Semboyan paling terakhir dari tiga rangkaian kalimat Ki Hadjar Dewantara ini sebetulnya memunculkan sedikit misteri. Apa bedanya memberikan dorongan di belakang dengan memberikan semangat di tengah? Sepertinya kita akan cukup kesulitan untuk membedakan kedua hal ini karena merasa sudah melakukan salah satunya dan memang terlihat cukup bersinggungan.
Teringat kutipan K.H. Maimoen Zubair (Mbah Moen), “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar, (sehingga) ikhlasnya jadi hilang. Yang penting (kamu) niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar (itu ada) pada (kehendak) Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
Doa bisa jadi salah satu bentuk dorongan dari belakang yang nyata. Kita sering merasa bingung ketika sudah menyampaikan ilmu dengan metode dan penyampaian terbaik namun tetap ada salah satu murid yang tidak paham. Mungkin kita lupa bukanlah kita yang membuat murid paham, namun Yang Maha Punya Ilmu lah yang punya akses untuk memberikan pencerahan yang mengizinkan mereka paham atau tidak.
Selain doa, saya menginterpretasikan makna dorongan ini juga dengan merujuk teori konstruktivisme di dunia pendidikan. Guru harus melihat murid bukan sebagai gelas kosong yang harus diisi, melainkan manusia yang sudah memiliki isinya masing-masing. Murid sudah mempunyai pengalaman yang bisa dihubungkan dengan ilmu baru yang akan mereka pelajari secara kontekstual.
Guru baiknya tidak memproyeksikan murid untuk memilih profesi tertentu apalagi kalau tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka. Biarkan murid mengeksplorasi ilmu yang akan mereka pelajari dengan acuan ilmu ini bisa bermanfaat untuk diri mereka sendiri, masyarakat, dan lingkungan.
Tugas guru untuk memastikan dan mendoakan murid tidak tersandung atau terjatuh ketika bereskplorasi. Ketika murid terjatuh, guru harus bisa membantu mereka bangkit. Mungkin inilah yang dimaksud di belakang memberikan dorongan. Tut Wuri Handayani.