Bernafas sebagai sesuatu yang alami, berlangsung dalam tubuh, perlu diakui jarang aku perhatikan. Paling saat meditasi atau waktu hening, yang hanya sekian menit dari 24 jam. Itu pun kalau tidak bolong-bolong.
Sudah cukup lama aku mengikuti akun Gobind Vashdev, termasuk ketika ia memperkenalkan salah satu teknik berlatih nafas. Memang kenapa dengan nafas ini? Setelah mengikuti lebih jauh, baru menyadari bahwa bernafas itu meski naluriah dan alamiah, bisa salah, dan malah menyebabkan bermacam penyakit kronis.
Kerja otak, jantung dan nafas merupakan satu kesatuan. Amygdala / pusat emosi sangat berpengaruh terhadap kerja otak. Ketika emosi terpicu, denyut otak dan detak jantung menjadi kencang, nafas menjadi tidak tenang, memburu, lewat mulut, otak pun masuk ke mode fight or flight. Dalam kondisi demikian sulit untuk mengendalikan otak atau jantung. Sejalan dengan bahasan mengenai gelombang otak di pembekalan beberapa hari yang lalu, hanya dengan menyadari, hening dan mengatur nafas, kita dapat menenangkan diri.
Selanjutnya cara bernafas menjadi penting. Tips yang pertama dan selalu ditekankan adalah untuk selalu bernafas lewat hidung, bahkan saat berolahraga dan tidur. Bernafas lewat hidung dapat melembabkan dan menjaga suhu pada rongga amygdala, sehingga emosi juga terjaga. Dan ketika kita bernafas lewat hidung, Neocortex menghidupkan saraf parasimpatik sehingga kita berada dalam mode rilex and digest.
Secara logika untuk mendapat lebih banyak oksigen, kita bernafas lebih banyak. Menarik nafas dalam-dalm secara instan dapat memberi efek melegakan, seperti efek sugar rush. Tapi overbreathing tidak baik untuk jangka panjang, apalagi bila menjadi kebiasaan. Proses distribusi oksigen dari paru-paru sampai ke sel-sel tubuh sendiri adalah proses yang kompleks. Dibutuhkan cukup CO2 agar hemoglobin dapat melepaskan oksigen dari darah. Ketika bernafas terlalu banyak, kita menghembuskan terlalu banyak CO2 juga, sehingga kandungan CO2 di paru-paru dan darah turun. Sementara CO2 ternyata memiliki banyak fungsi penting dalam tubuh, di antaranya menjaga pH darah dan menyalurkan oksigen ke sel-sel seluruh tubuh (Versi ilmiahnya dikenal dengan Efek Bohr). Bahkan banyak masalah kesehatan yang terjadi akibat kadar CO2 yang rendah. Jadi agar seluruh tubuh mendapat cukup oksigen, justru diperlukan nafas yang lebih sedikit, lebih irit.
Di sini lah latihan rutin beberapa kali setiap hari dibutuhkan, agar tubuh menjadi terbiasa dan kemampuan meningkat. Meski belum konsisten secara frekuensi, cukup banyak hal turut berubah seiring latihan. Mulai dari emosi, tidur, pencernaan, energi, daya tahan tubuh, dll. Namun sama seperti atomicessay, untuk jadi terbiasa, ini juga butuh kesadaran, niat dan kesediaan menjalani proses 
Sudah baca buku Breath karangan James Nestor kak? Jika tertarik untuk tau lebih jauh tentang napas bisa baca buku itu yang mengupas napas dan berbagai teknik bernapas.
waah.. thank you Yuli rekomendasinya