Tahun demi tahun berlalu. Ketika menghitung waktu, kerap bertanya pada diri, apa saja yang telah berubah. Idealnya ada kebaikan yang dapat terus dipertahankan, juga kekurangan yang telah diperbaiki. Biasanya ini menjadi sebuah percakapan dengan diri. Memang tidak terlihat, tidak terukur, mudah ditawar, bahkan tidak perlu pertanggungjawaban pada siapapun, kecuali diri sendiri. Janji pada diri untuk menjadi lebih baik. Bisa menjadi sesuatu yang sangat dahsyat, tapi bisa juga ibarat resolusi tahun baru yang biasanya hangat-hangat tahi ayam.
10 tahun lalu adalah titik balik. Seperti sedang berada dalam kereta yang berjalan cepat, tapi terlalu sibuk untuk dapat menikmati perjalanan, bahkan tak tahu mau ke mana. Lalu tetiba, di suatu saat terlempar begitu saja. Gelap, jeri, seperti teguran tak terduga. Seolah menyuruh berhenti. Dan memang tak bisa lain kecuali berhenti. Menyadari apa yang baru terjadi, menerima kenyataan, menjawab berbagai pertanyaan tentang keanehan diri; siapa aku, kenapa ada di sini, apa yang harus dilakukan. Selanjutnya, berterima tanpa mencari kambing hitam memberi damai. Alih-alih merasa tidak berdaya, kasihan pada diri, terjadi percakapan dengan diri yang lebih dihayati, melepas masa lalu, menata langkah. menguatkan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak mudah.
Waktu terus berjalan. Torehan luka di titik balik sedikit memudar, menjadi bagian dari diri. Kembali ke percakapan dengan diri, menjawab jujur sejauh mana diri telah berubah. Tak ada penyesalan karena segala sesuatu terjadi karena alasan, dan membawaku pada diri yang saat ini, dengan semua capaian dan kekurangan yang melekat.
Mungkin memang demikian manusia, perlu disentil dulu supaya terdorong untuk berubah :D Bagaimanapun, syukur perjalanan sejauh ini.