Waktu masih duduk di bangku sekolah, aku pernah mendengar seseorang mengatakan “You always have a choice. You can choose to be happy, or you can choose to be grumpy. But it is always better, it is always smarter, it is always wiser to choose to be happy!!” Masih aku ingat betul, karena membuka pemahamanku mengenai pola pikir saat itu. Terdengar sederhana, tapi tidak lantas aku langsung bisa menerapkan, paling tidak jadi pengingat dari waktu ke waktu. Bahwa suasana hati itu berasal dari keputusan dalam diriku sendiri.
Beberapa hari lalu, sempat berdiskusi mengenai suasana hati dalam menulis atau bekerja. Ibarat seniman yang konon perlu menunggu ilham untuk berkarya. Yang ini sih sepertinya labeling. Karena pada akhirnya sama dengan berbagai profesi lain, berujung pada individunya dan argumen, “Lagi ga mood.” Membuat karya, sama halnya dengan menulis, butuh kedisiplinan untuk mengondisikan diri, duduk di tempat kerja dan mulai bekerja. Tidak ada jadwal dari kantor, sekolah, atau perusahaan yang harus diikuti. Yang perlu dilakukan adalah membuat jadwal, target dan mengabsen diri sendiri. Agak repot sepertinya kalau perlu menunggu suasana hati baik. Serupa menunggu Godot. Apalagi ketika berada di bagian sulit, atau berharap suasana hati menjadi baik karena faktor luar. Keputusan untuk duduk dan mulai bekerja saja sebenarnya sudah dapat membuat suasana hati menjadi baik. Karena selaras dengan yang perlu dilakukan. Sementara menunda atau menghindari, memupuk rasa bersalah pada diri karena bertentangan dengan tujuan diri. Mengatasi rasa enggan, rasa berat, maju sedikit demi sedikitpun otomatis membangun suasana hati, dijamin. Yang pasti, pilihan untuk mengerjakan atau tidak, adalah pilihan masing-masing, dan akan berpengaruh pada suasana hati.
Photo by uncoveredlens: https://www.pexels.com/photo/photography-of-a-woman-holding-a-cardboard-with-emoticon-3655914/