Entah sudah berapa lama saya ga bepergian ke Bandung Selatan. Kemarin saya bersama Rico pergi ke daerah Buah Batu, yang membawa ingatan saya ke satu pengalaman berkesan. Di perempatan Buah Batu - Lingkar Selatan saat menunggu lampu merah berganti hijau, saya teringat di sekitar tahun 98, saya sempat nongkrong di pinggir jalan bersama seorang teman. Panggilannya Iweng, dia seniman lukis. Nama aslinya Iwan Bagja Darmawan. Saya sendiri lupa kenal dengan Iweng di mana. Tapi saat itu, karena Krisis Moneter tahun 1998, saya jadi punya banyak waktu. Istilah kerennya ya pengangguran. Seperti situasi pandemi saat ini, krisis moneter menghentikan nyaris segala aktivitas ekonomi. Proyek-proyek yang berjalan mendadak berhenti, banyak perusahaan bangkrut, PHK di mana-mana... Termasuk di kantor saya waktu itu saat masih berprofesi sebagai arsitek, semua proyek-proyek di kantor saya berhenti.
Dalam suasana itu, suatu hari, Iweng kirim SMS ke saya untuk menanyakan sesuatu. Karena nganggur, saya memutuskan berangkat menemuinya. Ternyata dia lagi nongkrong di pinggir jalan - di perempatan Buah Batu - Lingkar Selatan. Sayapun berangkat ke sana. Setibanya di sana saya melihat Iweng sedang mengajari anak-anak jalanan di sana untuk berkesenian... Ada meja kecil di sana, di atasnya banyak kertas dan alat2 gambar. Meja itu terletak di bawah pohon yang dahan-dahannya dibalut alumunium foil - cukup menarik perhatian. Saya menyapa dan menyalaminya, dia menawari saya kopi - yang tidak pikir panjang saya iyakan. Dan sayapun duduk di sana di trotoir di pinggir jalan menemaninya ngobrol sambil berinteraksi dengan anak-anak jalanan di sana.
Ternyata Iweng sedang 'berpameran' di sana. Lukisan-lukisannya dipajang di ruang kosong di bangunan yang tepat ada di sudut perempatan jalan di sana. Dia bilang, biasanya karya seni hanya bisa ditemukan di galeri-galeri. Masyarakat - warga biasa jarang bisa melihatnya. Karenanya dia bilang kali ini saya bawa karya seni ke pinggir jalan. Supaya karya seni yang mendatangi masyarakat, bisa dekat dan dinikmati orang banyak. Keren ya...
Lukisan Iweng sendiri memang unik. Karena lukisannya sambung menyambung dan tidak pernah terputus. Dia melukis di atas tripleks - dan pada saat saya kenal dia, seingat saya lukisan dia sudah sebesar 12 x 9 meter. Iweng masih terus melukis, ukuran lukisannya terus bertambah semakin besar. Di dalam ruangan itu, lukisan-lukisan Iweng memenuhi dinding sampai ke langit-langit... Keren. Jaman itu belum ada hape berkamera. Jadi saya tidak punya rekaman visualnya. 😊
Waktu itu, saya ingat saya ngobrol di sana tentang banyak hal, ngalor ngidul... Seingat saya ada 3 jam lebih saya menghabiskan waktu ngobrol dengan Iweng. Bagi saya pemikiran2 kawan-kawan seniman dan budayawan sangat menarik. Perjumpaan saya dengan mereka sangat memberikan pencerahan, membongkar banyak pola pikir saya karena sudut pandang mereka yang sangat berbeda.
Interaksi saya dengan teman-teman ini sepertinya sangat mempengaruhi bagaimana Konsep Pembelajaran di Semi Palar berkembang. Dari para seniman ini - termasuk dari Iweng - saya sangat terkesan pada semangat mereka dalam berkarya. Saat Krisis Moneter tahun 98, saat sebagian besar perekonomian terpuruk, saya melihat para seniman dan budayawan sepertinya tidak banyak terpengaruh. Selama ada kopi dan rokok, mereka terus berkarya, tetap aktif, produktif, positif... Mungkin karena itu saya senang kumpul-kumpul dan berinteraksi bersama mereka. Mereka punya mentalitas yang menurut saya keren... Di sanalah saya menemukan pemaknaan yang lebih mendalam antara berkarya dan bekerja...
Mungkin dari sanalah muncul pemikiran bahwa di Semi Palar, anak-anak perlu diajak banyak berkarya, menghasilkan sesuatu dalam situasi apapun - dari apa yang ada di sekeliling mereka. Sudah lama sekali saya tidak jumpa dengan Iweng. Mudah2an dia masih ingat saya. Saya masih ingat jelas pengalaman obrolan saya bersama Iweng - di bawah pohon yang berbalut alumunium foil... Salah satu pengalaman yang bagi saya sangat membekas dalam ingatan. Hatur nuhun Iweng...
Seniman terbiasa tergerak oleh dorongan dari dalam dan bukan oleh tarikan yang dari luar. Dorongan dari dalam datangnya dari hati, lebih halus (subtle) sifatnya, perlu kepekaan dan sensitivitas rasa, sementara yang dari luar sampainya di kepala, lebih nyata (gross) dan masuknya ke nalar. Ini sekilas seperti perbedaan kekuatan otak kanan dan kiri, meskipun setiap orang punya kecenderungan dominasi di salah satu sisi tapi yang berlawanan akan selalu jadi penyeimbang dan 'menyembuhkan'. Bukan hal yang mudah karena faktor ketidakbiasaan, sama seperti berusaha menumbuhkan dari dalam dan bukan menanamkan dari luar. Perlu waktu, proses, dan ketekunan.