Hari kedua Festival Literasi diawali dengan membaca bersama semua jenjang, Jabawaskita. Dihiasi gerimis yang datang dan pergi sejak pagi, lapang rumput dan teater tidak dapat digunakan. Demikian pula longpus yang sedang digunakan untuk bursa. Jadilah seluruh penjuru pendopo dan selasar depan kelas dipenuhi anak yang duduk membaca buku masing². Aku memilih tempat di depan TK, menunggu mereka bersiap, melakukan rutin pagi, berdoa, mengambil buku masing² lalu duduk berjajar depan kelas. Di tengah menikmati bacaan, sesekali aku memperhatikan mereka. Buat aku yang tidak setiap hari mengikuti proses mereka di kelas, kawan² KBTK ini sungguh mengagumkan. Suddah bisa membaca dengan sungguh. Memperhatikan gambar demi gambar, lalu membalik halaman demi halaman hingga selesai. Kadang kembali pada halaman yang mungkin ia sukai, atau menukar dengan buku lain. Mereka belum membaca secara harafiah, tapi perhatian dan kesukaan terhadap buku sedang ditumbuhkan. Semoga terus terjaga..
Usai Jabawaskita, tiba waktu menyiapkan lapak² untuk berburu buku, situbucang. Highlight dari Festival Lliterasi. Para orangtua yang tergabung dalam panitia dengan gesit menggelar alas, menata buku demi buku sesuai kelompok kelas. Tiba waktu memilih buku yang disukai, untuk ditukar dengan token sesuai jumlah buku yang telah dikumpulkan. Seru banget perburuan buku ini.. Memilih buku bersama teman dan kakak di antara hamparan buku yang jumlahnya cukup banyak tentunya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Kakak dan panitia sekadar menemani, membantu menghitung buku sesuai token. Baru membantu memilih saat ada yang tampak kesulitan. Harapannya, sesuai pesan mas mentri Nadiem, semua anak dapat memilih sendiri buku yang ia sukai, yang ingin ia baca. Bukan pilihan atau yang disukai ibu, ayah atau kakak. Ada yang bisa cepat memilih, mengambil dan memutuskan, ada yang ragu² dan tak kunjung mendapat buku hingga waktu berakhir.. Ada yang punya token banyak sampai bingung menghabiskannya, ada yang hanya punya 1 token tapi keinginannya banyak. Ada yang kemudian berbagi, memberi kepada teman atau kakak kelas, atau segera menukar tokennya meski jumlah buku yang dipilihnya masih kurang. Di jenjang lebih besar pilihan buku tidak sebanyak jenjang kecil. Bukan karena mereka tidak banyak mengumpulkan buku. Namun kebanyakan buku yang mereka kumpulkan adalah buku saat mereka kecil, buku² yang sudah tidak dibaca lagi. Jadilah yang lebih banyak terkumpul selalu adalah buku jenjang kecil. Situasi ini memang masih jadi pr untuk semua.
Dari semua dinamika ini, yang menjadi hadiah besar bagi kami semua yang terlibat di dalamnya, paling tidak untuk aku adalah kegembiraan, antusiasme, dan binar mata anak² di antara hamparan buku², yang semoga menambah subur keinginan dan kesukaan membaca mereka. Terima kasih sangat untuk hari ini.. 😊