Mandi air dingin, siapa yang masih terbiasa? Seorang kakak dulu pernah cerita bahwa alergi pagi harinya, bersin² terus ketika bangun, berhenti setelah ia membiasakan diri untuk mandi pagi dengan air dingin. Seorang guru yoga juga pernah memberitahu cara mandi yang lebih baik. Dalam arti, ga asal jebar-jebur atau langsung siram. Mulai dari tangan, kaki dulu untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan air maksudnya. Lalu ada peserta yang bertanya, "Kalaumandi pakai air hangat gimana?" Responnya masih aku ingat sampai sekarang, "Mandi air hangat itu untuk orang sakit!" Heeh.. ga pernah berpikir seperti itu, saking sudah biasa 😁
Belakangan, ketika program khusus di SD mulai direncanakan untuk digulirkan kembali, topik mandi air dingin ini kembali muncul. Program Khusus di jenjang SD, dimulai dari menginap di sekolah, sampai berkemah di alam. Meski yang terakhir ini format dan lokasi masih disesuaikan dengan kondisi pandemi, belum berkemah dengan tenda, agar jarak tetap terjaga. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah mandi air dingin. Tentunya karena tidak ada fasilitas pemanas air di sekolah ataupun di tempat menginap nanti. Sempat terjadi di angkatan terdahulu, ada anak yang jujur mengakui bahwa ia belum pernah sama sekali mandi air dingin. Lalu semua teman di kelasnya memandangi anak ini dengan tatapan heran. Jadilah hampir setiap hari setelah itu ia mendapat pertanyaan apakah sudah mencoba mandi air dingin 😄 Ketika anak-anak masih kecil, terbawa nasihat dokter anak untuk memandikan bayi dengan air hangat, aku pun sempat khawatir bila mereka harus mandi dengan air dingin, sampai khusus memasak air panas. Padahal mereka sendiri lempeng saja, lebih kuat dan berani malah.
Pernah mendengar cerita dari Gobind tentang Wim Hof, yang terkenal dengan sebutan Iceman. Ternyata mandi air dingin punya banyak dampak baik untuk tubuh. "There is a natural power healing in the cold" kata beliau. Mulai dari meningkatkan sirkulasi darah; seperti olah raga bagi sistem kardiovaskular, meningkatkan imunitas karena merangsang produksi leukosit, memperbaiki suasana hati dan bikin semangat karena memicu pelepasan hormon endorphin, membuat kulit dan rambut lebih sehat, dan lain-lain. Ini tantangan yang perlu dibuktikan sendiri. Tidak perlu seekstrimnya berendam di es, seperti yang dilakukan Wim Hof. Yang pasti lebih sehat, lebih segar, ditambah sisi lainnya, menghemat listrik atau gas juga..
pic: https://www.pexels.com/photo/black-shower-head-switched-on-161502/
Aku selalu mandi air dingin, jauh lebih segar & terasa lebih fresh ke badan...
Biar lebih hemat gas juga sih... hehehe
Kalau mandi air hangat, rasanya seperti orang sakit / sudah berusia tua... tidak segar ke badan..
Dan akhirnya anak2ku pun terbiasa selalu mandi dengan air dingin....
sepakat pak, mantap
Wim Hof memang luar biasa, Kak Ine. Dia sanggup mendaki gunung cuma bercelana pendek aja, nggak pake baju. Dan nggak kena hipotermia, tuh.
iya ya pak @ahkam dengan latihan nafas ya pak
Betul, Kak Ine, dengan latihan napas dan kebiasaan berendam di air dingin itu juga.