Secangkir teh (karena lagi gak ngopi) menemaniku memulai pagi, kubuka jurnal dan mulai menuliskan beberapa agenda. Sudah berjalan empat bulan aku mencatat rutin dan mulai terbaca juga mana yang masih rendah grafiknya. Targetku tak banyak, tetapi kuusahakan dalam empat puluh hari ke depan bisa bertambah satu kebiasaan yang kujalani dengan konsisten. Apalagi momennya bertepatan dengan akan dimulainya semester baru di tempatku mengajar. Sebelumnya, setiap mulai mengajar selalu ada saja hal yang pelan-pelan kutinggalkan dan tenggelam begitu saja. Harapanku tidak terjadi lagi untuk semester ini, dan bisa terus berjalan agar bisa saling melengkapi.
Usai mencatat kebutuhan, jadwal dan rekapan pengeluaran kuputuskan untuk berselancar di pinterest. Seringkali ide-ide bermunculan ingin menjahitlah, bermain resin, mengulik joint system, dan banyak lagi, tetapi tiba-tiba saja yang muncul pertama kali setelah jariku menekan simbol huruf P dengan background merah adalah quotes “BUAT TANPA TAPI, LAKUKAN TANPA NANTI”, cetar sekali sebaris kalimat itu membangun pagi keduaku di minggu ini. Semesta menghadirkan satu lagi jembatan atas niatku dengan sakti, persis seperti kalimat yang selalu kuhujamkan entah sudah berapa ribu kali untuk menyemangati anakku saat sedang tidak ingin berbuat apa-apa, “Ayo, jangan ditunda, semakin ditunda akan semakin malas mengerjakannya”. Dan kuakui juga memang ada saat-saat dimana aku ingin semua berjalan lambat, lalu kusadari kuncinya hanyalah jangan terdistraksi. Terutama godaan itu datang dari pesan whatsapp dan e-commerce yang sering bikin lupa waktu, seolah menjadi sibuk.
Akhirnya aku memilih untuk mengaktifkan mode senyap dan mengatur kapan saja waktu untuk bermedia serta mengalihkan apa saja yang bisa diakses pada waktu tersebut. Selebihnya kembali fokus pada target harian. Aku kaget sendiri dengan hasilnya, karena ternyata aku masih punya banyak waktu luang hanya dengan menghilangkan satu kebiasaan; membuka pesan setiap kali terdengar bunyi notif yang mengakibatkan jempolku lanjut membuka aplikasi lainnya. Tapi sisi lainnya adalah aku tidak bisa membalas pesan di waktu yang dibutuhkan, ya, itu saja masalahnya. Nah, orang-orang terdekatku sudah hafal dengan kebiasaan ini, jika dirasa sangat penting tinggal telpon saja pasti akan kuangkat seperti perjanjian tak tertulis.
Kembali pada kalimat “BUAT TANPA TAPI, LAKUKAN TANPA NANTI”, ini akan kupakai untuk mengawali semester ganjil yang dimulai senin depan. Itu saja dulu targetku; sebab kusadari ruang bermainku disini butuh berlari, dan agar aku nyaman berlari aku harus menyiapkan segala kelengkapannya dengan baik. Banyak program baru di tingkat lanjut yang kurasa butuh diperkenalkan sejak di tingkat dasar, tentu akan menjadi tugasku juga sebagai pendamping teman-teman mahasiswa berproses. Tak ada bedanya kurasa dengan kakak-kakak di smipa sebagai fasilitator, tujuannya kan jelas membantu anak-anak agar bisa lepas landas dengan mulus. Satu hal yang menjadi semangatku adalah pesan dari dosen seniorku bahwa “Tugas kita bukan membuat mereka pintar, tapi membuat mereka menyadari potensi yang dimilikinya”, kurasa pada akhirnya memang hati nuranilah yang bekerja. Para mahasiswa ini sebagai klien yang kebutuhan belajarnya harus dilayani dengan baik, meski disisi lain selalu ada saja tuntutan untuk membesarkan hati mereka agar semangatnya gak pernah hilang. Oke, stop disini. Aku ingin menertawai diriku.
Aku menyadari situasi antara aku dan mahasiswaku, kemudian aku dan anakku. Mereka sama-sama harus menjalani pembelajaran jarak jauh dimana aku sebagai pengajar merasakan ketidakhadiranku secara fisik. Kebosanan bukan hanya milikku saja, mahasiswaku pun merasakan hal yang sama. Bukan karena tatap layar yang menjadi kendala tetapi ada pada keinginan mereka untuk mencaritahu. Maka, sebanyak apapun metode yang aku berikan untuk menarik perhatian mereka, kalau dari dalam dirinya tidak punya ketertarikan ya percuma. Jadi, bukan metodenya yang harus diubah untuk memudahkan tetapi bagaimana aku mengemas materi menjadi sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya mereka. Oke, aku merasa tercerahkan. Sebentar aku duduk tegak dulu.
Seperti yang kusebut dalam essay pertamaku bahwa memulai sesuatu itu harus dipaksa, kali ini pun aku memaksa diriku untuk bersikap lebih rileks dalam mempersiapkan materi ajar. Kurasa aku bisa mengadaptasi bahasan pada rapat pengampuan tingkat universitas kemarin, mengenai cara untuk mendapatkan atensi dari mahasiswa. Menarik sekali dua nama besar Prof Ichsan Setya Putra dan Prof Khoirul Anwar membagi wawasan dan pengalamannya, yang saya sepakat bahwa keinginan belajar memang harus muncul secara berkesadaran (terdengar akrab ya) terlepas apapun gaya belajarnya, sebab pada prosesnya ini bukan cuma sekedar transfer ilmu, tapi mereka mampu menemukan sendiri sisi pemahamannya.
Kesimpulannya, aku gak bisa menjadikan “Buat tanpa tapi, lakukan tanpa nanti” sebagai slogan bersama kalau kesadarannya sendiri belum muncul. Jadi pe-er utamanya ya memunculkan dulu rasa percaya mereka terhadapku yang akan mendampingi, baru bisa mengajak mereka punya peran yang aktif di kelas.
Sekian, tehnya sudah tandas dan berganti coklat panas. Hehe...