Topik ini saya angkat jadi bahan tulisan berasal dari salah satu obrolan atau diskusi bersama salah satu kelompok (kelas) di jenjang KPB. Perihal kebebasan ini saya coba elaborasi di sini.
Ada dua komponen penting kalau bicara kebebasan. Kebebasan sepertinya harus selalu dikaitkan dengan batasan. Kebebasan baru ada saat ada batasan. Kalau tidak ada batasan, lalu mau bebas dari apa? Toh tidak ada batasan. Menarik ya. Dalam perspektif ini tidak pernah ada yang namanya kebebasan mutlak.
Dari sudut pandang lain, seseorang bisa betul-betul bebas saat sepenuhnya menyadari batasan yang ada. Kalau kesadaran itu tidak ada, besar kemungkinan kebebasan orang tadi bisa dengan mudah bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Padahal kebebasan orang lain adalah sejauh-jauhnya kebebasan orang yang pertama tadi. Sebaliknya kalau kita menyadari sepenuhnya batasan yang ada, di sanalah kita punya kebebasan yang sebesar-besarnya. Contoh sederhana, kita bisa berteriak sekeras-kerasnya kalau memang kita sadar tidak ada orang lain di sekitar kita. Tapi kalau ada orang lain, kita hanya bisa bicara sejauh suara kita tidak mengganggu orang lain tersebut. Jadi kebebasan kita akan selalu beradu dengan kebebasan orang lain yang ada di sekitar kita.
Akhirnya di sini kita kembali bicara kesadaran. Kesadaran jadi kunci. Sadar Diri, Sadar Lingkungan dan Sadar Tujuan. Kalau ketiga aspek kesadaran itu ada, sepertinya kita tidak akan gangguan bagi lingkungan di luar diri kita. Kalau kita melangkah dengan sadar, kita tidak akan menginjak kaki orang lain; kalau kita bicara dengan sadar, kita tidak akan melukai perasaan orang lain...
Suatu waktu seorang asesor (pelaksana akreditasi) menanyakan, kenapa di Semi Palar tidak ada peraturan tata-tertib yang ditempel di dinding di sekolah? Kenapa tidak ada tanda "Buang Sampah pada Tempatnya" atau "Jangan Buang Sampah Sembarangan". Menarik ya? Kenapa yang dicari adalah peraturannya, tapi beliau terlewat mengamati bahwa di Semi Palar tidak banyak sampah berserakan. Terkait tata-tertib, saya pernah masuk ke sebuah sekolah yang memajang papan besar bertuliskan 57 butir peraturan tata-tertib sekolah tersebut. Saya pikir tata-tertib ini yang dimaksud bapak asesor tersebut. Tapi saya sebagai kepala sekolah tidak pernah merasa perlu menuliskan peraturan atau tata-tertib tersebut di dinding Semi Palar - karena sejauh pengamatan saya, teman-teman yang belajar di Semi Palar cukup punya kesadaran untuk bersikap dan bertindak seperti yang diharapkan... Salam.
Photo by Bayu jefri from Pexels
Setelah kak andy bilang soal Tata tertib yang ditempel, saya jadi sadar bahwa memang selama saya di semi Palar tidak pernah melihat pajangan semacam itu. Saya sekarang jadi bertanya-tanya apa yang kak Andy katakan kepada asesor itu dan bagaimana reaksinya hahaha... Mudah2an asesor itu terbuka matanya bahwa aturan yang dipajang jauh berbeda dengan aturan yang dijalankan