AES65 Penjelajahan Kelompok Honai (Melindungi Nirmala Loka - bagian pertama)
finsjournal
Friday May 12 2023, 12:42 AM
AES65 Penjelajahan Kelompok Honai (Melindungi Nirmala Loka - bagian pertama)

Hari Rabu lalu, saya mendampingi teman-teman kelompok Honai melakukan penjelajahan ke Desa Cibuluh yang dikenal sebagai “The Land of 7 Rivers” atau “Tanah Tujuh Sungai” (jadi ingat keajaiban angka 7), karena merupakan satu-satunya desa yang dilintasi 7 sungai.

Selain pengindraan dan pengalaman langsung yang bermakna untuk anak-anak, penjelajahan ini pun menjadi perjalanan spiritual kecil untuk saya. Beberapa filosofi hidup yang saya dapatkan dari mendengarkan cerita Kang Udan, selaku pengurus desa wisata. Keindahan kenampakan alam yang saya lihat, hijaunya hamparan sawah dinaungi langit biru yang cerah sepanjang kegiatan kami disana. Mendengar suara aliran air yang menenangkan, semakin membuat diri ini tidak berarti apa-apa ditengah kuasa Sang Pencipta keindahan ini.

20230408_082135.jpg 

Perjalanan dari Smipa memakan waktu sekitar 2 jam, kami beristirahat di Saung Mulan untuk kemudian bersiap melakukan perjalanan menyusuri perkebunan serta pematang sawah menuju sungai. Sepanjang perjalanan di sebelah kanan dan kiri ditanami pepohonan yang memang dimanfaatkan dalam keseharian. Kelompok yang saya dampingi difasilitasi juga oleh seorang warga desa bernama Kang Enjus. Di tengah perjalanan, Kang Enjus memetik sehelai daun segar dari salah satu tanaman yang kemudian langsung diingatkan oleh salah satu teman Honai, “Kak, bukannya ga boleh petik langsung!” (khas Smipa ya…). Kang Enjus menjawab dengan tenang, “Pohon-pohon disini memang untuk dipetik, dimanfaatkan semua bagiannya, tidak ada yang terbuang sia-sia.”

20230510_091710.jpg 20230510_091846.jpg 20230510_093333.jpg 

Kang Enjus menunjukkan kemahirannya dalam membuat suara dari sehelai daun. Ia menunjukkan tekniknya kepada kami, anak-anak antusias mencoba, dan ketika ada yang berhasil semua bersorak. Anak itu kemudian berbangga dan menunjukkan kemampuan barunya kepada semua teman-teman. Selain daun, Kang Enjus juga terlihat mengambil bagian daun dan tangkai dari tanaman singkong, kemudian entah bagaimana Kang Enjus melakukannya, dari daun dan tangkai tersebut, ia seperti memainkan irama-irama alam yang cukup asing di telinga.

Sepanjang perjalanan Kang Udan bercerita, bahwa tidak semua lahan sawah disini ditanami padi, beberapa ada yang menanam palawija. Pohon kelapa, setelah tua pun masih bisa dimanfaatkan, untuk bahan membuat opak. Benar-benar tidak ada yang sia-sia. Kang Udan menjelaskan betapa warga desa merawat dan menanam tanaman karena rasa cintanya, bukan karena ingin menghasilkan uang atau lainnya. Hasil olahan sawah, perkebunan, sungai semua untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat desa, jika ada sisa baru dijual. Rata-rata warga desa menyimpan bahan makanan untuk satu musim panen, sekitar 4 bulan. Jika ada bahan lebih, barulah mereka jual untuk menghasilkan uang.

Kami berjalan menyusuri pematang sawah, menuju ke sebuah bukit yang dikenal dengan nama “Pasir Sangar”. Menurut cerita bukit tersebut memiliki arti penting untuk desa, ditengah bukit terdapat pohon jati yang tidak boleh ditebang untuk menjaga keseimbangan alam. Jika ditebang atau bukit ini dihilangkan, maka akan muncul bencana, arus sungai akan menghancurkan wilayah pesawahan, yang merupakan penopang utama kehidupan disana.

