146 lupa senyum
innocentiaine
Sunday June 5 2022, 9:00 PM
146 lupa senyum

Meski tidak cantik, ketika tersenyum ia menjadi sangat menarik. Banyak orang mengatakan demikian. Karena pembawaannya yang cenderung serius, ia memang jarang tersenyum. Lebih sering terlihat seperti merenung, terus berpikir hingga kedua alisnya bertemu. Alih-alih melebar dan membentuk lengkungan manis, bibirnya malah meruncing. Bila sudah demikian, orang cenderung menghindar, enggan menghadapi energi yang dari jauh sudah tampak berat. Segera belok arah sebelum harus berpapasan, mencari tempat duduk yang jauh, agar tidak harus memandang atau bersitatap dengannya, dan menjadi canggung.

Lama tak jumpa, ketika bertemu kembali ia tampak dewasa. Terlihat jauh lebih rileks, jadi banyak tersenyum, bahkan matanya pun membingkai senyum, cantik! Tak ragu untuk tertawa, dapat berbincang ramah. Entah apa yang dialami, ceritanya panjang. Katanya ia menyadari bahwa ia musti lebih banyak tersenyum. Menyadari, mengingatkan diri, melatih, mulai dengan tersenyum pada pemilik warung atau bapak satpam. Bahkan saat meditasi ia mengingatkan diri untuk merilekskan wajah dan tersenyum. 

Banyak tersenyum bukan untuk membuktikan sudah bahagia. Justru merupakan cara sederhana untuk membuat hati lebih gembira, membuat diri merasa dan pastinya terlihat lebih baik. Senyum adalah bahasa yang universal, membuka pintu pertemanan, menunjukkan kesediaan untuk bersahabat.

Dulu sempat ada  seorang kakak yang wajahnya hampir selalu dihias senyum. Di kelasnya, ketika mengajak anak-anak siap mengikuti kegiatan, ia mengatakan, “Sikap siap!, Duduk tegak!” lalu tak lupa menambahkan “Senyum manis!” Tidak hanya anak, kami yang kebetulan berada di situ dan mendengar juga jadi spontan tertawa, dan tersenyum. Sederhana, tapi membuat anak tahu dan tidak lupa untuk tersenyum di keseharian. 

You May Also Like