Hari ini kami berbincang tentang atomic essay, dalam kaitannya dengan slogan Aki Muhidin yang menjadi pegangan Smipa, tahapan belajar dari mulai nyaho, ngarti, bisa, tuman dan ngajadi. Dalam kaitannya dengan literasi diri dan semesta, dengan doing & being, dengan tahapan perkembangan, dengan esensi pendidikan, dll.
Banyak dari kita sudah paham dan bersepakat tentang pentingnya literasi. Terutama kemampuan menyimak dan membaca. Sehingga tak sekedar ada dan menjalani hidup setiap hari. Tapi memahami lebih dalam berbagai hal yang terjadi, di hadapan sekaligus di dalam dirinya. Lalu bagaimana dengan menulis dan bicara? Ternyata tak kalah penting. Idealnya terangkai dengan atau saling mempengaruhi dengan kemampuan menyimak dan membaca. Sebagaimana konsep Output=Input. Upaya mengamati dan membaca sekitar, ataupun membaca secara harafiah, mengenali diri, mengasah kepekaan pada respon yang muncul dari stimulan yang kita lontarkan, membuat kita lebih nyaho dan ngarti.
Selanjutnya, apa yang dilakukan dengan pengetahuan dan pemahaman itulah tampaknya yang membuat perbedaan. Menjadi bisa mungkin dengan menerapkan di kelas, semisal mengolah kegiatan mengisi jurnal. Tentunya akan lebih mengena dan juga dipahami manfaat dan kepentingannya bila kita sendiri juga melakukan hal itu. Menulis mengasah kemampuan mengungkap berbagai hal yang telah kita pahami. Ini seperti sebuah siklus yang perlu terus digenapi supaya ngajadi. Dan dalam prosesnya, menulis secara rutin mengasah kemampuan refleksi, olah emosi juga menata dan menetralkan diri.
Hal lain yang menarik dari bincang siang tadi adalah mengenai ruang ririungan itu sendiri. Banyak cerita mengenai paparan tanpa sekat di dunia maya. Dengan paparan yang tak lagi jelas apa untuk siapa / usia mana. Asal menjadi topik yang trending, besar kemungkinan akan muncul di depan layar anak segala usia. Seolah anak dihadapkan pada bermacam hal tanpa filter. Bisa jadi sebelum tahapan kematangan berpikir dan menimbangnya genap dijalani, dan kerap tanpa dampingan yang cukup. Dalam hal ini, ririungan menawarkan ruang untuk mengeksplorasi ruang maya dengan batas yang lebih jelas. Tak seterbatas hingga tersekat antar jenjang usia atau peran; sebagai anak, fasilitator, orangtua atau alumni. Namun ada benang merah dari semua yang ada di dalamnya, yang tak dijumpai di media sosial lain; ruang belajar bersama. Pamungkas dari ka Andy, bahwa kita memiliki kesadaran untuk menuang apa yang ada dalam diri, dan dengan kesadaran pula kita membaca apa yang tertuang di sini. Belajar untuk berani sekaligus punya pertimbangan dalam mengungkap keping diri untuk dibaca orang lain, bukan semata untuk jumlah jempol, komen atau pengikut. Sekaligus mendapat paparan yang beragam tentang cara mengungkap, gaya bahasa, topik-topik tulisan dari lingkup orang-orang yang saling kenal.
foto jepretan Riyanti Wisnu Putri