AES 650 Lagi, Tentang Kebahagiaan
joefelus
Sunday March 5 2023, 2:28 AM
AES 650 Lagi, Tentang Kebahagiaan

Seorang psikolog benama Sonja Lyubomirsky pernah berkata bahwa 50 persen kebahagiaan manusia sebetulnya sudah ditentukan secara genetik. Atau istilah dia adalah genetically predetermined. Maksudnya tanpa kita berbuat apa-apa sebetulnya sudah menjadi default bahwa setengah dari kita sudah bahagia.

Saya ngobrol tentang itu dengan Nina. Terus komentar dia yang membuat saya menjadi agak termenung. Nina bilang itu kalo secara ilmiah, bahwa secara genetik kita sudah 50 persen bahagia, tapi kalau dikaitkan dengan iman, istilah yang dia ambil adalah faith, kebahagiaan sudah di- embedded oleh Yang Kuasa, nah itu yang disebut dengan religion. Katanya! Hmm...

Biasanya Nina tidak terlalu suka ngobrol yang dalem-dalem (itu istilah dia) karena sudah hampir 24 jam sehari dia berkutat dengan formula, komputasi untuk mengolah logical thinking yang harus dia kerjakan untuk desertasinya, jadi kadang-kadang kalau saya menyodorkan sebuah topik yang agak filosofis, dia ogah menimpali atau ikutan membahas. Dia tidak tertarik dan saya sangat faham kalau dia tidak tertarik karena dia sudah lelah. Mangkanya pagi ini ketika saya mengatakan bahwa ada seorang psikolog berkata bahwa 50% kebahagiaan manusia sudah di-predetermined secara genetik, dia nimbrung malah memasukkan unsur agama atau kepercayaan yang membuat saya termenung.

"Coba aja pikir", katanya. "Fate manusia itu katanya sudah ditentukan, nah itu khan keyakinan, diajarkan oleh agama." Lanjutnya.

Memang iya juga, pikir saya. Istilah kehidupan sesudah kematian, istilah sorga dan firdaus kalau tidak kita pelajari dari agama dan keyakinan, dari mana lagi? Bahkan ada parable atau perumpamaan yang sering saya dengar atau saya baca dari kitab suci, sekolah minggu atau khotbah pastor yang menceritakan bahwa manusia tidak perlu khawatir karena burung-burung saja yang tidak pernah menuai dan menanam tapi tidak pernah mati kelaparan. Jadi kebahagiaan memang sudah dijanjikan! Nah, Nina bener juga pikir saya. Hahaha... Tumben!

Kembali ke perkataan Sonja Lyubomrisky tadi, (Semata-mata karena sebetulnya saya tidak mau membahas soal agama atau kepercayaan, sebab saya bukan pastor yang senang khotbah hahaha), logikanya kalau itu betul, sebenarnya kita hanya butuh usaha yang sangat kecil untuk bisa lebih bahagia. Coba saja pikir, kalau kita sudah setengah bahagia secara genetik dan tanpa perlu melakukan apa-apa, maka dengan sedikit usaha saja kita akan menjadi lebih. Nah kalau sudah begitu, usaha kecil apa saja yang bisa kita lakukan?

Ada yang berkata, kalau mau bahagia maka lakukan sesuatu yang kita sukai, keep doing what you can do well. Nah ini anjuran yang saya kira sangat mudah kita lakukan. Kalau kita jago membuat orang tertawa, lakukan itu terus. Selain kita menjadi selalu senang karena melakukan susuatu yang kita sukai, kita mahir lakukan, juga akan membuat orang lain bahagia. Kenapa tidak? Atau seperti saya yang senang masak, tadi pagi Nina akan menggoreng telur untuk sarapan. Iseng-iseng saya buka kulkas dan saya menemukan kimchi, sisa Spam, sayuran seperti kol, wortel yang sudah dirajang dan bayam. Saya bilang ke Nina kalau saya mau membuat nasi goreng kimchi. Dia langsung mematikan kompor dan tidak jadi membuat telur goreng dan keluar dari dapur dengan senyum-senyum. "I'll eat kimchi fried rice, instead." Katanya. Hahahaha... Hal kecil semacam itu sudah membuat bahagia, dan bagi saya membuat nasi goreng bukan pekerjaan yang berat, malah tidak pernah saya anggap pekerjaan, tapi justru hiburan. Saya bahagia karena bisa mengerjakan hobby dan sekaligus membuat orang lain juga senang karena bisa menikmati sesuatu yang lebih enak daripada hanya sekedar nasi dan telur ceplok. Iya tidak?

Atau katanya jika membantu orang lain membuat bahagia, kenapa tidak semakin rajin melakukan itu? Saya pernah menulis bahwa "being useful" bisa dijadikan sebagai tujuan hidup karena itu membuat orang bahagia. Atau menulis esai di AES yang saya lakukan setiap hari. Menulis itu membuat saya bahagia, membuat saya berpikir dan membuat saya menyempatkan diri untuk merenung dan berpikir serta ngobrol yang "dalem-dalem", membuat saya terus menerus belajar sesuatu yang baru. Kenapa tidak? Kalau mau menulis khan secara otomatis kita juga harus memikirkan fakta dan data serta informasi pendukung bukan? Misalnya saat ini, jika saya tidak mau menulis tentang kebahagiaan, darimana saya bisa tahu bahwa Sonja sang psikolog ini pernah mengatakan bahwa manusia sudah punya default 50% kebahagiaan? Nah itu artinya saya belajar sesuatu yang baru bukan? Lalu saya tulis di sini dan mudah-mudahan ada yang baca sehingga yang saya ketahui juga bisa menular ke orang lain. Apakah itu tidak membuat bahagia? Nah menyenangkan bukan?

Satu lagi, olahraga! Teman-teman di Smipa setiap Jumat suka main badminton. Selain membuat tubuh segar dan sehat, juga bisa membuat teman-teman lain tertawa karena ada yang suka iseng mengedit foto yang ditampilkan di WAG orang tua sehingga pagi-pagi banyak yang tertawa-tawa karena lucu. Apakah usaha menjadi bahagia itu sulit? Sebetulnya kalau benar-benar kita pikirkan tidak juga ya? Hal-hal kecil dan tidak berarti kadang cukup membuat kita tersenyum dan bisa memulai hari dengan mood yang jauh lebih baik. Hmm.. Sekarang mungkin saya percaya bahwa yang dikatakan oleh psikolog itu tidak meleset.. Kita memang sudah punya modal untuk bahagia walau baru 50% itu sudah cukup banyak tinggal ditambah usaha kita sedikit sudah lebih bahagia, semakin banyak usaha, mungkin kita bisa menjadi sangat bahagia. Nah selamat berusaha!

Foto credit: studentsofyogibhajan.com