Kalau sudah punya SIM, hati-hati jangan sampai kelewatan perpanjang masa berlakunya sebelum kadaluarsa. Panjang urusan! Akhir Mei lalu seharusnya masa berlaku SIM aku berakhir. Tapi aku baru ngeh saat sedang menyetir di tol dalam kota Jakarta. Ya sudah, ketika kembali ke Bandung aku segera mengurusnya. Mengaktifkan SIM yang sudah kadaluarsa artinya ikut prosedur bikin SIM baru. Sony udah bilang, minta diurusin aja, biar tahu beres, karena ribet mesti ikut ujian dari awal. Tapi aku penasaran ingin tahu bagaimana prosedur yang resmi. Lagipula, waktuku cukup luang. Jadilah aku mengurus pembuatan SIM baru tanpa “nembak”.
Baru datang, aku disapa petugas di pos, karena saat itu kantor belum buka, masih beberapa menit menuju buka. Tak disangka langsung dikasih opsi mau ngurus sendiri atau “dibantu” hahaha… Setelah cek kesehatan (TB, BB, tes buta warna), tes psikologi, mulailah rangkaian administrasi di loket-loket. Cukup cepat sebenarnya. Yang agak lama itu waktu tunggu sebelum tes teori, karena menunggu peserta cukup. Tes teori aku lulus, tidak terlalu cemerlang, karena pergantian soal cukup cepat, tidak bisa mengulang, dan di satu sesi aku bingung membedakan antara “mengurangi kecepatan” dan “menginjak rem”. Jadi soal-soalnya itu diberikan contoh kasus berkendara di jalanan dan kita diminta untuk memilih respon yang tepat. Ah yang penting lulus.
Berikutnya adalah tes menggunakan simulator. Kupikir simulasi menyetir pakai simulator, tapi ternyata bukan. Ini adalah semacam tes konsentrasi. Tapi tak semudah itu melaluinya ternyata. Meskipun sudah punya pengalaman menyetir 25 tahun, tidak lantas lancar melalui tes ini. Konyol juga sih, karena menurutku ini bukan prediktor seseorang mampu mengemudi dengan baik atau tidak. Juga tidak menggambarkan realitas mengemudi di lapangan sesungguhnya. Percobaan pertama tentu saja gagal dengan sempurna. Dari maksimum 4x tabrakan, aku melakukan 27x tabrakan. Tapi aku merasa ini sepertinya doable bisa jika aku rajin menggunakan mesin simulator itu dan berlatih setiap hari. Untungnya aku masih boleh menyetir dengan berbekal surat hasil ujian yang menandakan dalam proses pengurusan. “Kalau ada pemeriksaan, kasih lihat saja suratnya,” kata petugas polisi di sana.
Setelah percobaan kedua beberapa minggu berikutnya aku masih gagal, akhirnya ada teman yang memberi tautan video di Youtube tentang simulasi ini. Setelah menonton berkali-kali, aku ngerti cara kerjanya. Namun masalahnya, di simulator aslinya, kecepatan putar lingkarannya lebih tinggi. Percobaan berikutnya aku pun masih gagal. Plus kalau sudah sekali menabrak, bunyi notifikasinya bikin makin tegang, jadi mendorong terjadinya tabrakan- tabrakan selanjutnya 😂
https://youtu.be/xAHOFazj7TM?si=0KI6EyOg6TDNsn7u
Menurutku ini sebenarnya mengasyikkan juga sih, seperti game. Jadi tiba-tiba aku terpikir, jangan-jangan ada gamenya di Play store. Kucarilah… dan ternyata ada! Wah senang sekali aku jadi bisa latihan. Dengan beberapa kali latihan, akhirnya aku cukup bisa menguasai. Berkali-kali aku bisa menyelesaikan 1 menit tanpa terjadi tabrakan sama sekali. Sayangnya tak ada opsi menaikkan kecepatan putar. Di game tetap lebih lambat putarannya.
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.WeNoBhy.UjianSimA2
Tapi entah kenapa aku mulai malas pergi ke kantor polisi untuk meneruskan proses. Selalu kutunda-tunda. Mungkin karena merasa punya “surat sakti” sebagai pengganti SIM. Hingga akhirnya surat itu sudah lecek banget dan hampir sobek di bagian yang terlipat. Khawatir jadi masalah dan mesti ulang semua proses dari awal, aku segera mengunjungi kantor polisi lagi. Ternyata muscle memory yang sudah kudapat dari hasil latihan di game tidak berlaku saat menghadapi setir di simulator. Juga putaran lingkaran yang lebih cepat. Hasil ujian ke-3 ku tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Setelah mendapatkan surat keterangan yang baru, aku cukup lega. Setidaknya kertasnya baru lagi. Gagal sudah jadi hal biasa bagiku. Entah sampai kapan aku akan melakukan ritual ke kantor polisi ini. Apakah aku akan menyerah dan menempuh jalan ilegal namun cepat? Aku juga belum tahu. Kita lihat saja nanti. Sejauh ini, aku masih bisa bertahan dengan selembar surat keterangan. Kalau bisa dibuat sulit, kenapa harus dibuat mudah? 🤣
--
Post berikutnya:
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7969/aes031-kepatuhan-vs-kesadaran
Kalau kata orang bule, simulatornya sudah di-rigged, biar peserta gagal terus dan terpaksa memilih untuk "dibantu" hehehehe