Tahun 2018, di propinsi Chiang Rai, Thailand Utara terjadi sebuah bencana.12 anak laki-laki anggota tim sepakbola dari sebuah desa / kota kecil di daerah itu terjebak di dalam gua Tham Luang bersama pelatih mereka. Tampaknya mereka bermaksud merayakan suatu, dan entah mengapa sampai mengabaikan pengumuman bahwa gua tidak boleh dimasuki di musim penghujan. Ketika hujan turun, sepertinya air dengan cepat memenuhi gua, menutup jalan keluar.
Ketika penduduk menyadari hal ini, berbagai upaya dilakukan untuk mengeluarkan mereka, tapi tidak berhasil. Entah berapa besar upaya yang dilakukan untuk menolong mereka. Relawan berdatangan dari desa, kota lain, bahkan negara lain. Mereka berusaha memompa air dari dalam gua, tapi ketika hujan turun, dalam sekejap upaya tersebut ternegasi. Mereka berusaha mencari jalan masuk lain, membuat celah lain, menutup celah yang merembeskan air, dll. Para penyelam gua yang berpengalaman dari berbagai belahan dunia segera diminta datang. Sulit melihat apapun dengan visibilitas dalam air yang sangat buruk, sehingga para penyelam hanya menggantungkan diri pada tali pemandu. Ayah, ibu, keluarga anak-anak tersebut melantunkan doa, siang malam menanti penuh harap. Keyakinan bahwa anak-anak itu dapat bertahan, semakin menipis seiring hari dan kegagalan usaha yang dihadapi. Namun pencarian perlu terus dilakukan.
Baru di hari ke 7, mereka ditemukan, di satu ruang dalam gua yang berjarak puluhan kilometer dari muka gua. Saat ditemukan mereka semua masih bertahan dalam kondisi fisik dan mental yang relatif baik. Sungguh melegakan. Namun bukan berarti mereka dapat segera dibawa keluar begitu saja. Tampaknya bukan suatu kebetulan bahwa sang pelatih adalah seorang bhiksu. Ia mengajarkan dan mengajak ke 12 remaja itu untuk bermeditasi dan bernafas dengan baik agar dapat mempertahankan tenaga dan mental mereka. Sungguh mengagumkan melihat tidak ada satupun dari anak-anak itu yang menangis, ataupun jatuh sakit. Mereka bahkan dapat tersenyum ketika direkam untuk memberi kabar pada semua orang yang menunggu mereka di luar gua. Tidak terbayangkan terjebak dalam satu permukaan sempit dalam gua gelap yang dikelilingi air, tanpa penerangan, bekal makanan, baju hangat, dan Oksigen yang semakin menipis. Mereka kehilangan sense akan waktu, tidak lagi tahu dan tidak menghitung berapa lama mereka sudah berada di situ. Tidak ada tempat untuk bergerak, bahkan berdiripun sepertinya tidak berani. Tanpa kemampuan untuk mengendalikan diri, sepertinya tidak mungkin mereka dapat bertahan. Meski telah ditemukan, tidak berarti mereka dapat segera dibawa keluar begitu saja dengan menyelam. Setelah mencari dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, akhirnya satu demi satu dibawa keluar dalam kondisi dibius agar tidak panik dan dapat diangkut dengan cepat oleh para penyelam berpengalaman. Resikonya sangat tinggi tapi tidak ditemukan cara lain. Situasi yang pastinya sulit, mereka bisa saja menolak, angkat tangan dan kembali ke negaranya. Namun akhirnya terpanggil dan bersedia membantu. Bahwa akhirnya semua berhasil diselamatkan merupakan capaian luar biasa. Para penyelam gua, yang biasa menyelam sebagai hobi menjadi pahlawan dan mendapat penghargaan dari Thailand dan dari negara mereka masing-masing.Β
Peristiwa ini kemudian dibuat film dokumenter oleh National Geographic, dengan judul The Rescue. Dokumenter yang bagus, tapi pastinya lebih menarik untuk disaksikan langsung. Hal yang paling menarik untukku adalah kekuatan dan manfaat meditasi yang sangat membantu ke 12 anak itu untuk bertahan hidup. Sebuah cara yang luar biasa.
Saya ingat peristiwa ini. Mengikuti liputan berita selama beberapa hari di televisi di sini. Kisah yang luar biasa!
Iya kak Ine - kita ga bisa membayangkan kekuatan meditasi ya - Hening dan Diam adalah sesuatu yang sangat powerful (ga ketemu bahasa Indonesianya). Sesuatu yang masih sangat tidak kita pahami. ππΌπ