AES66 Penjelajahan Kelompok Honai (Melindungi Nirmala Loka - Bagian Kedua)
finsjournal
Friday May 12 2023, 6:42 PM
AES66 Penjelajahan Kelompok Honai (Melindungi Nirmala Loka - Bagian Kedua)

Ngalanglang, kami melanjutkan perjalanan selanjutnya yang merupakan sesi terakhir dari penjelajahan kami, mengenal budaya masyarakat desa. Kami berkunjung ke salah satu rumah warga pembuat opak, yang merupakan salah satu makanan khas di sana. Kami disambut dengan wangi aroma beras ketan, tungku yang menyala, alat tumbuk dari kayu yang sangat besar, serta adonan yang siap cetak. Bu Engkom namanya, yang siap berbagi cerita dan memberikan pengalaman tak ternilai membuat opak kepada teman-teman Honai. Bahan utama beras ketan dan kelapa yang sudah dicampur, dikukus dalam panci di atas kompor. Sebenarnya ada hawu di bagian belakang rumah yang biasa Bu Engkom gunakan, namun sepertinya melihat kebutuhan ruang yang cukup besar untuk kami semua, mereka memindahkan proses pengukusan, menumbuk, dan mencetak adonan ke dalam dapur rumah. Dapur rumahnya tentu saja lebih luas dari area ruang tamu di rumah saya… (^0^)

Kukusan dikeluarkan dari panci, terlihat uap panas yang mengepul, akan tetapi karena harumnya mengundang selera, walaupun panas, kami semua tertarik untuk lebih mendekat. Adonan tersebut dimasukkan kedalam alat tumbuk, lihat! Alat tumbuknya saja lebih tinggi dari tinggi badan anak-anak… Menurut Bu Engkom, menumbuknya tidak bisa sembarangan, dari atas ke bawah dilakukan dalam satu gerakan, satu garis lurus. Karena penasaran, saya sempat bertanya mengapa harus begitu, jawaban beliau memang kurang menggenapi rasa penasaran saya sih... Mungkin karena beliau memang tidak terbiasa kedatangan banyak orang, dan tidak terbiasa untuk menjelaskan sesuatu dengan sistematis seperti kita. Jawabannya gaya khas warga desa, “Ya memang begitu, Neng!”

20230510_130951.jpg 20230510_134018.jpg 

Setelah adonan menjadi kalis, ulen itu yang kita kenal. Teman-teman Honai dengan antusias mencoba menumbuk dan mencicipi adonannya. “Kak, ininya aja udah enak, belum jadi opak.” ujar salah satu anak, dan beberapa anak teramati berkali-kali mencoba adonannya dalam sebuah piring plastik kecil, termasuk Kakak juga, sambil mendokumentasikan kegiatan, mengamati anak-anak, mulut ini tetap mengunyah. (^.^)v

Lokasi pengamatan berpindah ke area belakang rumah, hawu berada di bagian dalam, dan kami menuju ke bagian luar. Disana sudah ada sebuah alat yang cukup sederhana terlihat, terbuat dari seng berbentuk balok yang berisi arang dengan dua buah cekungan sebagai tempat menyimpan penyangga yang disebut kiciran dimana adonan-adonan opak yang sudah dicetak menjadi bentuk lingkaran dimasukkan kedalamnya. Proses pembakaran dibantu menggunakan kipas angin. (lihat gambar) Mungkin kalau versi tradisionalnya, dikipas pakai hihid ya… 

Bu Engkom dengan lihainya memutar kiciran dalam satu arah. Butuh beberapa menit saja untuk membuat adonan opak matang berwarna kecoklatan, tentu saja diiringi aroma semerbak dari beras ketan dan kelapa. Kali ini, teman-teman Honai tidak bisa mencoba satu persatu, karena keterbatasan tempat dan juga alatnya sangat panas.

kiciran.png 20230510_134606.jpg 

Teman-teman Honai semangat dan tidak sabar untuk memakan opak yang sudah matang, berbagai macam ekspresi mereka tunjukkan, dan tentu saja kata “enak”, “aku baru pertama coba” adalah yang paling banyak diujarkan. Bahkan salah satu anak mendapatkan inspirasi ingin membuat bisnis opak di Bandung, Ayahnya pasti akan membuatkannya alat pembakaran seperti yang digunakan Bu Engkom, tetapi akan dibuat lebih modern katanya. (^.^)

Ada cerita lain dibalik sejarah opak ini. Menurut Kang Udan, Bu Engkom ini merupakan warga desa yang mau mencoba berinovasi membuat opak dalam ukuran yang lebih kecil dari ukuran opak biasanya, dengan diameter sekitar 9 cm. Saat orang menikmati opak untuk pertama kali, jika ukuran opaknya besar, mereka cenderung cepat bosan mengunyah bahkan sebelum opaknya habis. Tetapi dengan inovasi ukuran lebih kecil, habis dalam tiga gigitan, biasanya mereka cenderung mau nambah lagi. Walaupun secara prosesnya akan lebih memakan waktu, yang membuat warga lain belum beralih cara dalam pembuatan opak ini. Opak dibandrol dengan harga 25 ribu rupiah per paket, yang terdiri dari 100 keping opak. Ada yang tertarik untuk membeli? Dalam kondisi hangat, baru diangkat dari kiciran, rasanya jauh lebih enak, lho! (^.^) 

Kegiatan membuat opak ini sekaligus melatih kemampuan numerasi, teman-teman Honai saling berujar, jika 100 keping dijual dengan harga Rp25.000,- maka berapa harga satu keping opak? Semua tampak menghitung dengan serius hingga ada satu anak yang menjawab dengan cepat dan tepat. Hebat!!

