Ketika mengendara di daerah sekolah, atau jalan lain di kota Bandung, yang ruas jalan pas-pasan untuk mobil, cukup sering melihat ibu-ibu atau bapak-bapak berjalan bersama anaknya yang masih kecil. Digandeng sih, tapi sementara si bapak atau ibunya melenggang di sisi dalam yang lebih aman, si anak berada di sisi jalan. Anehnya, kok ga merasa perlu bertukar posisi ya, menjaga anaknya dari kemungkinan terserempet kendaraan..
Memang jalan di kota ini ga selalu ada trotoar. Kalaupun ada, ya seadanya. Seolah sekadar untuk syarat, bukan untuk jalan. Yang pernah jalan kaki sepanjang jalan² kota tentunya tahu rasanya. Dibuat dengan ketinggian, tapi tanpa pertimbangan kewajaran undakan. Jadi di setiap jalan keluar masuk rumah demi rumah, perlu turun sejajar jalan, lalu naik trotoar lagi. Itupun tidak rata, kadang sudah hancur, atau rusak. Perlu waspada juga karena bisa tiba-tiba ada lubang menganga, bekas galian yang ditinggal begitu saja. Belum lagi kalau trotoar dipakai untuk ngetem pedagang. Seringkali orang lebih memilih atau terpaksa berjalan di badan jalan. Intinya sangat tidak ramah untuk pejalan kaki. Apalagi berjalan bersama anak kecil.
Mungkin orangtuanya tidak merasa perlu atau menyadari perlunya memposisikan diri untuk menjaga anak saat berjalan di trotoar. Namun pada anak juga perlu dibangun kemampuan membaca lingkungan, kepekaan terhadap sekitar. Bukan supaya jadi parnoan, tapi supaya mampu menempatkan diri dengan baik, juga untuk keamanan orang lain. Mengajak anak berjalan keluar lingkungan amannya menjadi penting, agar anak tahu perbedaan situasi dan mampu membawa diri.
Biasanya di sekolah ada program yang disebut Leumpang ka Sakola (Leukas). Tak hanya mengajak anak berjalan kaki ke sekolah dari titik kumpul yang relatif dekat, diharapkan menjadi kesempatan untuk anak sesekali membaca lingkungan luar sekolah. Kakak kelas dan kakak dari jenjang yang lebih besar berjalan di sisi luar, menjaga dan memastikan adik di sebelahnya tidak sampai terkena kendaraan yang sedang melaju di badan jalan. Kadang sambil mengobrol, anak dari jenjang yang berbeda lebih saling kenal. Jadi bonus yang menyenangkan tentunya.
Photo by Anete Lusina: https://www.pexels.com/photo/crop-black-man-with-son-holding-hands-strolling-on-roadway-5240511/
Iya kak. Dulu saya sering berhenti, buka jendela dan ngasih tau orang tua yang begitu. Seringkali saya dipelototi dan mereka tidak peduli, ada yang langsung merespons dengan tukar posisi. Yang penting saya melakukan itu untuk kebaikan mereka, soal respons saya tidak peduli. Pokoknya saya sudah melakukan sesuatu menurut nurani.
wah baik amat pak Jo.. kalo memungkinkan saya juga kasih tau pak. masalahnya saya suka deg-degan sendiri liatnya, padahal orangtuanya nyantai aja atau ga peduli hehe