Bagaimana jika 20 tahun yang lalu saya sekolah di KPB? 20 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001, saya sedang merayakan salah satu fase kehidupan. Di mana pada akhirnya saya berhasil menggunakan seragam putih abu, setelah tiga tahun sebelumnya saya menggunakan seragam putih biru. Ada kebanggaan tersendiri saat itu, kebanggaan menjadi anak remaja.
Saya tidak masuk ke SMA favorit, saya masuk ke salah satu SMA negeri yang terletak di daerah Pahlawan, Bandung. Kenapa enggak masuk ke SMA favorit? Karena Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya hanya cukup masuk ke SMA tersebut. Ya, untuk bersekolah ditentukan oleh nilai, pintar enggaknya seseorang pun dinilai dari nilai.
Saat sekolah, saya tidak bisa memilih apa yang ingin saya pelajari. Saya harus mengikuti kurikulum sekolah. Saya juga tidak bisa memilih dengan siapa saya harus belajar, karena guru ditentukan oleh sekolah. Segala sesuatunya memiliki aturan, dari mulai warna sepatu, model seragam, jam masuk sekolah, jam pulang sekolah.
Setiap hari rutinitasnya sama, masuk jam 07.00 pagi, tidak boleh telat (kalau telat gerbang sekolah ditutup), pelajaran pertama, pelajaran kedua, istirahat, dilanjut lagi pelajaran ketiga dan keempat. Paling senang kalau ada pelajaran olahraga, karena bisa keluar dari kelas dan menggunakan baju olahraga. Pelajaran seni rupa juga menyenangkan, sih, karena di pelajaran tersebut kita enggak usah mikir tapi berkarya, entah itu menggambar atau membuat sesuatu.
Lantas bagaimana dengan minat dan bakat kita? Bukan prioritas, yang prioritas itu akademik.
Untuk mengisi waktu luang selepas sekolah, saya bisa mengikuti ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah. Kita bebas memilih ingin mengikuti yang mana. Nah, barulah kita memprioritaskan minat dan bakat kita di mana.
Dulu untuk sekolah tidak terlalu banyak pilihan. Orangtua pun tidak terlalu open minded dengan keterbaruan, sehingga memberikan kita pengalaman seperti pengalaman yang mereka dapatkan. Tidak banyak tersedia ruang untuk mendiskusikan perasaan atau pemikiran, karena sistem yang diberikan adalah sistem tanpa perlawanan. Kalau A, ya, A. Kalau B, ya, B. Jauh berbeda dengan keadaan saat ini, di mana sekolah banyak pilihannya, orangtua cukup terbuka, anak memiliki kesempatan ruang diskusi.
Lalu, apakah saya tetap rajin ke sekolah dan mengikuti pelajaran? Jawabannya iya. Karena, saya merasa memiliki kewajiban untuk belajar sebagai seorang siswa. Mungkin salah satu yang menjadi motivasi adalah cita-cita. Karena saya mau menjadi sesuatu, bekerja dan sukses saya harus bisa menuntaskan pendidikan. Mau bosan, mau malas, sekolah tetap menjadi prioritas untuk saya dan teman-teman saat itu.
Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Bagaimana jika saya sekolah di KPB? Wah, saya pasti senang banget.
Di mana-mana yang namanya sekolah itu pasti tempat belajar, bukan tempat untuk menghabiskan waktu. Baik di sekolah negeri maupun di KPB dua-duanya sarana untuk belajar. Yang membedakan hanyalah di metode pembelajarannya. Jika di sekolah negeri kita menggunakan buku sebagai panduan, di KPB tidak terbatas panduannya. Saya bisa membayangkan, jika saya sekolah di KPB, saya pasti wawasannya luas banget. Apalagi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, informasi bisa didapatkan dari mana saja, kapan saja, dan di mana saja.
Selain itu, jika saya sekolah di KPB, mungkin saya yang saat ini bisa lebih mengenali diri sendiri. Saya selalu mengucap dalam hati, betapa beruntungnya murid-murid saya karena mereka sangat difasilitasi untuk mengenali diri mereka sendiri. Dulu saat saya masih SMA, boro-boro disuruh bikin SWOT atau Ikigai. Untuk menentukan ekstrakulikuler saja, alih-alih berdasarkan minat, lebih berdasarkan teman-teman. Untuk memilih jurusan IPA atau IPS, juga berdasarkan nilai. Walaupun hati ke IPS tapi nilai ke IPA, pasti dimasukinnya ke IPA. Saat persiapan menuju kuliah, memilih kampus juga bukan berdasarkan minat, tapi lebih dikarenakan memilih kampus yang menyediakan ekstrakulikuler yang sama dengan SMA saya. Lantas apa yang terjadi? Saya terseret arus dan tidak tahu ingin melangkah ke mana. Saya sempat 3 kali ganti jurusan kuliah, karena saya tidak terlalu mengetahui sebenarnya apa yang ingin saya pelajari. Mengorbankan waktu dan biaya hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin di pelajari. Jika saya masuk KPB, mungkin saya tidak perlu mengalami hal tersebut.
Saya pun yakin, saya akan kaya akan pengalaman jika sekolah di KPB. Dari mulai membuat proyek, berkolaborasi dengan komunitas, perjalanan, magang. Semua program yang diberikan cukup memberi makan jiwa ekstrovert saya. Akan banyak pintu-pintu yang terbuka untuk saya menuai ilmu, yang akan menjadi bekal untuk fase kehidupan saya yang selanjutnya. Belum lagi apa yang saya lakukan harus beralasan, harus dipersiapkan, jangan sampai asal-asalan, guru memastikan anak mempersiapkan diri sebelum melakukan suatu hal. Pendampingan yang diberikan oleh guru pun secara penuh dan utuh, sehingga murid bisa lebih siap untuk melangkah.
Apakah saya akan merasa bosan jika di KPB? Saya rasa enggak. Jika merefleksikan diri, saya ini akan mencoba untuk membuat sesuatu yang membosankan menjadi lebih menyenangkan. Karena saya akan merasa nyaman jika situasi dan kondisi menyenangkan. Apalagi guru memfasilitasi anak untuk bisa memberikan ide-ide kegiatan yang inovatif. Saat di sekolah negeri yang monoton pun saya tetap merasa senang, apalagi di KPB. Jadi, jika memang ada yang tidak senang di KPB, malas, dan bosan, mungkin salahnya bukan di KPB tapi lebih ke dalam diri. Mungkin perlu dipertanyakan lagi motivasinya.
Sayangnya, saya tidak sekolah di KPB. Tapi saya tetap bersyukur, karena setidaknya sekarang saya menjadi guru (kakak) di KPB. Saya sebisa mungkin memberikan peluang kepada murid-murid saya, supaya mereka bisa lebih kaya wawasan, pengalaman, dan lebih mengenal diri sendiri. Disambut atau tidaknya semangat saya, itu di luar kuasa saya, karena sejatinya saya hanya melakukan apa yang berada di dalam kuasa saya.
Foto: <a href='https://www.freepik.com/vectors/school'>School vector created by pikisuperstar - www.freepik.com</a>
@leoamurist @reginamirdan akhirnya, challenge accepted
challengenya kan tulsan yang judulnya sama.. kalau ini judulnya kayak nama lembaga yang suka bikin lelang,
yang tagline-nya "Mengatasi masalah tanpa masalah"
(PeGadaian) π
Judul beda, isi boleh diadu lah...
Mantap euy tulisannya. Kalimat penutupnya joss banget kak Mel... Nuhun buat berbagi sudut pandangnya di sini. ππΌπ