AES 37 hari-hari
vania
Saturday May 23 2026, 4:24 PM
AES 37 hari-hari

Ini dia beberapa cerita tentang hari Kamis dan Jumat di minggu ini.

Hari Kamis, aku bangun tiba-tiba karena mendengar suara di luar kamar. Ternyata, Kak Bayu sudah tiba di depan rumah, malahan sudah menunggu dari pagi hari namun kami masih tertidur pulas.

Pagi itu, aku masak nasi goreng sosis. Ada menu spesialnya, yaitu ento cothot yang kami pesan, buatan adiknya Pak Joko - koordinator Pasar Papringan.

Setelah itu ada pemberitahuan bahwa listrik akan padam dari jam 8 pagi sampai 3 sore. Seline dan Kak Gina juga sudah berpamitan dengan warga, siap-siap berangkat ke pool travel.

Akhirnya mereka pergi, dan kami pergi ke rumah Pak Joko. Mengobrol sebentar, ditemani dengan kopi dan talas. Beliau membahas mengenai budaya melinting, dan bagaimana Ia memulainya. 

Siang itu, kami makan ayam dan tahu goreng. Ada kakak-kakak dari UMN yang mengajak kami untuk di wawancara di pasar. Kami berjalan ke sana, dan satu persatu di wawancara. Pertaanyannya sederhana, seperti kesan pesan pasar dan makanan favorit.

Lalu, kami pergi ke rumah Bu Sanah dan main kartu 41 serta game berbohong (semacam itulah).

Malamnya kami makan makanan yang sama dengan siangnya. Kami sempat mampir ke rumah Pak Muh tapi beliau sedang tidak ada, jadi akhirnya kami beristirahat.

Hari Rabu, hari ke dua Kak Bayu tinggal bersama kami. Pagi itu, kami merayakan ulang tahun Farzan dengan meniup lilin di atas bakpia kacang ijo khas Temanggung dari Mas Yudhi kemarinnya.

Kami mengikuti sebuah workshop pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang dibuat oleh kakak-kakak dari UMN.

Setelah mendengarkan materi, kami membuat lilin kami sendiri. Namun sayangnya milikku tumpah sedikit karena kurang berhati-hati.

Oh ya, siang itu ada kejadian lucu. Farzan paginya mau beli kangkung 2 ikat, tapi yang dia beli adalah daun singkong. Jadi kami makan daun singkong yang banyak itu, serta orek tempe.

Sorenya, kami jalan menghampiri rumah Bu Uut dan Pak Yadi yang sedang mengerjakan tas anyam. Saat Ara mencoba membuatnya, kami pergi ke sebuah jalan yang belum pernah kami masuki.

Ternyata jalan itu mengarah ke Kali Progo, di bawah jembatan merah waktu itu. Airnya coklat, namun tidak banyak sampah ataupun bau tidak sedap. Kami melihat-lihat sebentar, beristirahat, dan mengobrol.

Di beberapa langkah menuju perjalanan pulang, ada seorang ibu yang mengambil pasir. Ternyata pasir itu diambil dari bagian bawah sungai, lalu di sortir, dan dia bawa ke tempat penampungan.

Ibu yang membawa pasir itu tampaknya sudah cukup tua, ia memasang kain pada badannya - yang di tengahnya ada tempat besar dari bambu. Tempat itu sudah terisi pasir sampai atas. Dengan tersenyum, ia mengangkatnya sekuat tenaga dan berjalan.

Kelihatannya, sangat berat. Katanya memang keseharian seperti itu, dan dari tempat penampungan akan ada mobil yang mengambil pasirnya.

Malam itu, aku tidur pulas. Karena jadwal hari itu sangat padat dan menyenangkan!

You May Also Like