AES006 Si *Sayah
pungkypurwaranti
Saturday January 10 2026, 11:52 AM
AES006 Si *Sayah

"Kalau kita bukan badan, bukan pikiran, apa esensi kedirian manusia seutuhnya?", jadi sebuah pertanyaan pemantik dalam ruang diskusi bersama Kakak-kakak di hari terakhir minggu perencaan semester 2 TP21. Pertanyaan tersebut beberapa kali juga hadir dalam diri saya sebagai individu dalam kurun waktu usia yang akan menginjak 39 tahun "aku ini sebenarnya apa?" (oh my God!). Singkatnya, dalam kurun waktu tersebut pemaknaan diri saya cukup beragam berdasar pengalaman diri. Singkatnya lagi terjawab dengan terpetakan dalam tahap perkembangan, ini pun saya dapat wawasannya saat menjadi fasilitator di Smipa. Saat usia belia (anak-anak) hal-hal yang saya ingat hampir semuanya tentang ‘rasa’. Bahagia itu adalah ketika saya sangat suka, tertarik, bersemangat terhadap sesuatu hal, seperti enaknya permen gulali kacang, harumnya buah kersen, nyamannya dipeluk saat di-nina-bobo-kan, sedih ketika ditinggal orangtua bekerja dan menangis dibawah selimut. Saat memasuki jenjang SMP sampai SMA, saya merasa mampu melakukan banyak hal karena sudah semakin ‘besar’ badannya. Aktif berorganisasi, mengikuti hampir semua ekstrakulikuler di sekolah, sampai orangtua dan kakek nenek bilang “Meni eweuh kacape!” Keaktifan itu masih berlanjut sampai lulus kuliah dan bekerja sampai usia 30-an (masa muda rasa berjaya, hehe). Saat usia mulai kepala 3 itu, saya selalu perlu waktu sedikit untuk mengingat “Berapa usia saya sekarang?” Mengapa begitu, karena saya merasa masih diri saya yang sama. Saat kecil dulu, saya pikir saat mulai dewasa saya akan menjadi orang yang berbeda. Bahkan saat akan memasuki usia 30 saya penasaran, “Saya akan merasakan diri saya yang seperti apa sih?” Akhirnya merasa ‘aneh’ sampai berpikir apakah saya tidak berkembang kediriannya? Tentu banyak khawatir, bingung dan lain sebagainya. Lalu hari demi hari mulai banyak momen aktual yang mengait dengan momen masa lampau yang serupa. Bagaimana bisa saya masih mengingatnya, bagaimana bisa saya masih merasakan yang sama??? Dan menemukan hal-hal spesifik yang masih sama, terutama tentang ‘kenyaman’ diri, seperti kesukaan saya berada di dekat jendela. Saat kecil saya suka berdiam saja di dekat jendela kamar sambil memandang awan berarak di langit, rasanya tenang. Dan hal itu masih saya lakukan saat ini, rasa yang dialami masih sama (padahal sekarang saya sangat rentan masuk angin). Namun, karena tubuh berubah(ada faktor usia, dll), serta beragam hal penunjang kehidupan yang fisik berubah, pikiran juga cukup selalu sibuk, membuat rutin kehidupan perlu disesuaikan supaya tetap menapak dan patepak dengan sekitar(gak asyik sendiri). Dari momen-momen itu, hal-hal itu, pikiran-pikiran itu, rasa-rasa itu, saya kira isi diri saya memang tetap sama sejak kecil dan mungkin sampai nanti. Si saya itu, perlu mawas diri terus. Supaya si badan dan pikiran bisa bersama ‘hidup’ dengan sesuai. Segala hal yang daialami, menjadi momen mengisi isi diri, menyalakan terus cahaya si sayah yang ada, meski pikiran terus menjalar dan badan terus menua.

You May Also Like