Hari ini untuk kesekian kalinya saya akan berkumpul dan makan malam dengan teman-teman native American eks militer. Mereka adalah sahabat kami yang sangat ramah dan baik hati. Suda beberapa kali kami berkumpul dan menikmati makanan yang masing-masing kami buat. Saya sudah pernah membuat makanan ala Vietnam dan thailand, Membuat kudapan ala Indonesia beberapa kali seperti pastel, risoles, bahkan kue soes versi Hawaii. Hari ini saya akan memperkenalkan kue lapis. Bukan Lapis legit atau kue lapis Surabaya, tapi kue lapis kukus yang lentur, kenyal dan berwarna hijau dan putih seperti yang biasa saya peroleh di tempat penjual jajanan pasar.
Ini adalah kali yang pertama saya membuat kue lapis. Saya dulu lebih suka membeli atau menikmati yang orang lain buat. Hanya saja, standar saya cukup tinggi, saya tidak suka kue lapis yang tidak kenyal dan tidak bisa dinikmati dengan mengupas setiap lapisannya. Hahaha.. Kenapa begitu? Karena sejak kecil saya gemar makan kue lapis ini dan sejak kecil pula saya selalu menikmatinya selapis demi selapis dengan mengupasnya. Seru, asyik dan juga dapat memastikan bahwa kue lapis ini berkualitas bagus, sebab kue lapis yang tidak bagus tidak bisa dikupas begitu saja, juga saya menyukai lapisan yang sangat tipis-tipis. Itu menandakan bahwa pembuatnya sangat sabar dan juga telaten dalam membuat karyanya. Kue lapis itu adalah karya seni, karena tidak hanya enak tapi juga indah.
Karena saya belum pernah membuatnya, Maka saya harus mencari tahu terlebih dahulu. Terus terang, karena dulu di Bandung saya dapat dengan mudah membelinya, juga harganya tidak terlalu mahal, maka saya lebih memilih membeli. Kali ini karena tidak ada yang menjual dan juga belum tentu ada teman yang bersedia menerima pesanan hanya untuk 12 potong kue lapis, saya berniat membuat sendiri. Untuk bisa membuat sendiri, tentu saja saya harus mencari tahu. Saya harus yakin bahwa nanti yang akan saya buat memenuhi kriteria dan kualitas yang saya sukai, hahahaha. Saya mulai mencari resep dari berbagai media selama beberapa hari terakhir, bahkan saya menonton beberapa unggahan di media. Saya harus yakin bahwa nanti yang saya buat adalah yang kenyal dan dapat dikupas lapis demi lapis.
Akhirnya saya menemukan yang cocok dan epajang pagi saya berusaha membuatnya. Ternyata membuat kue lapis ini sangat mudah hanya saja membutuhkan banyak waktu, semakin banyak dan semakin tipis lapisan yang diinginkan berarti membutuhkan kebih banyak waktu. Setiap lapisan setidak-tidaknya membutuhkan waktu 5 menit. Tapi bagi saya itu sama sekali tidak menjadi masalah karena sambil menunggu setiap lapisan dibuat, saya dapat mengerjakan hal lain.
Kano menjadi penguji hasil yang saya buat. Sejak kecil dia menyukai jenis kue ini dan ketika sudah saya potong-potong, Kano dengan senang sekali mengupas lapisan demi lapisan ketika menikmatinya.
"It reminds me of having this in Bandung. I love it!" Kata Kano.
Kano biasa saya jadikan kritikus makanan sebelum saya berani membawa hasil makanan yang saya buat untuk orang lain. Untuk percobaan pertama, saya cukup puas dengan hasilnya. Jika nanti saya akan membuat lagi, warnanya akan saya buat lebih pekat agar batas sertiap lpisan lebih terlihat. Yang pertama ini warna hijaunya kurang kuat sehingga walaupun sebenarnya lapisannya sangat tipis, masih terlihat tebal-tebal karena warna putih dan hijaunya kurang kontras.
Saya bawa kue lapis ini untuk acara makan malam di tempat teman-teman saya. Disamping kue lapis, saya juga membawa malasadas dengan isi Irish cream dan Strawberries. Makan malam kali ini bertemakan Irlandia, karena kebetulan besok adalah St Patrick's day, yang juga dianggap santo oleh orang-orang Irlandia karena agama Kristen di Irlandia katanya dibangun oleh St. Patrick di sekitar abad ke-5. Nah biasanya ada arak-arakan di kota-kota besar di Amerika. Pesta juga biasanya menyajikan makanan Irlandia seperti Corn Beef, kentang dan kubis, lalu roti soda dan tidak jarang juga miniman beralkohol seperti Irish Cream, Irish beer seperti misalnya Guiness, maupun Irish Whiskey. Nah itu yang kami nikmati malam ini.
Ketika mulai menikmati dessert, kue lapis dikeluarkan. Nina dan saya bercerita tentang masa kecil dimana kami biasa membeli kue ini sebagai jajanan pasar, banyak penjual kaki lima yang menjajaka kue ini lalu bagaimana cara kami menikmatinya. 1 kontainer kue lapis yang saya bawa laris manis. Dan, saya tersenyum-senyum lucu karena semua bule-bule dan Gil serta Angela yang adah orang Indian (American Indian, native American) juga ikut-ikutan mengupas kue lapis ini selapis demi selapis dan menikmatinya. Hahahaha... Saya senang sekali karena tidak hanya menyajikan makanan khas Indonesia, tapi juga mengajarkan mereka tentang kebiasaan kami. Saya tidak tahu, apakah teman-teman juga makan kue lapis seperti kami dengan mengupasnya selapis demi selapis? Hahahahaha...