Jum'at lalu kakak-kakak Smipa mencoba hal baru membuat Mandala. Mandala mungkin cukup banyak yang tahu, tapi membuat mandala mungkin belum banyak yang sudah mencoba.
Sebagai bagian dari rangkaian persiapan Festival Literasi. kakak-kakak diajak untuk membuat Mandala dibimbing oleh kak Mamat dan kak Yanti. Saya sendiri juga baru menghasilkan Mandala yang pertama lewat proses ini. Proses yang sangat menarik, hasilnya di luar dugaan - baik untuk apa yang saya hasilkan sendiri maupun yang dihasilkan secara kolektif.
Mandala sendiri sebetulnya punya makna spiritual yang mendalam. Setahu saya dilakukan oleh bhiksu-bhiksu budhist. Mereka membuat Mandala besar dari pasir berwarna, yang hasilnya sangat indah. Dilakukan entah dalam durasi berapa lama karena prosesnya yang sangat perlahan. Hasil akhirnya - yang sangat tidak masuk akal - dihancurkan lagi, disapu dalam waktu sekejap, sekedar untuk menghayati bahwa tidak ada keabadian di dunia ini, dan pada akhirnya satu lagi untuk belajar melepaskan, mengikhlaskan, melepaskan diri dari kemelekatan (attachment). Proses yang sangat luar biasa mendalam pemaknaannya.
Sejauh saya tahu, Mandala memang berbentuk dasar lingkaran, biasanya muncul dalam pola berulang karena ini bagian dari simbolisasi pola-pola yang ada di alam semesta. Keseimbangan, siklus, pengulangan pola dan seterusnya. Dan saya pikir kalau ini sering dilakukan, hal-hal semacam inilah yang akan terinternalisasi di dalam diri kita.
Catatan penting dari proses membuat Mandala adalah apa yang disampaikan oleh kak Mamat dan kak Yanti. Walaupun ada pola yang membantu kita terkait pola dasar lingkaran dan pengulangan yang akan digambarkan, penting untuk tidak memikirkan apa yang akan kita buat. Biarkan rasa dan diri kita yang memandu, meyakini bahwa badan kita punya kecerdasannya sendiri untuk memandu jari jemari kita menghasilkan Mandala yang akan kemudian muncul. Awalnya perlu waktu, tapi dalam waktu singkat, jari jemari kita dengan sendirinya bergerak mengikuti pola dan sedikit demi sedikit gambar Mandala kita mulai mewujud. Ada yang berisi, ada bagian yang kosong, ternyata diri kita yang memandu kita. Proses ini juga berjalan dalam keheningan...
Tidak lama waktu yang diberikan, hasil akhirnya ternyata sangat menarik - dan kalau direfleksikan, kita bisa melihat karakter diri kita di dalam gambar Mandala yang dihasilkan. Saat mengamati, saya dan kakak-kakak mulai saling mengomentari, waah ini mah kak Wiwit banget... Kak Bayu ternyata begini ya... Oalah ternyata kakak ini dan kakak ini pola Mandalanya kok mirip... Dan seterusnya.
Bahwa membuat Mandala diharapkan tidak mengandalkan olah pikir kita, sederhananya, gambar Mandala yang kita hasilkan adalah cerminan dari being-nya kita masing-masing. Ini jadi sebuah perangkat juga untuk meliterasi diri. Mandala yang saya buat di atas ini adalah Mandala saya yang perdana. Sesampai di rumah saya segera membongkar lemari, mencari jangka dan buku di mana saya akan mencoba membuat Mandala yang kedua dan seterusnya. Mudah-mudahan ini jadi perangkat saya untuk lebih mengenal diri. Terima kasih banyak kak Mamat dan kak Yanti - juga kakak-kakak semua. Salam.