AES057 Menemukan Esensi Pendidikan Holistik
Andy Sutioso
Saturday July 10 2021, 8:56 PM
AES057 Menemukan Esensi Pendidikan Holistik

Tulisan ini dipicu salah satu chat WA saya dengan Ahkam - saya lupa persisnya kapan. Tapi intinya Ahkam bilang, ka Andy perlu suatu saat menulis buku tentang perjalanan Semi Palar. Wah sebetulnya ini sudah jadi cita-cita sejak lama. Tapi memang belum sempat terlaksana karena segala kesibukan yang ada. Tapi sebetulnya banyak hal yang jadi pemikiran saya juga jejak pengalaman-pengalaman di Semi Palar yang saya coba tuangkan di dalam esai-esai pendek di AES ini. Walaupun dalam bentuk kepingan-kepingan kecil, setidaknya sedikit demi sedikit kepingan-kepingan tersebut terkumpul di sini. Selain di Ririungan ini, banyak kepingan juga terserak di blog saya maupun di blognya Semi Palar. Siapapun suatu saat nanti bisa merangkainya. Lagi pula belum banyak juga karena di titik ini saya baru menginjak esai saya yang ke 57 di AES ini.

Untuk esai ini saya coba mulai dari sini. Pendidikan Holistik itu kompleks - ini bukan mitos, sudah kami buktikan sendiri di sepanjang perjalanan 16 tahun di Rumah Belajar Semi Palar. Kompleks karena kita berusaha melihat manusia (anak-anak) secara utuh dari segala aspek kediriannya dan memfasilitasi proses mereka menjadi manusia seutuhnya - dari waktu ke waktu - sepanjang mereka belajar dan berproses di Semi Palar. Setiap individu dengan segala keunikannya yang hadir dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda pula. Yang jadi tantangan berikutnya adalah bagaimana para kakak (fasilitator pembelajarannya) juga hadir dengan berbagai perbedaan latar belakang dan keunikannya juga. Mulai terbayang ya kompleksitasnya... 

Dalam perjalanannya, kami juga belajar bahwa kompleks tidak berarti harus rumit juga (complex doesn't mean it has to be complicated). Dengan catatan kita bisa memahami apa dan bagaimana kompleksitas itu sesungguhnya. Melihat dengan jernih dan memahami esensinya. Saat kita belum betul-betul paham, tentunya banyak hal akan jadi rumit. Contoh yang paling jitu saya pikir adalah bagaimana Albert Einstein yang bisa merumuskan bagaimana keterkaitan antara massa dan enerji di dalam alam semesta ini dengan hanya 5 karakter saja. Luar biasa ya. 

mozaikeinstein_ratio16x9.jpg

Einstein juga bilang, kalau kamu belum bisa menjelaskan sesuatu dengan cukup sederhana, berarti kamu belum cukup memahaminya. 

Hal ini juga kami alami betul dalam proses menggulirkan Semi Palar. Di suatu titik kami menyadari bahwa kompleksitas ini muncul karena semata-mata kami masih terjebak di hal-hal yang tidak esensial. Mungkin hal-hal tersebut benar adanya, tapi tidak esensial. Analoginya yang sering saya gunakan adalah saat seseorang mau pergi travelling. Di perjalanan pertama atau kedua, bawaannya pasti banyak. Segala sesuatu dibawa - siapa tahu dibutuhkan. Saat sudah beberapa kali perjalanan, kita mulai tau barang-barang apa saja yang dibutuhkan / esensial untuk dibawa. Kurang lebih semacam itu. 

Sekitar perjalanan Semi Palar di tahun ke 13-14, kami mulai menyadari bahwa untuk mengelola kompleksitas yang ada, kita harus menemukan esensinya. Apa esensi, apa hal-hal mendasar dari Pendidikan Holistik. Di titik ini, kami mulai meyakini bahwa esensi pendidikan Holistik ada di kalimat terakhir yang diungkapkan John Dewey. Education is Life Itself. Bahwa untuk memahami bagaimana pendidikan, kita perlu memahami Life - hidup itu sendiri. 

Esensinya sudah ketemu. Sesederhana, sekaligus sekompleks itu juga. Pertanyaan lanjutnya adalah Apa itu Hidup? Mengenai ini kita coba jawab di esai selanjutnya. Salam...