Hari ini, seperti biasa, aku membersamai anak-anak Forum Anak di Kelas Minat dan Bakat. Namun, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat hatiku menghangat dan penuh rasa bangga.
Satu per satu, mereka menyanggupi tantangan roleplay menjadi tutor secara bergantian sedangkan aku duduk dan menyimak sebagai pembelajar. Sebuah proses belajar yang tidak hanya mengasah kemampuan berbicara, tetapi juga melatih keberanian dan kepekaan mereka terhadap orang lain. Yang lebih mengesankan, setelah menyelesaikan tantangan, mereka saling memberi umpan balik. Namun, tidak ada kritik yang menjatuhkan. Sebaliknya, mereka memberikan saran yang membangun, penuh apresiasi, dan nyaris tak ada yang memberi nilai di bawah sembilan dari sepuluh.
Dari mereka, aku kembali belajar bahwa menjaga perasaan satu sama lain adalah hal yang penting. Memahami dan menghargai jauh lebih berarti daripada sekadar menilai. Benar adanya, bahwa guru tidak selalu harus mereka yang ahli di bidangnya. Terkadang, guru itu bisa berasal dari anak-anak, dari alam, atau bahkan dari peristiwa kecil yang kita alami sehari-hari.
Semua Guru, Semua Murid
Di Kelas Minat dan Bakat, kami memiliki sebuah budaya kesepakatan: "Semua Guru, Semua Murid." Sebuah prinsip yang ternyata bukan hanya berlaku dalam hal berbagi ilmu, tetapi juga dalam proses bertumbuh. Di sini, batasan antara guru dan murid seakan memudar. Kami bukan sekadar pengajar dan pembelajar, melainkan teman bertumbuh yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.
Aku semakin menyadari bahwa tempat untuk bertumbuh bukanlah sekadar ruang fisik. Tempat itu bisa ada di mana saja, selama kita berproses bersama orang-orang yang memiliki semangat yang sama.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Bukhari "Belajarlah dari siapa pun, karena setiap orang memiliki sesuatu untuk diajarkan."
Hari ini, aku bukan hanya mendampingi mereka, tetapi juga belajar dari mereka. Senang bisa berproses bersama.