Apa yang dimaksud dengan Esai dalam AES? Salah satu pertanyaan yang muncul dalam diskusi akhir pekan kemarin. Mungkin menjadi pertanyaan karena ragam tulisan dalam AES termasuk luas untuk dikategorikan pada satu bentuk tertentu.
Menurut Wikipedia, esai adalah prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Esai bisa berisi opini, pandangan atau ekspresi pribadi dari penulis mengenai sebuah hal yang sedang terjadi atau berlangsung di masyarakat. Prosa sendiri memiliki sifat memaparkan sesuatu. Terbagi menjadi prosa nonsastra dan prosa sastra. Prosa nonsastra berbentuk karya tulis ilmiah, meliputi laporan penelitian, makalah, atau artikel. Sedangkan prosa sastra terbagi lagi menjadi prosa fiksi seperti dongeng, cerita pendek, novel, dan prosa nonfiksi seperti biografi, autobiografi, atau yang disebut esai itu.
Bila ditilik, dalam AES banyak tulisan mengenai pengalaman pribadi, ada yang mengarah pada opini, refleksi, atau sekadar mendokumentasi proses. Ada pula puisi, fiksi atau cerita pendek, cerita bersambung. Ada tinjauan karya, musik, buku, film, tokoh, dll. Banyak pula sharing pengetahuan mengenai topik dalam bidang spesifik yang diketahui seperti ekonomi, politik, budaya, pendidikan, olahraga, games, meditasi, nafas, dll. Ada yang menulis dalam bahasa Indonesia, ada pula yang konsisten menulis dalam bahasa Inggris. Ada yang menulis dengan pola baku sesuai yang pernah dipelajari, tapi banyak pula yang menulis dengan bebas. Bahkan ada yang menulis tanpa kerangka tertentu, karena sedang tidak ada ide, dan menulis apapun yang terpikir saat itu.
Bagi saya, justru ini yang membuat AES jadi menarik. Keberagaman sudut pandang dan cara yang mengakomodir preferensi individu yang ingin bergabung. Syarat dan ketentuan yang berlaku sejauh ini hanyalah jumlah kata (itupun kira-kira 250 kata) dan konsistensi (sesuai judul, rutin dimaksud untuk membangun atomic habit). Sangat cair karena tidak ada yang mencolek atau memberi konsekuensi bila tidak sepenuhnya sesuai. Contohnya saya sendiri. Setelah mencapai siklus 2 bulan rutin menulis setiap hari, ternyata perlu membuat penyesuaian jadi 2 hari sekali. Dalam situasi bertanya-tanya apakah masih sesuai dengan kriteria AES, pak Ahkam malah merespon dengan memberi semangat
terharu..
Panduannya sepertinya memang hanya kesadaran masing-masing. Membangun sesuatu dalam skala satu sekola, berdasarkan kesadaran bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih kombinasinya antara kebiasaan dan literasi. Bukan sesuatu yang menggiurkan untuk dicoba. Entah apa yang dimiliki mereka yang sudah berhasil menjalani lebih dari seratus hari. Yang pasti perlu disiplin dan kesediaan berupaya supaya mewujud.
Gambar dari twowritingteachers.org
Jadi mari bersepakat di sini untuk boleh menulis tentang apapun - dengan catatan kita perlu sadar lingkungan dan sadar tujuan juga tentunya... 🤗