Salam kenal. Saya Adi. Ini akan menjadi tulisan pertama saya, sejak hampir setengah tahun lalu Kak Andy mengajak saya untuk menulis di Ririungan Semi Palar. Semoga tulisan ringan ini layak untuk dibaca dan bermanfaat di jalannya sendiri.
Sekitar setahun yang lalu, kami mengadopsi Odo, seekor kucing jantan Persia medium. Beberapa bulan kemudian, kami menambahnya dengan mengadopsi Mumun, seekor kucing Himalaya betina yang sedang menyusui empat anak. Kita mengadopsi mereka karena desakan anak-anak (manusia) kami yang ingin punya hewan peliharaan. Kami mengabulkan desakan mereka dengan tujuan mengajarkan tanggung jawab dan komitmen. Dan untuk hal ini, rasanya masih berjalan lancar sesuai rencana sampai saat ini.
Tapi, pergulatan urusan kucing ternyata tak seindah konten Reels di Instagram. Minggu pertama si Mumun tiba-tiba kleyengan kayak orang kebanyakan minum miras. Segera kami bawa ke klinik hewan. Si Mumun di infus dan harus dirawat inap tiga malam. Beruntung si Mumun selamat. Dokter bilang si Mumun kelelahan dan kekurangan kalsium karna menyusui keempat anaknya. Selesai kasus si Mumun, seminggu kemudian, dua dari empat anaknya terserang diare parah. Dua anak si Mumun meninggal. Dengan penuh derai air mata, kami memakamkan dua anak si Mumun di halaman rumah. Tak lama, anak ketiga terserang juga. Hampir seminggu dia dirawat di klinik, walau akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumah karena klinik sudah menyerah. Kami menangis malam-malam melepas kepergiannya. Tersisa satu anak si Mumun yang sehat hingga hari ini. Larry, begitu kami panggil dia.
Tanggal 4 Mei lalu, di hari ketiga Lebaran, si Mumun melahirkan empat anak. Hasil perkawinannya dengan si Odo. Bersyukur hingga hari ini keempat anak si Mumun sehat. Kami panggil mereka dengan panggilan Oreo, Kastengel, Nastar, dan Choco. Sesuai tradisi Indian yang memberi nama sesuai dengan benda yang terlihat saat kelahirannya. Dan, benda pertama yang terlihat saat kelahiran mereka adalah kue Lebaran yang masih terhidang di meja makan. Sekarang mereka sudah mulai belajar berjalan. Besar harapan kami Oreo, Kastengel, Nastar, dan Choco sehat selalu dan menjadi anak yang membanggakan orang, eh kucing tuanya. Karna ternyata mengadopsi kucing itu bikin banyak kisah, dari komedi hingga tragedi, yang menguras air mata hingga dompet. Tapi, rasanya si Mumun dan keluarganya sudah memberi banyak pelajaran untuk anak-anak (manusia) kami. Bukan hanya belajar tangggung jawab dan komitmen, tapi juga belajar bergembira, bersedih, empati, dan menghargai mahkluk hidup lain.
Waah, nuhun pisaan Adi. Selalu bahagia menyambut penulis baru di Ririungan. Ini juga keren, judulnya tentang kucing, ceritanya holistik banget - multi dimensi. Semoga bersambung ke tulisan-tulisan berikutnya. Kalau sudah mencapai 5 tulisan mangga ditandai dengan kode AES - baca panduan menulis AES supaya betul-betul bisa jadi Atomic Essay yang berkesinambungan. ππΌπ
Baik Kak Andy, terimakasih untuk arahannya