Saat bangun pagi ini, aku memandang langit yang putih merata, sambil terus berharap cuaca cerah, paling tidak untuk pagi ini saja.. Memang matahari tidak tampak bersinar cerah, bahkan hujan gerimis menemani saat aku bersiap dan di jalan menuju sekolah. Masih berdoa supaya cuaca baik-baik saja ketika menyadari, kenapa aku terus memikirkan cuaca yang hanya bisa diterima adanya. Yang penting adalah agar kegiatan-kegiatan di hari ini berjalan lancar, seru, menyenangkan bagi anak-anak dan semua yang sudah berminggu-minggu mempersiapkan hari ini, hari Festival Literasi Smipa.
Benar saja, hujan rintik tetap datang dan pergi, tapi ternyata tidak berpengaruh pada suasana gembira dan bersemangat di sekolah. Dari kelas ke kelas, KBTK, SD kecil, SD besar, teman-teman dan kakak kelas bersiap untuk para pendongeng yang akan datang khusus di hari ini. Sungguh menyenangkan bertemu mereka. Ka Pipit, yang pernah menjadi kakak di TK beberapa tahun silam, akan bercerita dengan wayang bebernya di SD 3-4. Ka Pipit dengan wajah yang selalu tersenyum, hadir bersama istri, dan kedua anaknya; Carmen yang juga sempat bersekolah di TK Smipa dan Hiro. Melihat ekspresi teman-teman saat mendengar ka Pipit sungguh priceless. Ka Sundea, yang juga pernah jadi narasumber teman-teman angkatan pertama Smipa, akan berbagi tentang bercerita dengan Indera di SD 5-6. Sungguh topik yang jitu. Ketika mendapat waktu untuk pengindraan di seputar sekolah, seorang anak menunjukkan seekor tonggeret yang sedang hinggap dan berjalan pada jemari tangannya
Anak lain mencium daun Zodia, dan mengatakan aromanya seperti yang tercium dari semut yang kepencet
Ah penasaran apa yang akan mereka tulis tentang hal-hal itu.. Lalu di jenjang kecil, KB-TK dan SD1-2 ada Ka Yessy dari komunitas Kokomang, yang sudah banyak disebut-sebut oleh kakak maupun orangtua. Ka Yessy akan mendongeng tentang Hutan Marie, sembari berkarya dengan clay. Seru banget! Cerita yang interaktif dan imajinatif, dibawakan dengan ekspresif. Sementara itu teman-teman jenjang besar, SMP dan KPB, mendengarkan cerita dari pak Yunus. Beliau adalah penulis buku Meraba Indonesia, tentang perjalanannya mengelilingi Indonesia, tepatnya pulau-pulau terluar Indonesia dengan sepeda motor. Wah mudah-mudahan banyak pengetahuan dan masukan yang bisa ditangkap teman-teman yang akan dan sudah mulai banyak melakukan perjalanan. Aku tak bisa duduk tenang di satu kelas. Terlalu bersemangat dan meski tak mungkin, aku ingin menangkap sebanyak mungkin suasana, cerita, interaksi, ekspresi, dan kegembiraan yang muncul di setiap kelas..
Di Longpus, rekan orangtua terlihat sibuk dengan lapak Bursa Buku, yang menjual buku-buku warga Smipa. Buku-buku koleksi pribadi, baru ataupun pre-loved yang sudah tidak lagi dibaca dan ingin dijual. Besok pun masih akan ada Situbucang, Silih Tukar Buku Rencang. Kegiatan bertukar buku dengan teman. Beberapa rekan orangtua yang sudah selalu terlibat dalam penyelenggaraan FestBuk, juga beberapa orangtua baru, dengan bersemangat mengumpulkan, memilah, mendata, memberi lampiran jejak kepemilikan pada buku-buku yang ditukarkan oleh anak-anak, lalu menghitung dan membagikan token untuk masing-masingnya. Bukan hal yang sederhana dan mudah, tapi dikerjakan dengan suka hati sejak beberapa minggu lalu. Beberapa kali bergabung dengan mereka saat bekerja di ruang balado. Sungguh serius tapi juga santai, sambil ngobrol dan bercanda sana-sini. banyak juga berkomentar, bertukar pendapat tentang buku-buku yang bagus, yang pernah dibaca, yang direkomendasikan, yang disukai, hingga yang kurang oke. Pastinya mereka juga penggemar buku dan membaca, yang tetap berbinar dan berbunga-bunga saat berada di tengah ratusan buku 
Sungguh bersyukur untuk hari ini. Seperti kata Kang Wawan di akhir acara, terus ingat untuk mensyukuri dan mengucap doa seiring tarikan dan hembusan nafas.
Terima kasih semua, sampai besok..
Mantap ka Ine. Hatur nuhun. 😊🙏