Ya memang begini. Mengesampingkan emosi dan mengutamakan rasionalitas pun, reaksi emosional yang dirasionalisasi kemudian. Makanya untuk saya, seperti wadah lebih penting daripada isi demikian logika lebih penting daripada rasionalitas.
Manusia adalah anima rationalé, yang kebaca oleh saya sih anima(L) reason all eh. Alasan weh alasan, pembenaran aja pembenaran. Wajar sih, karena pembenaran yang diulang-ulang jadinya kebenaran dalam batasan lingkupan tertentukan.
Sewajar kontradiksi dari, yang suka bilang harus tenang dengan nada tegang. Yang sering bilang gak bisa seperti itu tanpa menawarkan bisa seperti ini. Yang refleks bilang logika setiap orang kan berbeda sambil menyalahkan cara yang tidak sama.