Suka tetiba craving baca novel, fiksi, cerita. Seperti ada kebutuhan untuk masuk ke dunia cerita, yang ga perlu olahan kompleks, ga perlu berpikir rumit. Meresapi rangkaian kalimat-kalimat indah, jabaran puitis, menghadirkan dalam benak imaji tentang pemandangan atau situasi yang disampaikan lewat kata-kata. Karena itu juga mungkin suka merasa tidak rela untuk menonton film berdasarkan novel, kalau belum baca novelnya. Beberapa kali merasa kurang detil, kurang tepat, atau kehilangan bagian yang penting menurutku. Namun yang pasti saat membaca novel fiksi, aku bisa menerima olahan absurd yang ditawarkan penulis dengan senang hati. Ga perlu protes, ga mengoneksi dengan situasi nyata. Paling banter gemas dengan alur atau sikap si tokoh cerita. Bisa sampai ketawa sendiri, atau nangis bombay karena terharu. Aneh ya? Entah kenapa, dan tak bisa dijabarkan. Sepertinya memang dibuat untuk itu. Mungkin karena tahu fiksi tidak bisa terjadi, tidak ada konsekuensi, jadi tak mengapa untuk terhanyut dan menaruh rasa saat membaca.
Ketika membaca cerita yang aku rasa bagus, lalu suka jadi ingin orang pada baca. Meski tahu bahwa selera bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Terakhir kali agak memaksakan diri untuk membaca bersama si bungsu ketika dia masuk SMP. Saat itu aku merasa minat bacanya kurang. Namanya juga usaha, tak penting bagaimana hasilnya. Pokoknya kita janjian untuk baca bareng, satu bab saja setiap malam satu. Bukunya aku yang pilih hehe.. Tentunya sesuai pengenalan terhadap kesukaan si anak dan isi cerita. Burlian, salah satu dari sekian banyak cerita anaknya Tere Liye. Awalnya lempeng aja dia. Setelah beberapa bab mulai ikut nyengir, memang kocak banget membayangkan jahiliyahnya pemuda kampung di bukit barisan sana, mereka bertaruh sewaktu menonton siaran ulang pertarungan Muhamad Ali yang semalam baru ditonton dan sudah bertaruh juga. Ikut sedih dan berkaca-kaca saat mereka kehilangan jagoan bola sekampung yang tongos, keriting dan keling. Ga lantas jadi suka baca sih, tapi kalo ada yang menarik buat dia, maulah dia membaca.
Sudah lama tidak membeli buku. Jadi ikut membaca lewat apps, karena tidak bisa ke toko buku. Sebenarnya kalau ada, aku jauh lebih memilih untuk membaca buku. Selain ramah di mata, entah mengapa memegang buku, menghirup aroma lembar-lembarnya, sangat menyenangkan untukku.