20230510_095641.jpg 

Kang Udan mengajak semua orang untuk fokus pada sebuah benda yang hampir ada di semua penjuru desa, yaitu “kolecer”. Kolecer adalah baling-baling, yang selalu berputar mengikuti hembusan angin. Dalam hidup, manusia ditugaskan untuk mengikuti suatu perintah… Perintah apa? Perintah Siapa? “Langlayang” dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan layang-layang yang selalu mengarah ke atas, ini menjawab pertanyaan sebelumnya, manusia harus mengikuti perintah Tuhannya. Tetapi manusia tidak boleh sombong dengan semua miliknya, maka dari itu ada poros, yang disebut “balungbung”. Dan ditopang oleh sebuah tiang dari bambu yang ditancapkan ke tanah “tihang”, artinya manusia harus selalu berpijak ke tanah, yang memberinya kehidupan. Tugas manusia adalah mengikuti perintah Tuhan, menjaga bumi yang ditempatinya, sebagai tugas yang diemban dan sebagai perwujudan rasa syukur karena telah memberi kehidupan.

Perjalanan panjang kami tak terasa melelahkan karena sejauh mata memandang, semua menyegarkan, hamparan sawah, pegunungan, aliran air sungai yang sesekali menyilaukan mata karena pantulan sinar mentari pagi mengenainya. Sungai yang kami kunjungi merupakan anak sungai Cipunagara, tempat kami memulai eksplorasi. Tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata keindahan alamnya. (foto dilampirkan)

20230510_100951.jpg 20230408_100318.jpg 20230408_095531.jpg

Teman-teman kelompok Honai mendapat kesempatan untuk eksplorasi dan mempelajari tentang budaya sungai disana. Diawali dengan “ngabeungkat” yaitu proses membuat tanggul tradisional terbuat dari “babadak” yaitu bambu yang dibentuk menyerupai kerucut untuk menahan arus air. Teman-teman Honai juga diajak “ngecrik” serta “ngabubu” untuk menangkap ikan secara tradisional. Ngecrik adalah teknik menangkap ikan dengan jala, sedangkan ngabubu dengan cara menyimpan “bubu” di ujung sungai, dan kita mendorong ikan untuk masuk ke dalam bubu dengan cara memukulkan tangan kita ke sungai sambil perlahan berjalan ke arah bubu disimpan.

Kami diajak untuk bermain “papancakan” sebagai salah satu perlombaan yang dilakukan anak-anak saat Festival Budaya Sungai, yaitu menumpuk batu sungai setinggi-tingginya. Terlihat mudah, tetapi kenyataannya tidak, karena batu sungai basah dan beberapa licin karena berlumut, belum lagi harus mengaturkan strategi ukuran batu mana yang harus ditumpuk supaya batu tidak mudah jatuh. Kegiatan di sungai diakhiri dengan mandi di sungai dan menangkap ‘engkang-engkang’ hewan sungai yang menurut saya bentuknya lucu, karena saya pun baru pertama kali melihatnya. (^.^)

20230510_102653.jpg 20230510_103330.jpg 20230510_103513.jpg

Hal yang terasa paling berat adalah perjalanan kembali ke Saung Mulan, kami harus berjalan konsisten menanjak. Serta mungkin, yang membuat berat adalah harus meninggalkan keindahan alam yang tiada duanya. Ah… Semoga ada kesempatan untuk kembali ke sana. 

Setelah kami membersihkan diri, istirahat, dan makan siang sambil melihat pemandangan luas terbentang di depan mata, teman-teman Honai mulai mewawancarai warga setempat untuk mencari informasi atas rasa penasaran mereka. Macam-macam hal yang mereka pertanyakan, berbekal rasa ingin tahu yang besar, semoga apa yang mereka dapatkan dari semua jawaban juga memberi arti yang tak terhingga untuk teman-teman Honai.

20230510_123234.jpg

(bersambung...)

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Terima kasih banyak ka Fifin ceritanya. Manis sekali pengalamannya. Semoga membawa makna buat semua. 🙏😊