Sosok yang pertama kali saya temui ketika sampai di PPM Gambung adalah Pak Vinan, ya pemilik PPM Gambung itu sendiri. Ada rasa khawatir dikarenakan saya hanyalah kakak magang dan baru pertama kali bertemu beliau, maka percakapan tidak akan mengalir dengan baik. Namun saya salah sangka, ternyata Pak Vinan adalah sosok yang cair dan santai.
Sebelum percakapan saya mencoba menganalisa terlebih dahulu PPM Gambung ini. Sebuah tempat yang sangat ideal bagi orang yang ingin tinggal di daerah pedesaan dan fokus bertani. Saya lihat desain bangunan cukup modern yang pastinya dipikirkan dan dibangun bersama arsitek sehingga hasilnya terlihat sangat rapih. Lagi-lagi terbesit praduga negatif bahwa Pak Vinan, seperti kebanyakan orang kota, hanya membeli tanah di desa untuk rekreasi tanpa berinteraksi. Tentu praduga ini pun terbukti salah setelah saya mengobrol dengan beliau.
Beberapa kali beliau ikut mendengarkan sesi evaluasi kegiatan live-in di malam hari. Saya kira beliau tidak mendengarkan, namun di satu momen beliau ingin ikut menyampaikan pendapatnya dan tentunya kami persilahkan. Beliau bilang bahwa sangat penting untuk mendengarkan orang yang berbicara siapapun itu tanpa melihat latar belakang pendidikan atau hidupnya. Ini adalah hal kecil yang bisa merubah suasana seketika.
Teringat sebelum sesi evaluasi ini beliau pernah bercerita bahwa dia dulu sering meremehkan orang yang dia ajak bicara hanya karena latar belakang yang dinilai beliau tidak mumpuni. Tapi beliau tersadar bahwa hidup ini bukanlah hanya tentang dirinya sendiri, kita harus bersosialisasi dan ketika kita sadar akan hal ini, maka siapapun yang berbicara pasti tidak akan kita remehkan. Terbukti ketika kita bisa menghargai orang lain bicara, semua pembicaraan ada maknanya.
Keesokan harinya Pak Vinan menyempatkan diri lagi untuk ikut di sesi evaluasi kegiatan workshop, di mana ada sedikit masalah perihal menerima peserta dan cara berbaur. Saya langsung coba melemparkan pertanyaan perihal pengalaman Pak Vinan berbaur dengan warga. Tidak disangka cerita berbaur Pak Vinan membawa saya dan yang lainnya ke kejadian 1998 di mana suasana cukup mencekam untuk warga keturunan etnis Tionghoa.
Bersambung ke bagian 2... https://ririungan.semipalar.sch.id/maulrest/blog/4013/aes011-pak-vinan-bagian-2