunjukan jazz, yang ini sama sekali tidak spesial. Tidak perlu dibandingkan dengan para pemain kala kami di Chicago atau yang rutin kami nikmati di Honolulu. Ini hanya sekedar biasa saja. Kami memutuskan untuk pulang karena harus segera beristirahat dan besok siang harus mengemudi pulang ke Fort Collins.
Di luar ternyata sangat berkabut dan warna putih di mana-mana. Hampir tidak ada kendaraan atau manusia yang berlalu-lalang, hanya kami berdua! Mungkin tidak ada yang sesinting kami untuk keluar rumah ditengah badai salju. Udara memang sangat dingin, tapi karena mood kami sedang baik sesudah bersantai menikmati jazz dan minuman hangat, badai salju hanya seperti bumbu dari keseruan sepanjang hari ini. Kami berjalan pelan-pelan sambil ngobrol menuju hotel yang letaknya beberapa blok dari club tadi. Jalan raya sangat sepi, semuanya tertutup salju yang semakin lama semakin tebal. Agak aneh juga melihat ibu kota Colorado yang hampir tidak terlihat bentuk kehidupan sebab hampir semua orang diam di dalam rumah. Kami saja yang mungkin dianggap gila, berjalan kaki hampir tengah malam dalam guyuran salju yang semakin lama semakin deras. Namun itu semua tidak menghapus kegembiraan kami, apalah artinya guyuran salju dibandingkan perasaan senang tidak harus bekerja atau bergumul dengan rutinitas? Ini semua adalah bagian dari sebuah petualangan!


Besok masih ada setengah hari untuk petualangan kuliner sebelum kami pulang. Mudah-mudahan salju tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk mengemudi kalau itu terjadi, dan tentu saja sangat berbahaya. Rencananya kami akan ke Central Market di River North District yang kami kunjungi tadi siang. Di sana banyak disajikan Gourmet food dari local vendors yang menyajikan berbagai variasi makanan yang sangat bermutu dari sandiwich, pizza, seafood bahkan produk daging segar. Belum lagi bakery di sana menyajikan berbagai jenis sajian yang fresh from the oven. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku membanjir ha ha ha ***
-
Atomic Essay Smipa
Klik di sini untuk Panduan Atomic Essay
Jumlah Esai yang terkumpul sampai saat ini :
bloggers klik di sini untuk Input Data Posting
dan
UPDATE COUNTER
-
Catatan-catatan Kakak Smipa2 jam siang menuju sore tadi sangat produktif dan memberi saya ruang untuk berfikir dan menyusun kepingan-kepingan Pendidikan Holistik yang masih belum sempurna. Merasa diingatkan kembali pada beberapa bulan yang lalu ketika diberi kesempatan...1 Comments 4 LikesBerbagi cerita, berbagi hidup! Lagi-lagi, untuk pertama kalinya bagi saya duduk bersama semua Kakak untuk bertukar cerita sembari bersyukur akan hal-hal yang sudah dilalui bersama. Jika berbagi cerita sama halnya dengan berbagi hidup, maka hari...1 Comments 9 Likes21 September, Semi Palar memaknai hari jadinya ke 17 tahun. Selalu bersyukur bisa menjadi bagian dari Rumah Belajar Semi Palar. Di tahun ini bukan hanya sebagai Kakak tapi juga Orangtua. Terus menikmati dan memaknai tiap proses bertumbuh...2 Comments 9 LikesHari cerah, separuh jumlah teman Gatrik dan kedua kakak membuka hari pertama bertemu di tahun ajaran ini dengan waktu hening di lapang rumput. Mereka duduk tenang di tengah udara segar ruang terbuka, di hamparan rumput hijau. Disambung doa dan...Comments 4 LikesPagi mendung di hari Senin 6 Juni. Hari ini adalah hari no-bag day untuk kelas SD-5. Memikul sarung berisi perlengkapan hari ini, aku berangkat ke sekolah. Ketika dalam perjalanan, aku merenungkan keputusan hidupku yang menggiringku ke titik ini....Comments 7 Likes
-
