Tujuh tahun mengikuti perjalanan Semi Palar, saya kerap menemukan hal-hal menarik yang membuat saya merevisi kembali pemahaman saya akan sesuatu. Salah satunya tentang matematika.
Dari sewaktu saya sekolah dulu, saya termasuk yang biasa-biasa saja dalam hal matematika. Apalagi pada saat masuk kuliah, rasanya sulit sekali. Saya ingat untuk bisa dapat nilai B itu saya harus mengulang 2-3 kali satu mata kuliah. Akhirnya lulus juga dengan waktu 8 tahun. Karena saya ingat betul, dulu itu memilih masuk ke jurusan matematika karena saya ingin bisa kuliah yang tetap berkaitan dengan IPA, tapi sayangnya saya buta warna parsial. Sehingga tidak mungkin masuk ke jurusan-jurusan teknik, dan jurusan-jurusan IPA lainnya yang membutuhkan mata normal. Dan akhirnya semesta pun menempatkan saya di jurusan matematika Unpad. Semoga kelak buta warna ini bisa diakali sehingga orang-orang seperti saya tidak perlu bingung memilih jurusan kuliah. Hehehe.
Pada saat kuliah saya memahami matematika sebagai ilmu pasti yang banyak manfaatnya, seperti untuk membuat model dan sebagai landasan untuk ilmu-ilmu lain seperti fisika, ekonomi, dan ilmu komputer. Karena memang yang dipelajarinya seperti itu. Di jurusan saya waktu itu, topik matematika dibagi ke dalam tiga kelompok besar, matematika murni, terapan, dan komputasi matematika. Kami diperlihatkan bagaimana matematika yang rigid diterapkan di bidang ilmu lain dan juga sebagai fondasi untuk ilmu komputer.
Setelah selesai kuliah, saya tidak banyak bersentuhan lagi dengan matematika. Karena bersama teman-teman mencoba berwiraswasta membuat usaha sendiri. Satu-satunya sentuhan dengan matematika adalah saat membuat laporan keuangan dan laporan pajak. Ada kadang saya membantu saudara atau teman yang anaknya kesulitan memahami matematika, tapi hanya sebatas itu saja. Baru di Semi Palar saya melihat bagaimana kita sebagai kakak fasilitator diminta untuk menyampaikan materi matematika kepada anak-anak sesuai dengan kurikulum nasional. Disitu saya melihat dan mulai memahami mengapa banyak anak-anak yang kesulitan dengan pembelajaran matematika. Masalahnya sangat kompleks. Dan ujung-ujungnya kesalahan ada di tangan saya juga sebagai sarjana matematika. Rasanya seperti lingkaran setan, misalkan seorang anak di SD-nya dapat guru yang kurang paham matematika, sehingga hanya mengajar saja, tanpa paham betul konsep-konsep yang tengah dipelajari. Selanjutnya anak ini akan merasa kesulitan dan merasa bodoh saat masuk jenjang sekolah lebih tinggi. Kemudian misal anak ini memilih berprofesi jadi guru, dan ditugaskan mengajar matematika. Maka hasilnya tentu saja dia akan kesulitan mengajarkannya karena memang dari kecilnya tidak memahami dengan baik. Begitu pun para orangtua, mungkin untuk materi-materi anak-anak SD masih bisa menguasai, tapi saat masuk olahan-olahan matematika SMP dan SMA mereka yang dulunya tidak memahami konsep-konsep matematika pasti akan menyerah.
Dan saya akui, matematika itu memang sulit. Perlu kemampuan abstraksi dan daya bayang serta logika yang terstruktur. Terus memang koneksinya antara materi-materi yang dipelajari dengan keseharian tidak banyak. Tidak akan pernah anak-anak menggunakan persamaan kuadrat misalkan saat mereka bermain atau saat belanja ke toko.
Karena itu untuk memberikan pemahaman matematika yang baik kepada anak-anak kita perlu melihat matematika dari sudut pandang yang berbeda.
Pertanyaan mendasarnya adalah untuk apa kita perlu mempelajari matematika?
Menurut saya jawabannya ada dua. Yang pertama sebagai alat untuk memecahkan persoalan. Yang kedua untuk memahami alam semesta. Dan disinilah peran kakak jadi krusial. Sebagai pemantik rasa ingin tahu, dan mengembangkan kemampuan anak menemukan solusi.
Berikut kerangka kerja dan kompetensi pembelajaran matematika mengacu kepada lima aspek holistik Semi Palar:
Sehingga matematika dapat dipandang tidak hanya sebagai satu materi/bidang studi, tetapi bagian dari bangunan aspek-aspek holistik khususnya dalam membantu anak memahami alam semesta dan memecahkan persoalan. Ambil contoh kasus proyek mendesain sebuah rumah, proyek ini bisa dilakukan oleh anak-anak mulai dari jenjang paling kecil hingga paling besar, tentunya dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Anak-anak perlu menggunakan semua aspek holistik agar ia bisa membuat sebuah desain rumah yang baik.
Mengambil contoh proses pemodelan matematika dari kurikulum matematika dasar Singapura, kita bisa melihat bagaimana kasus-kasus dunia nyata diterjemahkan ke dalam dunia matematika.
Kita dapat melihat betapa semua aspek itu berhubungan, matematika ternyata bisa menjadi alat yang canggih untuk membangun aspek-aspek holistik. Dan ternyata jika dihantarkan dengan baik, maka matematika itu akan membantu anak-anak di kesehariannya bukan malah jadi pelajaran yang menakutkan. Kakak diharapkan mampu mengajak anak untuk bisa memahami dunia di sekitar mereka, dengan langsung praktek mengasah keterampilan numerasi anak-anak. Pada contoh kasus mendesain rumah tadi, maka anak-anak jenjang kecil bisa membuat maket dari bahan lego misalkan. Berapa lego yang dibutuhkan? Fasilitas-fasilitas apa saja yang penting ada dalam sebuah rumah? Kemudian pada jenjang menengah, anak-anak bisa mulai masuk konsep skala. Bagaimana membuat maket dengan skala yang sesuai? Hingga untuk anak-anak jenjang atas, anak-anak bisa membuat penelitian bagaimana membuat rumah yang ramah lingkungan misalkan.
Tentunya kerangka kerja tersebut perlu diturunkan lagi berdasarkan tahap tumbuh kembang anak serta kurikulum nasional. Namun, kita bisa selalu memulainya dengan pertanyaan: bagaimana kita bisa membuat …… ? Dan saat menjawab pertanyaan tersebut saya yakin matematika akan hadir dengan sendirinya.
Sumber referensi: MATHEMATICS SYLLABUS Primary One to Six, Ministry of Education Singapore, 2012.