Secara sadar saya semakin mengambil jarak dari operasionalisasi Semi Palar. Sejujurnya ini bukan hal yang mudah bagi saya. Lebih dari dua puluh tahun saya ikut mengawal proses ini dan selama 20 tahun lebih ini pula, ini selalu jadi proses yang bermakna, sangat bermakna bagi saya. Salah satu tulisan saya berjudul Tak Pernah Sama, sedikit menjadi gambaran tentang ini.
Kemarin saya mendahului proses ini bersama kak @diki-muhamad-noor. Sembari saling menyemangati untuk ketemuan pagi sambil gowes, kitapun berbincang. Bagi saya ini bukan hanya koordinasi, tapi juga penyamaan visi dan menyelaraskan frekuensi. Saya juga menggali pandangan-pandangan kak Diki terkait perjalanan Rumah Belajar Semi Palar sampai ke titik ini. Tidak terasa kami berbincang hampir empat jam... Itupun belum tuntas kalau belum diakhiri. Selain bicara proses, kita juga bicara visi, tentang perjalanan Semi Palar ke depan. Apa yang perlu dilakukan agar komunitas ini terus berkelanjutan tanpa bergantung pada para perintisnya atau pada individu tertentu. Kalau ini bisa kita lakukan, berarti Rumah Belajar ini, konsep ini sudah jadi milik bersama dan bisa dijaga bersama-sama keberlangsungannya.
Sejalan dengan proses ini, saya semakin percaya melepaskan diri dari berbagai hal teknis yang sehari-hari digulirkan rekan-rekan Lingkung dan kakak-kakak Semi Palar. Kuncinya sudah kita temukan, bahwa Spirit dan Spiritualitas Rumah Belajar Semi Palar perlu tetap dijaga dan dihidupkan. Boleh dibilang ini adalah akar. Kata yang disampaikan oleh mas Faisal beberapa waktu lalu. Akar ini perlu mencengkram tempat tumbuhnya dengan perkasa. Dari situ apapun perubahan situasi dan tantangan yang terjadi di permukaan akan bisa dihadapi oleh keluarga besar Semi Palar ini.
Foto di atas ini saya ambil saat saya juga hadir belakangan - setelah proses pembukaan perencanaan bergulir dipimpin oleh kak Diki dan rekan-rekan LingKung. Saya mengamati dari jauh, kemudian mendekat dan duduk di belakang. Saya hanya mengikuti prosesnya dan merasakan enerjinya. Sekedar menghadirkan diri.
Sama halnya seperti melepas anak-anak saya sewaktu mereka pergi jauh, saya juga berusaha membaca dan merasakan hal yang sama. Gestur, ekspresi dan enerji keyakinan mereka yang perlu saya rasakan. Soal ini sempat saya tuliskan di tulisan saya yang judulnya No Looking Back. Esensinya sama saja. Saya kira hal ini juga yang dirasakan oleh rekan-rekan orangtua, saat melepaskan anaknya berproses di perjalanan besar di K8, berangkat di penjelajahan KPB dan seterusnya.
Saya bukan pergi, tapi hanya berjarak, supaya Semi Palar bisa tumbuh, bertumbuh dan bertumbuh... Bertumbuh Menjadi Harapan. Salam.