"Hei kamu! Manusia macam apa kamu?!"
"Hhhh..berisik. Berisik. Pergi sana."
Saya tidak tau kapan dia akan pergi. Saya sering bergurau semi serius berkata padanya,
"Heh kamu! Kamu tuh kayak pernikahan, kayak parenting, kayak kematian. Ga ada orang yang benar-benar siap kenalan sama kamu."
Ngomong-ngomong soal senda gurau yang serius, saya pikir senda gurau itu sebuah bentuk kejujuran dan keseriusan. Hal yang sering orang gunakan sebagai fasad saat ia mencoba lari dari tanggung jawab. Saya selalu mengambil serius sebuah gurauan. Selalu ada unsur kebenaran hakiki dalam gurauan apapun, dan saya menghakimi seseorang dari gurauannya. Do judge the book by its joke! Menambah penghakiman saya di atas, kembali saya berkata padanya. Ralat, kembali saya menghakiminya tanpa ampun,
"Kamu ga lucu, kamu insensitif, dan kamu menyebalkan."
"Tapi saya jujur. Apa adanya."
"Yeah, my kind of worst nightmare. Kamu menyusup melesap sampai relung-relung terdalam, yang saya sendiri bahkan tidak sadar sedang menutupinya...dari diri saya sendiri."
"HAHAHAHAHAHA konyol!"
"Jeli yang dari Jepang?"
"Itu Konyaku! Ga lucu."
"Kamu juga ga lucu. Pergi sana."
"Ga mau."
Percakapan seperti tadi terus berulang terjadi di mana saja. Setiap hari. 24 hours a day, 7 days a week. Gila. Walau saya membencinya, kenyataan yang mengharuskan saya berdampingan dengannya membuat kami punya relasi yang lucu. Mungkin seperti Ahjussi Goblin dan Grim Reaper di serial korea "Goblin", seperti Winter Soldier Bucky dan Falcon di serial "The Falcon and The Winte Soldier". Seperti Petruk dan Gareng.
Kami sedang menunggu masuk untuk bertemu dengan si beruang madu yang malas..
"HEI! Beruang MUDA! Dan saya TIDAK MALAS. saya hipster penganut work-smarter-not-harder!"
Ya..ya..omong kosong. Mana ada work smarter tidak melibatkan kerja keras. Kalau benar ada, itu namanya "penipuan". Semua "kerja" itu pasti berat. Coba tanya saja sama Togok, atau Semar sekalian. Omong-omong, kok dia mendengar, sih. Saya pikir tadi saya sedang bergumam pada diri sendiri. Kok dia dengar? Anyway..saya perlu konsultasi, atau sekedar melepas penat saja. Saya perlu mengutarakan ini pada sesosok. Makanya saya pergi ke sini. I feel violated. Belum pernah ada yang berhasil menghadapkan cermin sebesar doblang di muka saya, dan memaksa saya tinggal di depannya dan mematut diri sendiri. Saya bisa lihat semua diri saya. Seutuh-utuhnya. Sampai bagian-bagian yang tidak ingin saya lihat atau sadari. Bahkan saya bisa melihat cerita pahit serupa bekas jerawat atau bekas luka yang selama ini tidak saya sadari keberadaannya. Atau memang sengaja saya lupakan saja, supaya hidup saya tampak dan terasa baik-baik saja.
"Mau sampai kapan?"
"Apa?"
"Mau sampai kapan kamu merasa hidupmu baik-baik saja?"
"Situ ngomong sama saya? Saya kan ga ngomong apa-apa sama situ!"
"Tuan Ko!" Beruang madu, eh, muda, memanggilnya. Pilihan giliran pertama untuk masuk rumahnya, jatuh padanya.
Saya protes, "Kok dia dulu? Giliran saya kapan?"
"Sabar. Dia dulu. Kamu tidak tau, dia sedang menghadapi persoalan yang sangat berat."
Tuan Ko masuk dengan wajah ceria. Hampir menyebalkan karena keceriaannya seperti mengejek saya tepat sasaran sampai membuat saya ingin berkata kasar.
"ASPAL! Apa masalahnya, Beruang? Lihat, lihat! Dia bahkan masuk sambil tersenyum dan loncat-loncat kecil! Dia lakukan itu sengaja untuk membuat saya kesal. Apa masalahnya?"
Beruang lalu dengan segera memegang erat bahu saya, seperti ingin menyalurkan energi atau kekuatannya sebagai bentuk empati, mendekat pada telinga saya, dan memasang gestur membisik sambil melirik tuan Ko yang sudah masuk ke rumahnya,
"Cyberbullying. Kamu tidak tau dia dihujat orang satu dunia. SATU DUNIA mengantagoniskan dia. Hampir dijadikan kambing hitam, bahkan oleh negara-negara yang gagal menjalankan tugasnya untuk menyejahterakan rakyatnya. You can never imagine what one going through only from your lense. Be kind."
Empati saya mati rasa. Terutama untuknya. Dan cermin-cermin refleksi yang membuat saya ingin lari dari diri sendiri. Tapi tidak bisa. Saya melirik kertas antrean yang dipegang Beruang, membaca namanya,
"Ko Sarsvid II"
kemudian membaca nama saya di bawahnya,
"Rakjat".
Waaa. Terima kasih posting pertamanya Mita... Betul kan ya? Nebak-nebak dari foto dan namanya. Terima kasih sudah meramaikan menulis di sini... Great first post. 👍🏼😍
waaa baru bacaaa :D terima kasih Kak Andy! betul ini Mita