“It takes a village to raise a child”
..
“It takes a village to raise a love for literacy”
Semi Palar, lagi-lagi saya merasa beruntung semesta menunjukkan saya menjadi bagian dari komunitas ini. Dimana semua elemennya belajar, tidak hanya anak, tetapi orang tua dan banyak elemen lain yang juga ikut belajar. Untungnya, sama seperti anaknya, orang tua pun belajarnya tidak sendirian, belajarnya bersama dengan ibu-ibu dan bapak-bapak lainnya.
Literasi.. dulu rasanya sempit sekali mengartikan literasi hanya kegiatan membaca, padahal literasi sangat luas lingkupnya (membaca buku & sekitar, menghayati, mengerti, dst.). Untuk saya baru di tahun ini saya mengikuti Festival Literasi Smipa secara lebih dalam dibandingkan tahun lalu. Saya melihat bagaimana Rumah Belajar ini berusaha mengentuh berbagai lini literasi, dan hebatnya semua diusahakan menggunakan sumber daya yang dimiliki. Pakai yang dimiliki dulu sebelum merambah keluar. Ini saja sudah keren sekali dan saya yakin masih banyak yang belum terambah.
Ikut merancang kegiatannya saja bikin saya yang sudah tua punya semangat seperti anak kecil yang ingin ikutan ke setiap acaranya, workshop, situbuncang, bursa.
Workshop, terbayang serunya cerita dalam yang dibagi, bagaimana tidak semuanya bercerita tentang pengalaman sungguhan.. ada yang sampai bawa kayak segala.. ingin sekali mendengar perjalanan kopi, apalagi mendengarkan dramatic reading & dongeng, alhamdulillah masih diberi kesempatan ikutan bercerita di sesi dongeng KBTK.
Situbucang (Silih Tukeur Buku Rencang), salah satu sesi FestLit paling epic menurut saya. Semua elemen yang ngga kebagian peran di tempat lain selalu bisa ambil bagian disini.. dari mulai memilah buku mulai dari rumah, memilihkan buku-buku yang akan punya rumah baru, ketika semua buku itu terkumpul mulailah sortiran beratus-ratus buku, bikin mata lapar ingin melalap cerita-cerita seru di dalamnya. Melihat dari buku-buku yang dikumpulkan, saya merasakan bahwa anak-anak dan ortu memang ingin berbagi cerita dari buku-buku tersebut, seperti ada yang berbusik “baca geura buku ini teh seru!” ada beberapa yang sampai bikin saya terpana wah buku ini mau ditukerin?? Karena untuk saya mah pengennya disimpan saking bagusnya, tapi ternyata dibagikan justru bisa menebar keseruan buku tersebut dengan temannya, benar-benar silih tukeur. Dan ketika hari tukeran tiba, melihat ekspresi anak-anak buku mana yang akan diadopsi bukan main rasanya, berburu dengan mata yang jelalatan, sorak bahagia dapat buku incaran, ditambah bumbu-bumbu penyedap penyemangat dari para MC kondang, membuat acara tukeran makin meriah.
Bursa, uniknya disini bukan cuma sekedar belanja, banyak yang mensortir buku yang masih layak untuk dijual, dituker sayang maunya dijual, uangnya buat keperluan lain, untuk beli buku inceran lain.. dan berharap orang yang membeli bukunya akan menjaganya dengan baik. Hebatnya, para penjual di bursa sangat menjaga amanah pemilik buku, dengan hati-hati listing semua buku yang mau dijual, menjajakan dengan semenarik mungkin, semua dengan tak mengharap imbalan, kesenangan dengan bukunya terjual saja rasanya cukup. Kemudian, memilih toko-toko buku “tidak umum” untuk ikutan memperluas wawasan tentang buku-buku yang ada diluar sana.
Tahun ini masih banyak yang belum bisa dilakukan, cukup saja sesuai dengan batas kemampuan. Semoga tahun depan bisa ikut menyemarakkan kembali.
Salut dengan semua elemen Semi Palar yang berkontribusi tanpa pamrih, semua dengan satu tujuan menunjukkan bahwa “literasi itu seru”.
Sekarang tinggal meneruskan di rumah, membaca buku hasil buruan, diskusi, menjaga kehangatan api serunya literasi. Tahun depan disemarakkan kembali agar apinya berkobar kembali, terus begitu sampai jadi obor yang terus menyala sepanjang hayat.
*photo by bubuy (FestLit 2023)
terima kasih sudah berbagi, senang sekali membayangkan dari jauh srkaligus iri karena dulu ketika saya di smipa bekum ada yg seperti ini.