Pagi ini menerima kiriman, Vivere et Interpretari; sebuah buku tulisan Tasha, KPB 2022. Pas banget karena bisa langsung baca, mengisi libur. ๐ Terimakasih @natasha-setyamukti !
Perjalanan 3 tahun, 6 semester di KPB, dikemas dalam sebuah buku setebal 157 halaman. Wow, menarik sekali 1 rangkaian proses utuh, pertama dari sekitar 20 orang yang sudah lulus dari KPB. Membuat penasaran, tapi sepertinya buku ini lebih tepat disebut memberi gambaran, bukan mewakili. Karena meski berproses bersama dalam sebuah kelompok, penghayatan, pemaknaan, perjalanan masing2nya sangat berbeda. Akhirnya menjadi petualangan diri, proses menemukan diri yang sangat individual. Tengok bagaimana Tasha bercerita tentang proses yang terjadi dalam dirinya, sejak mulai menimbang pilihan antara KPB dan sekolah lain, hingga akhirnya ia membuat keputusan, tentang penemuan2 diri ketika menjalani proyek demi proyek, tentang bagaimana ia mendorong diri keluar zona nyaman, dll. Meski sembari tetap menggarisbawahi ciri khas KPB lewat ungkapan seperti, โBukan KPB namanya kalau ga.. gini atau gituโ ๐. Dan pada bagian โMakna KPBโ, Tasha menjelaskan dengan apik pemahamannya mengenai hal ini, simpulan yang mantap!
Yang membuat kagum adalah bahwa pengalaman2 yang sudah bertahun lewat itu terdokumentasi baik, hingga dapat ia ceritakan dengan timeline dan alur yang rapi dari semester ke semester. Kesungguhan dalam mengikuti kegiatan atau menjalankan tugas tentunya berpengaruh pada kemampuan untuk menuliskan kembali pengalamannya dengan baik. Kalau sekadar hadir atau ikut sebagai kewajiban, memang susah kali ya untuk bisa mengingat dan bercerita kembali. Atau mungkin karena pada dasarnya suka menulis, maka Tasha dapat bercerita dengan baik. Entahlah, dokumentasi apik ini bisa jadi rahasia dapur ya Ta ๐ Namun ini sejalan dengan tulisan pak @joefelus kemarin tentang menulis untuk mengabadikan pengalaman. Tak sekadar menuliskan kegiatan yang dilakukan, tapi juga detil yang dapat dengan mudah terlupakan, rasa dan gagasan yang muncul, kesan dan pesan yang ditangkap. Catatan pengalaman menjadi berharga ketika berhasil diolah hingga dapat semakin mengenali diri, dalam hal ini bahkan dapat disajikan kembali untuk orang lain. Joss!
Terakhir, angkat topi juga untuk kemampuan Tasha memotivasi dan menantang diri, membuka kemungkinan baru dengan membuat pilihan yang justru di luar minat. Kemampuan mengatur waktu dan tenaga agar komitment yang sudah dibuat terkerjakan dengan baik. Kemampuan2 yang perlu dibangun dengan upaya sadar hingga terbiasa, bukan sekadar kemampuan mudah dimunculkan ketika butuh. Bekal yang luar biasa!
Secara keseluruhan ini buku yang ditulis dengan baik, Bene Scriptum
Mangga dibaca sendiri. Mudah2an terus menulis Tasha!
Terima kasih banyak kakk