20230510_143359.jpg 20230510_143917.jpg

Tidak terasa, penjelajahan kami sudah sampai di akhir. Teman-teman Honai melengkapi jurnal mereka di Saung Mulan sambil menikmati camilan sore hari, bercanda gurau sambil melihat pemandangan, bahkan anak laki-laki tak hentinya mencoba membuat suara dari selembar daun. Pemandangan langka, melihat mereka saling bersemangat belajar dan mengajari antar teman. Anak-anak yang sudah berhasil, tidak egois menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri, mereka mau berbagi.

Puji syukur, pemandangan yang indah, langit yang cerah, mengiringi perjalanan dan penjelajahan kami di Desa Cibuluh. Walaupun cuaca agak panas, membuat berkeringat. Namun, tak henti saya khususnya mengucap syukur atas hari ini. Kenikmatan yang tidak akan pernah terlupakan.

20230510_151804.jpg 

Banyak aspek dalam diri anak yang teramati dalam program penjelajahan ini, mulai dari nurani, karakter, jasmani, nalar, maupun proses kreatif, semua prosesnya holistik selaras dengan jiwa Semi Palar yang sama-sama kita kenal. 

Rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan, terpancar dari ekspresi dan ujaran teman-teman Honai melihat dan mengamati sawah yang berundak, air terjun dan arus sungai, kokohnya gunung yang jauh disana, pohon-pohon kelapa dan padi yang melambai, semuanya menghidupi warga desa. “Wah! Pemandangannya bagus, Kak!”, “Kak, aku baru pertama kali ke sawah.” hingga pertanyaan penggali yang muncul dari kejelian teman-teman Honai, “Kang Udan, kenapa warga desa suka bergotong-royong?” atau “Kenapa warga desa staminanya kuat?”. Karakter antusias, daya juang, empati, serta respek mereka munculkan dalam penjelajahan. Saya kebetulan mendengar saat beberapa warga desa bercakap dengan salah satu pendamping, “Sugan teh aya nu moal nepi euy!” (Kirain bakal ada yang ga nyampe!). Mendengar itu, rasanya menggelitik dan ada kebanggaan tersendiri, iya juga ya, dengan medan menanjak, cukup sulit untuk anak-anak, tapi toh semangat merekalah yang membuat mereka terus berjalan dan tidak menyerah. Padahal kan sebelum program, kami sudah mempersiapkan ketahanan fisik berbulan-bulan lamanya melalui program kelas maupun misi dalam jurnal rutin.

Respek anak-anak tunjukkan dengan mengatakan “permisi” saat melewati warga desa yang sedang berkumpul, serta meminta ijin saat hendak mengisi air minum maupun ketika bertanya kepada sesepuh warga yang akan mereka mintai informasi. Teman-teman Honai bisa menjaga sopan santun saat berada di desa orang. Salut! Olah pikir tentu saja juga terstimulus dengan mereka memunculkan rasa penasaran, mencari informasi secara mandiri, berani bertanya kepada warga, serta menganalisis hasil amatan dan jawaban narasumber dengan baik dalam jurnal penjelajahan. Pertanyaan-pertanyaan yang keren untuk usia mereka saat ini, juga merupakan cerminan dari olah pikir yang baik dari teman-teman Honai. Proses kreatif tentu juga dimunculkan sepanjang perjalanan, mengamati alam, menuangkannya dalam bentuk sketsa kenampakan alam, serta nyanyian sepanjang perjalanan pergi dan pulang. Mulai dari lagu Barat, lagu Indonesia, lagu Anime Jepang, Lagu anak-anak, sampai lagu Nasional mereka nyanyikan. Mulai dari menyanyi bersama hingga masing-masing request untuk menyanyi solo! Kayanya kami sudah bisa bikin satu album kompilasi nih… (^,^)v 

Ada perjuangan, ada pengorbanan, ada cinta kasih, ada keikhlasan, serta ada kesabaran, dalam proses kami merencanakan penjelajahan ini. Semoga semua menjadi pelajaran yang bermakna yang akan mewarnai proses anak-anak bertumbuh. Semoga masih ada kesempatan untuk kami bisa kembali kesana. Aamiin.

20230510_152731.jpg

Terima kasih, Kang Udan, Kang Enjus, Kang Lalang, Kang Iki, dan Bu Engkom yang sudah menjadi narasumber teman-teman Honai, mendampingi mereka sepanjang kegiatan, sekaligus memastikan keselamatan kami semua selama di lokasi. Keluarga besar Kelompok Honai, anak-anak yang selalu bersemangat dan sama-sama berjuang mempersiapkan penjelajahan ini. Kakak bangga kepada kalian!! Orangtua yang selalu mendukung, terima kasih atas kepercayaan serta doa-doanya! Kak Maya, Kak Putri yang penuh sukacita mendampingi anak-anak hebat ini! Kita tak kalah hebatnya, kok!! Hahaha… Kak Diki, yang sudah menjadi support system kami… Semi Palar, yang sudah memberikan kesempatan tak terlupakan ini… Terima kasih…

- Selesai -

Bagian pertama, bisa klik tautan berikut: https://ririungan.semipalar.sch.id/finsjournal/blog/5198/aes65-penjelajahan-kelompok-honai-melindungi-nirmala-loka---bagian-pertama