Koordinasi pleno hari ini agak berbeda, khususnya di kegiatan pembuka dan penutup. Didukung cuaca cerah semenjak pagi, kedua kakak yang bertugas mengajak kami berkumpul di pendopo. Dimulai dengan ajakan hening dalam sikap shavasana, pose relaksasi yang biasa dilakukan di akhir latihan. Dengan latar musik tenang sesuai suasana. Apa rasanya? Enak laaaah.. Hampir semua ingin lanjut.. Terapis bilang berbaringlah pada alas keras, 10 menit setiap akhir hari. Ini akan sangat bermanfaat untuk membantu tulang belakang beristirahat setelah seharian menopang tubuh dan sikap²nya yang belum tentu baik. Meski pada awalnya biasanya sakit atau tidak nyaman dulu memang, karena pose ini mengembalikan ruas demi ruasnya ke posisi yang semestinya. Oops oot.. mari kembali ke sore kemarin. Selesai pembahasan semua agenda, untuk kegiatan literasi hari ini kakak mengajak kami memasuki "Mesin Waktu Penyelam Masa Lalu". Kami diminta melihat kembali postingan pertama Instagram masing². Lalu menuliskan refleksi tentang postingan tersebut. Dibandingkan dengan situasi atau sudut pandang saat ini. Seru ternyata, sungguh seperti memasuki mesin waktu. Menengok kembali dan menuliskan postingan pertama di media sosial mengundang ingatan lama, mendorong diri bercermin, apa yang berubah, apa yang aku rindukan saat ini, apa yang berharga untukku saat itu.
Aku sendiri, karena tidak banyak mengunggah, masih dapat mengingat postingan pertamaku. Sebuah foto karya anak-anak tahun 2014, berjudul "Always a Masterpiece". Dalam hal ini tidak banyak yang berubah. Aku masih penggemar berat karya buatan anak-anak, Terutama dalam proses dan kebebasan berpikir mereka. Tak pernah salah, selalu indah dan ajaib.
Semua kakak tampak khusyuk menulis cerita tentang kala itu, dibandingkan dengan saat ini. Kakak-kakak adalah pencerita yang pandai dan asyik. Kakak di sebelahku malah bisa menulis hingga bolak-balik pada kertas bekas berukuran A6 yang disediakan, dalam waktu yang diberikan. Berkesan sekali tentunya. Hal ini terkonfirmasi saat ia membagi ceritanya pada semua yang hadir. Pun demikian dengan cerita kakak-kakak lain yang bersedia berbagi. Tentang diri saat itu (tentunya sebelum viralnya swafoto itu ya..), tentang lingkar pertemanan di masa itu, tentang sebuah proses yang membangunkan diri, tentang perjalanan dengan orang terdekat, dll. Sangat terasa keunikan dari setiap kakak 😊 terima kasih ka Maul dan ka Sizi..