AES74 desa kincir air
innocentiaine
Monday September 20 2021, 10:48 PM
AES74 desa kincir air

20 September. Hari ini aku teringat pada episode mimpi terakhir dari film Akira Kurosawa, Desa Kincir Air. Seorang pemuda berjalan di sebuah desa yang permai. Rumah-rumah sederhana, sungai jernih, jembatan kayu, kincir air, sawah, kebun, ladang dan anak-anak bermain di alam. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang bijak yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Sang bijak menjelaskan tentang desanya yang memilih cara hidup sederhana, tanpa campur tangan teknologi. Membajak sawah dengan sapi dan lembu, tanpa traktor. Menerangi rumah dengan lilin dan minyak biji rami, tanpa lampu. Teknologi membuat manusia nyaman, malas dan semakin jauh dari alam ujar sang bijak. Tapi malam kan gelap, ucap si pemuda dengan bingung. Ya, malam memang dimaksudkan untuk gelap jawab sang bijak. 

Tengah bercakap, terdengar suara keriaan dari kejauhan. Ternyata para penduduk membuat prosesi pemakaman untuk menghantar seorang warga desa yang baru meninggal dunia. Seorang ibu berusia 100 tahun. Pria, wanita, anak-anak mengikuti parade tersebut dengan mengenakan baju warna-warni, menyanyi, menari, gembira merayakan kematian. Ketika pawai mendekati mereka, sang bijak beranjak masuk ke dalam barisan seraya berkata, banyak orang mengatakan hidup itu berat. Itu hanyalah ungkapan. Hidup itu suatu kebaikan.. 

Aku membayangkan sosok sang pemuda, di desa kincir air yang damai. Jauh dari keramaian dan hidup yang rumit. Menemukan keindahan dan kedamaian dari gelap malam, berada di antara mereka yang merayakan kematian dengan penuh syukur dan gembira, sekaligus menghayati kebaikan hidup. Hari ini aku berdoa untuk dapat mensyukuri jejak kehidupannya yang penuh semangat dan kebaikan, dan untuk dapat senantiasa merayakan kepergiannya dengan hati gembira.

You May Also Like