Suka sekali dengan puisi yang dibuat Ara; ‘And I Shall Fly Once More’ mengenai belajar terbang. Setiap pilihan katanya menjelaskan sekaligus terangkai indah, dan dekat dengan rasa. Keren banget Ara!!
Membaca tulisan Ara ini juga mengingatkan aku pada sebuah fabel yang sangat aku sukai, Jonathan Livingston Seagull. Berkisah tentang seekor camar yang sangat mencintai terbang. Sementara komunitas camar di tempat tinggalnya percaya bahwa sebagai camar, mereka hanya ditakdirkan terbang untuk makan, mencari kepingan roti dan ikan di sekitar dermaga dan perahu nelayan. Keingingan Jonathan untuk terus meningkatkan kemampuan terbangnya dipandang aneh. Jonathan sungguh ingin tahu apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan di udara. Ia terus belajar, berlatih, menantang diri, meski harus ia bayar mahal.
Lebih dalam, fabel ini bercerita tentang pencarian diri dan makna hidup. Ketika menghadapi cermin sosial, yang menuntut kejamakan dalam bersikap dan bercita-cita, versus kebahagiaan dan pemahaman bahwa ada hal-hal lebih yang bisa dicapai diri. Ketika tidak ada jalan tengah, pun tidak mungkin mencari titik setimbang. Masing-masingnya tidak mudah dan punya konsekuensi besar yang harus dijalani. Pilihan yang pasti pernah dihadapi setiap orang, disadari atau tidak, karena hakikatnya manusia hidup untuk belajar dan menemukan. Dan ketika satu hal selesai dipelajari, akan selalu ada hal lain yang perlu dipelajari atau dibagikan.
Jonathan Livingston Seagull ini merupakan karya Richard Bach, seorang penulis yang juga seorang pilot. Dilengkapi foto-foto karya Russel Munson, fotografer yang juga sangat menyukai dunia penerbangan. Jonathan Livingston Seagull sempat menjadi best seller, hingga diangkat ke layar lebar (meski mungkin akan lebih asik membayangkan sendiri saat membaca, daripada menonton terjemahan sebuah fabel ke dalam layar). Namun soundtrac film yang dibuat oleh Neil Diamond terasa sungguh selaras dengan cerita dan illustrasi pada buku tersebut.