AES 1558 Gloomy
joefelus
Friday January 9 2026, 6:14 AM
AES 1558 Gloomy

Langit berwarna kelabu, begitu rata seolah-olah memang diberi warna begitu, tidak ada bercak-bercak ataupun gumpalan awan sama sekali. Rata, semua sama. Sementara salju yang sangat tipis turun tanpa suara. memberikan keheningan alam yang sudah sekian lama tidak saya nikmati. Selama sekitar 16 bulan saya hidup dalam kebisingan. Tidak ada sedetikpun saya dapat menikmati keheningan yang absolut. Baru akhirnya kali ini saya dapat menikmati kembali semua itu.

Memang kali ini pun tidak tanpa suara sama sekali, saya masih bisa mendengar detak jam dinding, suara getaran dari lemari pendingin juga sesekali heater atau suara dari pipa air yang memang sengaja sesekali dialirkan agar pipa-pipa dalam rumah tidak beku karena suhu di musim dingin. Tapi sungguh saya dapat menikmati keheningan. Biasa kalau hujan saya akan mendengar bunyi tetesan air hujan entah di atap, talang maupun air yang turun ke tanah. Hujan dimusim dingin ini tanpa suara karena turun dalam bentuk serpihan-sepihan es yang ringan sehingga tidak menimbulkan suara apapun ketika bersentuhan dengan benda lain.

Akhirnya salju yang saya tunggu-tunggu itu tiba. Sebetulnya ini yang kedua kali sejak saya tiba di Colorado. Yang pertama masih di akhir tahun 2025, tapi hanya sejenak dan salju langsung lumer tidak ada bekasnya lagi karena udara terlalu hangat. Kali ini agak sedikit menjanjikan, karena lumayan deras walau menurut ramalan cuaca ketebalan salju hanya antara 1 hingga 3 inci saja, itupun masih merupakan ramalan jadi belum tentu benar. Konon sejak akhir tahun ini diramalkan 6 kali akan turun salju, tapi baru kali ini yang dianggap "benar". Tahun ini memang sepertinya menjadi musim dingin yang kering dan hangat. Saya sebenarnya agak kecewa karena berharap dapat mengalami musim salju yang indah. Ya tidak apa, siapa sih yang dapat memerintah alam?

"Did you bring snow with you?" Tanya Lin. Instruktur aqua fitness di Senior Center yang sedang kami kunjungi.

"Hahaha, it's good to see you again, Lin." Kata saya sambil memeluknya.

Lyn adalah wanita paruh baya, atau mungkin seusia saya yang bekerja sebagai instruktur aqua fitness yang dulu selama bertahun-tahun hampir setiap pagi Nina dan saya hadir di kolam renang berolahraga dalam bimbingan dia.

Kami memang sengaja mengunjungi teman-teman di senior center sekedar bersilaturahmi, berbincang-bincang sekaligus memberikan tanda mata kecil berupa bookmark wayang dari kulit yang memang sengaja kami pesan untuk mereka, karena Nina dan saya tahu mereka semua gemar membaca. Teman-teman kami ini memang jauh lebih tua dari kami. Mereka kebanyakan sudah berusia sekitar 80 tahunan. Hebatnya mereka masih terlihat segar bugar, bahkan salah seorang dari antara mereka yang bernama Marty, sudah diatas 90 tahun, masih mengenal kami, berjalan dengan tegak tanpa bantuan tongkat, memegang sebuah gelas dan pergi mengambil kopi di mesin kopi yang memang disediakan untuk dinikmati tanpa dipungut bayaran. Lalu kami semua entah berberapa duduk sambil berbincang-bincang. Saya dulu pernah menulis bagaimana asyiknya mereka, para manula ini menghabiskan masa-masa tua mereka dengan berolahraga, menikmati kebersamaan dengan rekan-rekan sebaya mereka di senior center. Sebulan sekali mereka memilih sebuah restoran untuk bersama-sama menikmati sarapan atau makan siang. Gaya hidup yang menyenangkan dan sehat daripada hanya duduk-duduk di rumah tanpa ada teman seperti yang biasa kita saksikan di tanah air.

Sambil mengemudi dengan leluasa di jalan raya ditemani salju yang terus turun saya banyak berpikir tentang masa tua. Masih puluhan tahun hingga saya mencapai usia teman-teman ini, namun jika melihat kondisi di tanah air, saya tidak akan dapat menikmati seperti yang mereka lakukan di sini. Tingkat kesejahteraan di masa tua masih terselubungi kabut karena saya tidak dapat melihat kecerahan sama sekali. Apakah akan berakhir seperti halnya yang dialami mendiang orang tua saya? Kemungkinan besar begitu. Apakah saya mau seperti itu? Dengan sangat yakin saya akan menolak, karena saya ingin tetap dapat berbuat lebih daripada hanya sekedar duduk sendirian menunggu saat akhir. Bukan ini yang saya cita-citakan. Sesudah bejuang seumur hidup, keluar dari ketidakpastian di kampung, bekerja keras, lalu terlupakan di akhir hayat? Bukan pilihan yang indah!

Rumput-rumput sekarang sudah berubah warna yang tadinya kecoklatan karena kering, sekarang menjadi putih. Entah akan bertahan berapa lama, sebab suhu masih terlalu hangat untuk musim dingin dan masih di atas titik beku sehingga kemungkinan besar akan segera mencair dan hilang tanpa bekas. Seperti hidup jika kita tidak memiliki semacam legacy. Ketika masih bugar dan produktif, kita diterima masyarakat bahkan jika sukses kita dikagumi serta dihormati, begitu selesai, maka kita menghilang dari peran dalam masyarakat, terlupakan dan hilang. Mau begitu? Tanpa sadar saya menggelengkan kepala. Tidak, kata saya dalam hati. Saya ingin walaupun nanti diusia senja, saya ingin tetap seperti salju yang baru turun, diperhatikan orang, bukan seperti yang sudah meleleh lalu hilang terlupakan!