Konsep-konsep Semi PalarTulisan ini terinspirasi saat teman-teman K7 kembali dari Perjalanan Kecil beberapa waktu lalu. Dua buah angkot warna biru yang kita sewa masuk area parkir dan menurunkan anak-anak sekembali dari perjalanan tersebut. Saya sempat memotret salah...Comments 2 LikesTiga kata kunci di atas muncul dari diskusi kelompok Hari Belajar Kakak Smipa. Situasi pandemi yang sudah berjalan hampir satu setengah tahun sebetulnya membuka peluang untuk merefleksikan banyak hal. Saat ritme kehidupan dipaksa melambat bahkan...2 Comments 7 LikesPagi ini saya diminta oleh kak Asep dan kak Ana untuk berbagi bersama teman-teman kelompok Kecak (SD-6) tentang diri, tentang aku, tentang kedirian teman-teman Kecak. Topik yang penting di Rumah Belajar Semi Palar, karena belajar dalam pemahaman...Comments 1 LikesCerita sedikit tentang Gelar Griya. Sejak awal, Gelar Griya jadi tahapan awal untuk keluarga yang berminat bergabung ke Keluarga Besar Semi Palar, menyekolahkan putra-putrinya ke Semi Palar. Istilah Gelar Griya menggantikan istilah Open House...Comments 5 LikesTulisan ini terpantik dari obrolan keselarasan dengan salah satu rekan orangtua yang akan mendaftarkan putranya ke Semi Palar. Kakaknya sudah lebih dahulu berproses di Smipa. Jadi rekan orangtua ini sudah cukup tau sebetulnya seluk beluk proses...1 Comments 5 Likes
-
Sejarah Semi PalarDiawal anakku yang besar sudah waktunya masuk sekolah, di tahun 2007, saya ketemu ka Andy, yang menceritakan bahwa saat itu bergerak di bidang pendidikan yang ternyata merupakan sebuah Rumah Belajar SemiPalar, saat itu SemiPalar baru berusia 3...2 Comments 5 LikesSehari setelah pertemuan dengan kang Wawan, saya kembali bikin janji bersama mas Imam untuk berkunjung ke kediaman kang Aat. Kalau kemarin saya berangkat ke arah Barat Bandung, kali ini saya melintas kota Bandung ke arah Timur menuju ke rumah kang...Comments 2 LikesSetiap tahun, Semi Palar pasti menyelenggarakan Buka Puasa Bersama. Kita tahu di mana-mana BukBer seakan jadi sebuah keharusan. Sebuah trend di berbagai kelompok masyarakat. Walaupun sekilas apa yang dilaksanakan tampak sama, di bawah permukaan...Comments 1 LikesSaya memilih topik ini untuk esai saya malam ini. Saya mencatatkan topik ini saat Natasha dan kawan-kawan melaksanakan presentasi akhirnya minggu lalu di pendopo. Saya jadi teringat bagaimana berkomunitas sangat berperan dalam proses belajar saya...Comments 1 LikesHari ini hari pertama dalam guliran pembelajaran TP17. Pagi2 betul saat bersiap, masuk berita duka di hape saya. Tulisan ini saya dedikasikan kepada almarhumah ibu Witono yang pagi tadi meninggalkan kita semua menghadap Sang Pencipta. Saat...1 Comments 4 Likes
-
Most CommentedBarusan saja saya membaca tulisan Kak Andy tentang Meninggalkan Catatan Perjalanan dan saya benar-benar setuju dengan semua yang kak Andy tulis bahkan menurut saya lebih dari itu. Saya ingat pertama kali menulis secara lebih rutin ketika diajak...7 Comments 21 LikesSambil kerja dari rumah, iseng-iseng saya coba download Radio.net di TV trus cari KLCBS. Tapi kemudian saya sadar saat ini di Bandung sudah lewat tengah malam, jadi tidak bisa buka. Akhirnya saya memilih lagu-lagu ringan yang mengingatkan masa...4 Comments 1 LikesSatu hal yang saya rasakan dalam usaha mentuntaskan kegiatan menulis setiap hari adalah berusaha untuk selalu jeli melihat segala sesuatu, melatih kepekaan, dan selalu berusaha terbuka menyerap banyak hal. Ini sama sekali tidak mudah! Sama...4 Comments 5 LikesBeberapa tahun silam, membaca tulisanLeo Babauta, pada websitenya; Zen Habits, tentang finding simplicity in the daily chaos of our lives. Terutama karena di rumah saja, tampak permukaan hari demi hari seolah berjalan baik. Mungkin karena chaos...4 Comments 8 LikesKehilangan sesuatu itu sangat manusiawi dan tidak dapat dihindari. Memang sangat menjengkelkan apalagi jika yang hilang itu benda yang sangat penting. Barusan saya masih mencari-cari barang penting yang sulit mencari gantinya. Token untuk online...9 Comments 5 Likes
-
Tag Cloud