Siang tadi cuaca ga karuan, panas.. Kata orangtua dulu, "Mau hujan gede!"
Tiba-tiba pengen makan seblak... Pedesnya sedang. Walaupun awalnya cuma pengen makan seblak, tiba di warung seblak jadinya beli basreng cobek, sate seafood, dan thai tea dingin. (^,^)
Menikmati semangkuk seblak ditemani hujan yang lumayan bikin melankolis. Sambil menikmati setiap suapnya, teringat perkataan seorang teman, "Seblak ini adalah makanan paling aneh! Kerupuk yang harusnya digoreng, malah dibumbu kuah, maunya apa nih orang yang bikin seblak ini?!" (saya terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia ya, soalnya bahasa aslinya agak sedikit kasar, maklum lah, anak muda jaman dulu).
Dipikir-pikir, ya memang sih, agak aneh. Kerupuk kan kodratnya digoreng, tapi orang yang menemukan dan menciptakan seblak ini, bisa dibilang 'ngeyel' melawan kodratnya kerupuk.
Tapi, sisi lain pikiran saya berkata lain. Saya melihat seblak dari sisi positif, orang yang menciptakan seblak ini merupakan orang keren, INOVATIF! Ketika kerupuk biasa digoreng, dia membuat yang tidak biasa. Tapi toh masih bisa dinikmati orang, malah jadi trensetter makanan kekinian pada masanya.
Seblak sendiri muncul di Bandung pertama kali sekitar tahun 2000-an, dan diklaim jadi makanan khas dari Bandung. Awalnya hanya olahan sederhana dari kerupuk basah yang disiram kuah dengan bumbu kencur, ditambah sayur dan telur. Seiring dengan berjalannya waktu, orang mulai berkreasi dan terciptalah olahan seblak yang lebih mewah dengan bakso, ceker ayam, mie, dan lain-lain.
Lalu, apa hubungan seblak dengan persepsi?
Semangkuk seblak banyak dicela, dibilang aneh, namun digemari semua kalangan. Seblak bisa tidak disukai orang, namun bagi sebagian lainnya menjadi sumber penghidupan dan penghasilan. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihat, itulah yang akan menimbulkan sebuah persepsi.
Dalam menjalani hidup, manusia pun sama seperti semangkuk seblak. Banyak anggapan, asumsi, sudut pandang, pendapat yang menguatkan maupun yang melemahkan, tapi toh manusia akan tetap bertahan menjalani kehidupannya. Ya, yang negatif anggap saja sebagai penambah cita rasa kehidupan.
Mendekatlah pada orang-orang yang senantiasa menyadarkan, dan memberikan energi positif dalam hidup.
Saya teringat pada seorang Bhante yang berkata, bergaulah dengan golongan orang-orang yang bijak, maka kamu akan mendapatkan energi kebijaksanaan.
Sama seperti seblak, persepsi yang melemahkan tidak menjadikan seblak hilang dari dunia ini. Bahkan seblak menginspirasi dan semakin berkembang.
Kembalikan pencarianmu tentang bahagia ke dalam diri, kesadaran ke dalam diri, jauhilah persepsi yang hanya akan melemahkan diri. Dirimulah yang paling mengenal dirimu!
Sedikit berbagi, ajaran Buddha:
"Jangan berlebihan menilai apa yang kamu terima, apalagi iri dengan milik orang lain. Dia yang iri dengan milik orang lain sulit mendapatkan kedamaian batin."
"Pikiran itu penting. Dirimu adalah apa yang kamu pikirkan."
"Seperti orang lain di alam semesta, kamu layak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang."
"Kebahagiaan itu bukan tergantung pada kejadian, namun tergantung pada pemikiran kita."
Begitu juga dalam menulis AES di Ririungan, menulislah! Kesadaran, bahagia, tujuan, pemahaman, semua ada dalam dirimu! Jadi, menulislah! (^.^)v
Salam,
Tulisan ini tercipta atas sumbangan energi positif dari teman-teman penulis AES; Kak Andy, Kak Ine, Pak Ahkam, Pak Joe, Pak Mauritz, Bubuy, Bu Aileen, Kak Budi, Rico, Ara, Nadine, Alika, Saskia, Karmel, Krisna, Kak Mamat, Kak Mel, Kak Ika, Bu Yuli, Bu Mega, Mamakuri, Bu Vinca, Denzel, Bimo, Linus, dan mungkin masih ada yang belum saya sebutkan namanya.
Wah muncul juga tulisan ka Fifin setelah ngariung siang tadi. Dari Seblak membahas ke persepsi, sampe ke Budhism lalu menukik ke penulisan. Mantap! ππΌπ