138 tanpa gawai
innocentiaine
Saturday May 21 2022, 6:31 PM
138 tanpa gawai

Jaman dulu ada ungkapan rumput tetangga selalu lebih hijau. Jaman sekarang rumput tetangga sudah bergeser ke dunia maya, postingan pada medsos atau lapak-lapak dengan postingan aduhai. Menengok rumput tetangga, jadi kegiatan pengisi waktu. Otomatis, begitu tangan menyentuh gawai.

Awalnya terkesima, bisa melihat dan menemukan berbagai hal baru. Merasa paling gaya, paling up to date. Jadi penting untuk terus mengikuti, mencari ide-ide baru, bisi seperti katak dalam tempurung, merasa inovatif, padahal orang lain sudah menemukan/melakukan sejak lama. Muncul istilah fear of missing out yang dalam waktu relatif cepat, dibalas dengan joy of missing out. Termasuk di dalamnya detox atau diet gawai. Meski tidak seekstrim itu juga, karena hampir semua data, kontak, catatan, berada di gawai. Masih perlu menalar dan menakar apa saja yang sebenarnya dapat dilakukan dengan dan tanpa gawai.

Padahal aku kan tidak bertumbuh bersama gawai atau teknologi yang sudah canggih? Beda halnya dengan anak-anak generasi Z atau Alpha yang lahir setelah tahun 2000-an, teknologi memang sudah hadir dalam kehidupan mereka sejak mereka lahir. Kakak kelas 3 SD pernah bercerita bahwa ketika mengajak anak-anak di kelasnya berdiskusi tentang kebutuhan primer dan sekunder, mereka langsung menempatkan gawai pada kebutuhan primer.

Pernah ada masa, aku sangat memuja ketrampilan tangan dan mengolah rasa. Tidak butuh teknologi untuk melakukannya. Kalaupun ada lebih berupa peralatan dengan sistem mekanik sederhana. Membuat goresan dengan tangan, kuas, pinsil, tanah, daun, sambil mendengar musik, mencampur warna, menyusun bentuk, mencari pola. Nah kan jadi kangen sama rasa itu. Rasa puas dan penuh, tentram dan senang apalagi ketika jatuh cinta sama hasilnya. Yang tampaknya tak tergantikan dengan olahan yang terbatasi layar.

Photo by RF._.studio: https://www.pexels.com/photo/crop-woman-and-abstract-illustrations-on-floor-3817676/

You May Also Like