118 cukup besar
innocentiaine
Friday April 29 2022, 10:09 PM
118 cukup besar

“Kamu bisa melakukannya?” tanya ibu sambil menyiapkan Hiroki untuk berangkat. “Ya.” Jawab Hiroki yakin, sambil mengangkat bendera kuning yang ia bawa. “Benar, pegang lurus ke depan kalau mau menyeberang ya.” kata ibu menegaskan. “OK, pergilah. Bye-bye..” kata ibu. “Bye-bye!” kata si kecil Hiroki sambil melambaikan tangan dan berjalan dengan sepatunya yang berbunyi decit. “Sampai jumpa, hati-hati!” balas ibu. Waat.. serius ini pergi sendiri? Usianya belum sampai 3 tahun, jalannya masih sedikit limbung. Belum jauh berjalan, Hiroki melihat sebuah ranting panjang. Ia mengambilnya, lalu berkata, “Aku menangkap ikan.” laughing O-oh berhasil ga ya? Namun ia tetap ingat tugasnya, dan terus berjalan. Cukup jauh jarak yang harus Hiroki tempuh untuk tugas pertamanya, sekitar 1 kilo menuju supermarket untuk membeli bumbu kari manis, panganan otak-otak dan bunga segar untuk altar nenek. Tiba di depan supermarket, Hiroki sempat terdiam, terdistraksi deretan mesin penjual mainan di depan pintu masuk supermarket. Namun tak lama ia kembali ingat pada tugasnya, dan segera masuk ke dalam supermarket. Berlari dengan sepatunya yang berbunyi, Hiroki segera menemukan dan mengambil sekotak panganan otak-otak. Yesss.. aku ikut bertepuk tangan 😊Hiroki kemudian berjalan, menghampiri penjaga toko, dan tanpa ragu bertanya, “Bunga di mana?” Penjaga toko segera menunjukkan tempat bunga segar pada Hiroki. Ia memilih seikat bunga krisan dan membawanya. Lewat dekat kasir ia melihat tumpukan keranjang belanja. Merasa perlu menggunakan keranjang belanja, ia berusaha mengambil sebuah. Melihat Hiroki kesulitan, penjaga toko bergegas membantunya, mengambil keranjang, memasukkan belanjaannya, lalu bertanya apakah sudah semua. Hiroki mengangguk dan menghitungnya belanjaannya. Ups tampaknya Hiroki lupa satu barang lagi. Hiroki  mengeluarkan uang dari tasnya, membayar, menyimpan uang kembalinya, lalu keluar membawa belanjaannya. Tengah berjalan ke luar pelataran supermarket, tetiba Hiroki berbalik, “Aku harus balik lagi, aku lupa karinya!” ucapnya pada dirinya. Horee..  😊Hiroki lalu pulang sambil menyeret bunga krisan yang cukup panjang untuk ukuran tubuhnya. Tak lupa mengangkat lurus benderanya saat akan menyeberang. Semua kendaraan langsung berhenti memberi kesempatan Hiroki untuk menyeberang sendirian. Hiroki tiba di rumah, melaporkan pada ibu bahwa ia berhasil membeli semua, mengeluarkan dari tasnya resi dan uang kembali. Keren Hiroki!!

Cerita Hiroki adalah episode pertama dari sebuah serial Jepang tentang anak balita yang mendapat tugas untuk melakukan sesuatu sendiri. Old Enough judulnya, (Original: Hajimete no Otsukai / My First Errand). Sepertinya sudah biasa bagi masyarakat Jepang untuk melepas anak pergi sekolah sendiri sejak kecil. Pemberian tantangan atau yang disebut dengan tugas pertama ini juga sepertinya sudah jadi kebiasaan, sehingga ketika si anak meminta bantuan, bertanya atau menjelaskan bahwa ia sedang melakukan tugas pertama, semua sangat mendukung dan membantu.

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk di Indonesia, hal ini terasa aneh sekali. Sulit dipercaya melihat anak bisa pergi sendiri ke sekolah, atau dalam serial ini, anak semuda 2 tahun pergi sendiri untuk menuntaskan tugas pertama mereka. Baik di desa, kota kecil maupun besar, seolah ada standar keamanan yang sangat baik dan sama bagi semua pengguna jalan. Ini tentunya banyak meredakan kekhawatiran orangtua. Dalam serial ini, selain disisipkan mikrophone pada tas anak, faktor keamanan diaturkan lewat pantauan berjarak, cukup banyak tim yang menyamar lalu lalang atau berlarian di sekitar anak untuk memastikan keamanan mereka.

Namun yang membuat aku tersadar adalah kemampuan yang ternyata dimunculkan anak-anak ini. Bagaimana mereka mengatasi ketakutan, menyemangati diri, menghadapi distraksi, mencari solusi atas kesulitan, dll. Ekspresi dan suara mereka terekam jelas. Yang bersemangat, yang takut dan mulai berlinang air mata, yang bingung dan memilih pulang, yang PD dan senang ketika berhasil melakukan tugasnya, yang enggan dan perlu dibujuk dulu.. Sungguh pengalaman yang memberdaya. Tidak hanya bagi si anak, tapi pasti besar pula porsi tantangan di orangtuanya. Kebayang deg-degannya melepas anak berjalan sendiri. Kadang jaraknya cukup jauh, hingga berkilometer, bahkan ada yang harus naik bis sendiri. Tempat yang harus anak kunjungi bukan tempat yang baru untuk mereka. Biasanya tempat yang sudah sering mereka kunjungi bersama orangtua, tetangga, saudara, toko langganan, tempat kerja ayah, bengkel dan semacamnya. Meski demikian, berhasil pergi sendiri untuk anak seusia itu adalah satu pencapaian besar yang tentunya akan berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan rasa berdaya mereka. Ganbatte!!

You May Also Like