AES 1399 Bertaruh
joefelus
Wednesday May 7 2025, 12:54 PM
AES 1399 Bertaruh

Beberapa waktu yang lalu saya memiliki ide untuk menulis. Saya menaruh beberapa kalimat kunci dalam sebuah draft. Saya tulis begini: Try to belong, try to connect and bet on everything. Lalu saya lupa. Hari ini sesudah jeda beberapa hari saya mulai akan menggarap beberapa draft. Lalu teringat pada sebuah draft, tapi ketika saya buka, saya tidak tahu lagi kalimat-kalimat itu dalam konteks apa. Benar-benar pikiran saya kosong dan tidak tahu akan mengembangkan apa sebab kehilangan seluruh konteks dan benar-benar tidak ingat kalimat-kalimat itu untuk mengembangkan ide apa. Sayang sekali. Tapi tetap saya simpan dan mudah-mudahan suatu saat saya kembali ingat.

Saya bukan orang yang suka bertaruh. Hmm.. Saya koreksi. Saya kadang suka bertaruh, tapi tidak mempertaruhkan hal yang penting sebab saya orang yang suka pada kepastian, suka pada kemapanan, dan suka berpegang pada sesuatu. Bertaruh hanya untuk keseruan, untuk kesenangan dan lebih ke arah hiburan.

Saya mengangkat ide tentang bertaruh karena melihat kondisi yang sedang terjadi sekarang. Ketika pemilu beberapa waktu yang lalu saya banyak merenung, mencari tokoh yang memiliki visi yang cocok dengan harapan saya tentang masa depan. Ya saya memilikirkan masa depan, terutama untuk generasi sesudah saya, sebab dampak yang diakibatkan oleh pemimpin saat ini akan berpengaruh pada masa depan generasi sesudah saya.

Hari ini saya membaca tulisan @kak-andy tentang keprihatinan beliau mengenai gonta ganti kurikulum. Itu sudah terjadi sejak jaman dahulu. Saya tidak tahu ketika masih SD jaman menteri Sumantri Brodjonegoro karena saya saat itu belum peduli dengan urusan semacam itu, yang saya ingat ketika SMP menteri Daoed Joesoep mengubah sistem kuartal menjadi semester dan waktu saya serta teman-teman terbuang selama 1/2 tahun karena sekolah tidak memiliki program untuk mengisi 1/2 tahun itu. Kami hanya bermain sepak bola di lapangan selama 6 bulan!!!!! Dan sejak saat itu saya ingat mulai banyak perubahan buku-buku maupun kurikulum, lalu mulai banyak istilah ganti menteri ganti kurikulum.

Saya melihat seolah-olah masa depan dipermainkan. Petinggi negara yang memiliki kuasa dan wewenang dalam mengambil keputusan seolah-olah bertaruh. Mungkin, mungkin loh, ini sebentuk arogansi merasa diri lebih baik dari yang lain, sehingga yang lalu dihapus dan diganti dengan "miliknya". Nah itu bisa kita telusuri dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Hasilnya apa? Ya, silakan teman-teman nilai sendiri. Apa yang bisa dihasilkan jika cara mengelolanya berganti hampir setiap 5 tahun. Tidak ada kesinambungan dan program yang jelas.

Lihat juga contoh negara lain misalnya. Menteri pertahanan dijabat oleh mantan seorang wartawan (yang dipecat oleh perusahaan tempat dia bekerja), tidak memiliki riwayat karir dalam militer lalu sekarang djadikan penanggungjawab pertahanan negara. Lihat juga blunder yang dia lakukan karena keteledoran dia "mengikutsertakan" seorang wartawan dalam diskusi strategis untuk menyerang kelompok Houthis di Yemen. Diskusi itu menggunakan platform chat yang tidak aman, hingga sekarang dia masih melakukan itu. Yang kedua malah dia mengikut sertakan keluarganya. Nah masyarakat di negara itu menurut saya bertaruh dengan sangat hebat (atau bodoh) dengan memilih pemimpin yang tidak capable dan reliable, tidak paham ilmu ekonomi walaupun dia pebisnis (yang sepertinya gagal), dan sangat arogan, pembohong serta narsistik.

Ini hemat saya ya, jika ingin bertaruh, sebaiknya jangan untuk hal-hal penting. Jika untuk kesenangan atau iseng, ya sah-sah saja, tapi masa depan jangan pernah dipertaruhkan. Jika ingin bertaruh sungguh-sungguh sebaiknya lengkapi diri dengan pengetahuan, informasi dan kemampuan yang jelas. Mungkin mereka yang memilih pemimpin yang berkuasa sekarang tidak pernah memikirkan ini. Banyak yang mengambil keputusan karena pengaruh emosi, atau karena termakan janji, atau lebih parah karena diberi sesuatu yang akhirnya mempengaruhi keputusan mereka. Sayang sekali.

Lalu kalau diperhatikan, yang menjabat sekarang apakah benar-benar memikirkan kepentingan masyarakat ketika mengambil keputusan? Apakah misalnya mengganti kurikulum setelah melakukan penelitian yang baik? Ataukah hanya bertaruh untuk suatu kepentingan dan menggunakan dana pajak serta masa depan generasi yang akan datang sebagai taruhan? Lihat saja, begitu kurikulum diluncurkan, pemerintah akan mulai dengan pelatihan para guru, lalu begitu guru-guru mulai paham dan mulai terbiasa, kurikulum diganti lagi karena menterinya diganti. Lalu yang jadi korban siapa? Ya, kita harus benar-benar prihatin. Saat ini sepertinya semuanya sedang sakit!

Foto credit: flickr.com

You May Also Like