Makanan untuk aku pribadi adalah topik yang sangat subjektif. Meski tak terlalu sulit untuk menyepakati rasa yang enak, panganan yang punya keunikan rasa, atau istimewa tidaknya jajanan yang mendadak viral. Tapi menyepakati makanan yang sehat tak selalu mudah. Banyak faktor yang berpengaruh, seperti kondisi tubuh dan kesehatan, pola makan di rumah, budaya, wawasan, kesadaran, dll. Sehingga kerap sulit untuk bersepakat.
Ketika berbicara tentang makanan sehat di lingkungan sekolah, tentu perlu ada ruang kesepakatan bersama. Terlebih karena kegiatan makan bersama atau saling berbagi bekal makan di sekolah, akan kembali digulirkan, setelah beberapa tahun ini tidak dapat diselenggarakan. Biasanya, bekal anak yang satu menarik bahkan menjadi referensi bagi anak lain. Lepas dari kondisi individual seperti alergi atau intoleransi yang kadang menjadi kasus khusus. Untuk anak, garis bawahnya tetap pada makanan yang memberi kebaikan pada tubuh dan proses pertumbuhannya, dengan ragam tekstur dan rasa yang kaya. Dalam hal ini kadang orangtua perlu memberi perhatian lebih luas dari sekadar mengikuti kesukaan atau kemauan anak, yang besar kemungkinan terbentuk dari pola tertentu dan kadang membuat anak jadi pemilih.
Di satu episode EndGamenya Gita Wiryawan dengan Nadiem Makarim, hal ini sempat sedikit dibahas. Menarik sekali bagaimana mereka dengan gamblang menyampaikan bahwa asupan, makanan, gizi, untuk anak adalah investasi yang dapat orangtua tanamkan pada anak. Kaitannya tentu dengan proses panjang pertumbuhan fisik yang masih perlu mereka tempuh, juga pola makan yang akan terbentuk. Kalau mau punya anak dengan tubuh dan kemampuan belajar yang baik, orangtua perlu memperhatikan apa yang dikonsumsi anak.
Di jaman yang semakin maju, semakin banyak substitusi bahan pangan yang artifisial, melibatkan bahan kimia, GMO (Genetically Modified Organism) ataupun proses yang kadang menghilangkan kebaikan alami yang terkandung di dalamnya. Memikirkan hal ini pastinya bisa jadi rumit, bikin pusing orangtua yang perlu memasak dan menyiapkan bekal. Bukan bermaksud membebani, tapi jangan juga jadi abai dan tak peduli. Yang paling tidak dapat kita waspadai adalah panganan yang sudah jelas sarat gula, atau bahan kimia seperti pewarna atau pengawet. Paling tidak ketika berada di sekolah, anak tidak dibawakan permen, coklat, bermacam keluarga chiki, sirup, soda. Apalagi untuk dibagikan pada teman. "Namanya anak, pasti suka permen, kan kasian kalo ga dikasih." Pertanyaannya, kalau sudah tahu hal itu tidak baik tapi tetap diberi, apa betul itu sayang? Mungkin bisa dicari jalan tengah. Ketika anak-anak masih kecil, kami menyepakati adanya candy day atau hari permen. Hari khusus di mana mereka boleh pilih permen yg mereka dapat di hari lain untuk dinikmati di hari itu. Bukan sesuatu yang sering mereka dapat juga sebenarnya. Tapi bila ada yang memberi, mereka tahu bahwa mereka bisa menyimpan dulu hingga hari permen yang akan datang. Dan akhirnya sampai besarpun mereka termasuk jarang makan permen..
Atau memberi makanan sebagai bentuk reward
Oh ada satu hal lagi yang menjadi concern saya dalam hal berbagi makanan: food allergy dan cross contamination. Kita tidak tahu bagaimana makanan disiapkan di rumah, berbagi makanan bisa jadi tempat penyebaran penyakit jika seadainya bibi yang menyiapkan kebetulan sedang flu, misalnya. Allergy makanan juga sangat rentan karena dalam proses menyiapkan makanan sering berdekatan dengan allergen. Dulu kita memang agak mengabaikan ini, sekarang berbeda sekali. Manusia rentan pada allergy karena sepertinya bahan makanan sekarang sudah berbeda proses produksinya dibandingkan misalnya puluhan tahun yang lalu, oleh sebab itu ada istilah GMO, free range chicken, dll
Terima kasih pak Joe.. memang sekarang perlu semakin berhati-hati. Harapannya jadi kesadaran bersama..