105 time in
innocentiaine
Friday November 19 2021, 6:38 PM
105 time  in

Mungkin banyak di antara kita yang pernah mengalami, dilerai lalu diminta untuk ‘time out’ di tengah konflik, atau sebaliknya memberlakukan ‘time out’ pada orang yang sedang berkonflik atau pada anak yang sedang meradang. Harapan yang menerapkan adalah supaya menyesali atau paling gamikir, ‘Duh aku ko ngga ok banget ya, seharusnya aku ga gitu ya sama dia’. Namun lebih besar kemungkinannya, anak akan berpikir bahwa ini ga fair banget, itu kan bukan salah aku, karena sedang emosi. Bisa jadi malah memikirkan cara balas dendam atau malah jadi sneaky supaya lain kali ga ketauan.

Sempat muncul istilah ‘time in’ yang maksudnya lebih pada memahami sisi yang mengalami konflik, menerima bahwa saat itu anak sedang emosi. Biasanya saat sedang emosi, mode yang menyala adalah flight or fight, sulit untuk bisa diajak bicara bila belum tenang. Yang mungkin bisa dilakukan adalah hadir, menemani sampai emosi membaik, mungkin beberapa menit bisa berasa panjang.

Secara logis, anak belum mampu mengatasi emosi mereka dengan tepat. Catatannya, bila tidak pernah dibangun, sampai dewasa juga jadi tidak bisa. Menerima, memahami emosi yang anak sedang hadapi, dapat membantu mereka mengolah, menenangkan diri, ga perlu drama. Bila terus terlatih, akhirnya akan bisa sendiri. Bukan mengabaikan sikap yang ga OK juga, tapi ajakan memperbaiki baru bisa dilakukan setelah emosi reda. Semakin kecil usia, semakin butuh bantuan untuk tahu bila ia melakukan sesuatu yang tidak OK dan bagaimana ia bisa memperbaiki hal itu. Misal anak memukul teman atau mendorong balok kakaknya. Segera tengahi dan sampaikan singkat saja bahwa itu tidak ok, mukul itu bikin sakit. Lalu beri perhatian pada anak yang dipukul, ada yang sakitkah, bila perlu segera ambil obat / kompres. Ini menjadi referensi bagi anak yang memukul, belajar berempati. Kemudian baru lakukan time in dengan anak yang memukul, menemani sampai tenang. Setelah tenang ajak anak berdiskusi untuk memperbaiki situasi, misal bantu kakak bangun lagi baloknya, atau apa yang bisa dilakukan pada teman yang dipukul. Di waktu yang netral baru sampaikan bahwa memukul atau menghancurkan mainan itu tidak OK.

Orangtua sendiri perlu membangun sikap tetap tenang. Kadang sulit bagi sebagian orang, untuk tidak terpancing. Misal anak tantrum minta sesuatu di tempat umum, seperti berteriak-teriak atau menangis, dan kadang tanpa sadar orangtua juga masuk mode flight or fight, langsung marah, menakut-nakuti atau meninggalkan. Sebagai orang dewasa, perlu mengingatkan diri bahwa anak sedang belajar menjadi manusia seutuhnya. Ketika anak tantrum, bukan berarti sengaja manantang atau membuat kesal orangtua. (tua adalah guide anak. Anak butuh orangtua yang menerima diri mereka seutuhnya dengan semua ragam emosinya, dan membimbing mereka sampai ke tahap emosi yang bisa ia regulasi. 

joefelus
@joefelus   5 years ago
Duh mengena banget, kak! Saya dulu sering bersedih dan menyesal ketika anak sudah tidur dan saya begitu kurang sabar sehingga sebelumnya saya menghukum dia. Sekarang anaknya sudah lebih besar dari bapaknya, untungnya dia terbiasa mengungkapkan perasaanya kalau sedang galau. Kemarin ada sedikit perselisihan antara saya dan dia gara-gara terlambat beberapa menit menjemput dan dia harus menunggu dalam suhu dingin. Dia agak terganggu, saya agak terganggu. Saya menyesal dia menyesal dan dia berinisiatif membuka tangan lebar2 mengajak berpelukan. kadang saya berpikir, if only life is as easy as the way he tries to settle with problems, simple tapi efisien dan jelas2 efektif... hmm.. sekarang bapaknya yg harus belajar lagi hahaha!
innocentiaine
@innocentiaine   5 years ago
Haha sama pak Jo.. saya juga belajar lagi.. Sepertinya memang perlu memandang masalah dengan cara seperti itu.. legowo, yang sudah terjadi memang demikian, ya sudah.. yg penting ga jadi menyimpan kesal ya..
You May Also Like